Tampilkan postingan dengan label KRIMINAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KRIMINAL. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2012

Gadis Korban Eksploitasi Seks Cenderung Kriminal

Headline
 Penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak gadis yang pernah menjadi korban eksploitasi seksual cenderung menjadi pelaku kriminal.
Mereka melakukan kejahatan karena bingung mencari pertolongan dan berpikir tidak akan dituntut secara hukum. Seperti laporan penelitian yang dirilis Selasa (10/7) dan dikutip dari huffingtonpost.
Jo Phoenix, seorang profesor Kriminologi di Durham University, yang melakukan penelitian, mengatakan, "Saya pikir di mana kita sedang berhadapan dengan anak-anak kita perlu pemerintah untuk mengirim pesan yang sangat jelas, sangat kuat bahwa tidak boleh ada kriminalisasi perempuan yang dieksploitasi secara seksual. Kita seharusnya tidak membutuhkan mereka untuk mengatakan bahwa mereka menjadi korban," katanya.
Frances Crook, chief executive kampanye Liga Howard, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa anak perempuan yang dieksploitasi secara seksual "bisa melakukan kejahatan karena bingung mencari pertolongan."
"Mereka, misalnya, akan mengutil di depan penjaga keamanan untuk kemudian ditangkap,” ujarnya.
Laporan ini diharapkan bisa menjadi acuan bahwa anak perempuan yang mengalami eksploitasi seksual seharunya diperlakukan sebagai korban, sehingga mereka bisa mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan, bukannya digolongkan sebagai penjahat kecil.
Laporan tersebut menyerukan dukungan lebih untuk anak perempuan.
Ini memberikan argumen lembaga peradilan pidana juga harus "Lebih canggih dan harus memperkenalkan lebih banyak pelatihan untuk memungkinkan perempuan dirujuk ke layanan yang lebih tepat."

Minggu, 20 Mei 2012

Sembunyikan Gadis Belia, Pemuda Disergap Polisi

Petugas Polres Buleleng, Bali, menyergap seorang pemuda berinisial DPA saat menyembunyikan gadis belia di rumah kosnya di Jalan Kepundung, Singaraja.
Headline 
"Kami menangkap pemuda berusia 19 tahun itu beberapa saat setelah menerima laporan dari orang tua korban," kata Kepala Sub-Bagian Humas Polres Buleleng AKP Nyoman Widastra di Singaraja sebagaimana dikutip ANTARA, Minggu (20/5/2012).

Dia menuturkan bahwa gadis berusia 16 tahun berinisial PDC meninggalkan rumah kosnya di Jalan Srikandi, Singaraja, sejak Jumat (18/5) malam.

Peristiwa itu berawal dari niat orang tua korban, Gede Arsana (39), warga Jalan Pulau Moyo, Denpasar, untuk mengajak korban ke rumah kakeknya di Desa Anturan, Kecamatan Buleleng.

Namun saat dijemput kakeknya, korban sudah tidak ada di rumah kosnya. Dari teman korban, kakek tersebut mendapat informasi bahwa PDC telah pulang ke Desa Anturan.

Hingga tengah malam, korban tak juga pulang ke Desa Anturan. Padahal Gede Arsana sudah sampai di rumah kakeknya itu.

Ayah korban mendapat kabar dari teman korban lainnya bahwa PDC sejak Jumat (18/5) pagi dijemput seorang pria berinisial DPA dari rumah kosnya.

Gede Arsana melaporkan ulah DPA itu ke Mapolres Buleleng. Dalam tempo relatif singkat, petugas menyergap DPA di rumah kosnya di Jalan Kepundung, Singaraja, yang saat itu sedang berduaan dengan korban. [yeh]

Jumat, 18 Mei 2012

Polsek Simanindo tangkap 2 warga


Menang ketagihan, kalah penasaran. Demikian komentar seorang warga, F. Rumahorbo, warga Desa Garoga, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, tentang maraknya judi togel di kecamatan itu.
Menurut F. Rumahorbo, apa yang ia sampaikan itu berdasarkan pengalamannya yang pernah memiliki tempat bermain judi, sekaligus ia sering bermain judi beberapa tahun lalu.
“Memang efek judi tidak langsung secara nyata merusak masyarakat. Tapi apa yang pernah saya alami, pengusaha judi memang bisa kaya-raya, sedangkan pemain judi cenderung melarat,” kata F. Rumahorbo kepada Koran Tapanuli Online, 15 Mei 2012. Ia berharap agar judi diberantas.
Belum sempat terpublikasi di Koran Tapanuli Online apa yang disampaikan F. Rumahorbo, pihak Polsek Simanindo sudah menangkap 2 orang penjudi togel, T. Sidabutar (28), warga Desa Parsaoran, dan J. Simbolon (40), warga Desa Tomok, 16 Mei 2012 pukul 15.00. Polres Samosir langsung menginformasikan tentang penangkapan kepada kalangan pers pukul 16.00.
Menurut keterangan Kapolsek Simanindo AKP Eko Harahap, T. Sidabutar ditangkap di Desa Martoba saat dia mengumpukan rekap nomor togel dari para tukang tulis. Sedangkan J. Simbolon ditangkap di Desa Tomok saat mengantarkan rekap yang dikumpulkan dari daerah Sigarantung di kawasan Desa Tomok.
Operasi razia togel yang dilakukan Polsek Simanindo itu dibagi dalam dua tim, dipimpin langsung oleh Kapolsek dan Kanit Serse Aiptu B Manurung.
Kedua pejudi togel yang tertangkap itu diproses dan ditahan di Polsek Simanindo. Polisi akan terus melakukan pengembangan kasus tersebut untuk memberantas judi di daerah Simanindo, kata Kapolsek Simanindo AKP Eko Harahap kepada situs Koran Tapanuli Online.
sumber:korantapanulionline

Rabu, 02 Mei 2012

Sebelum Tewas Mahasiswi UIN Diperkosa

Headline
 Polres Kabupaten Tangerang menggelar rekontruksi kasus pembunuhan terhadap mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah, Izzun Nahdiiyah (24). Dari hasil rekontruksi diketahui sebelum dibunuh, para pelaku memperkosa mahasiswi itu secara bergilir di atas motor.
Dalam rekontruksi itu, diketahui jika enam tersangka yakni Muhammad Soleh alias Oleng, Noriv, Endang alias Dono, Jarsip alias Jarkem, Candra dan Oreg, dengan mengunakan tiga motor membawa korban ke lokasi pembunuhan di Jalan Pemda DKI, Desa Ciangir, RT 02 RW 02, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.
"Kemudian dari hasil rekontruksi terungkap jika empat dari enam tersangka memperkosa korban secara bergiliran di atas motor yamaha mio B 3117 NNX. Pemerkosaan dilakukan oleh Soleh, Endang, Noriv dan Candra, atas perintah dari Soleh alias Oleng, yang merupakan kekasih korban," jelas Kapolres Kabupaten Tangerang Kombes Bambang Priyo Andogo, Senin (1/5/2012).
Usai melampiaskan nafsu bejatnya, Oleng kemudian memerintahkan Candra dan Endang mengambil batu kali di pinggir jalan. Atas perintah Oleng, Candra dan Endang memukul kepala belakang Izzun satu kali secara bergantian. Karena pukulan tersebut, Izzun jatuh tersungkur di jalan.
Selanjutnya, Oleng mengambil sebilah golok yang telah ia siapkan di bawah jok motor Yamaha Mio. Oleng kembali memerintah kelima rekannya untuk memegangi Izuun. Tersangka Oreg memegangi pinggang korban, Noriv memegang tangan kiri, Jarsip dan Endang memegang kaki kiri dan Candra memegang kaki kanan korban. Hingga akhirnya Oleng menggorok leher korban hingga tewas.

Setelah korban tewas, Oleng mengangkat tubuh korban ke rerumputan di pinggir jalan. Lalu mereka langsung pergi meninggalkan korban dengan sepeda motornya. "Di adegan tersebut tersangka Oleng telah menyiapkan golok yang dia sembunyikan di bawah jok motornya. Jadi mereka telah melakukan pembunuhan berencana," ucapnya.
Kapolres menambahkan dari hasil rekontruksi ini diketahui, jika sebelum dibunuh korban diperkosa dua kali yakni di rumah pelaku Oleng dan di atas motor di lokasi pembunuhan. "Berdasarkan rekonstruksi, diketahui perkosaan tidak hanya terjadi di rumah Oleng," tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Soleh tega membunuh korban yang merupakan pacarnya sendiri, karena kesal saat korban menanyakan keberadaan laptop milik korban yang telah dijual oleh pelaku.

Pelaku kemudian membunuh korban, dan mayat korban ditemukan pada 7 April lalu dengan kondisi mengenaskan dengan luka leher nyaris putus.Ciri-ciri korban adalah mengenakan jilbab putih, celana hitam, baju hijau dengan dalaman kaus loreng.

Polisi sempat kesulitan mengungkap identitas korban, karena pada saat ditemukan tak ada identitas sama sekali. Setelah 10 hari teronggok di kamar jenazah RSUD Tangerang, barulah identitas Izzun terungkap setelah pihak keluarga mengenalinya.
Setelah sempat buron, akhirnya pada hari Jumat, Muhammad Sholeh alias Oleng (33), pelaku utama kasus pembunuhan dan pemerkosaan terhadap mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah itu menyerahkan diri ke Polres Kota Tangerang.[bay]
sumber:inilah.com

Selasa, 01 Mei 2012

Mayat perempuan di Pantai Lagundi, Hutahotang, Onanrunggu

Satu mayat perempuan tanpa identitas ditemukan di Danau Toba, antara Pantai Lagundi dan Hutasiampang, di Desa Hutahotang, Kecamatan Onanrunggu, Kabupaten Samosir, 28 April. Lokasi tersebut tidak jauh dari kawasan Namartua Sioma yang dikenal sakral oleh masyarakat setempat.
Mayat tersebut awalnya ditemukan oleh warga yang sedang memancing sekitar pukul 13.00. Polisi tiba di lokasi Pantai Lagundi pukul 16.30. Polisi berjalan kaki kurang lebih 2 km menuju tempat kejadian perkara (TKP) yang cukup jauh dari permukiman warga.
Mayat perempuan itu ditemukan terapung di Danau Toba. Tubuhnya dalam posisi tertelungkup dan tanpa pakaian, sekitar lima meter dari bibir pantai.
Polisi menggunakan perahu untuk mengevakuasi mayat itu, karena pinggiran danau yang terjal.
Menurut Kapolsek Onanrunggu AKP P. Simatupang, perempuan tersebut diperkirakan berusia 25 tahun sampai 30 tahun. Tinggi badannya kira-kira 150 cm, dan rambutnya sebahu.
Melihat kondisi mayat, polisi memperkirakan ia sudah tiga atau empat hari mengapung, karena sebagian besar kulitnya sudah terkelupas.
Menunggu dilakukannya identifikasi, polisi masih menitipkan mayat itu di Rumah Sakit Umum Hadrianus Sinaga, Pangururan.
Polisi Sektor Onanrunggu menyampaikan, jika ada warga masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga supaya melihat jenazah perempuan itu di RSUD di Pangururan.
sumber:koran tapanuli online

Minggu, 29 April 2012

Siswi SMA diancam dengan pisau oleh Jefry Marbun untuk diperkosa

Jefry Marbun sehari-hari dikenal bersikap baik. Tapi ia menarik siswi SMA ke semak-semak untuk diperkosa. Korban diancam dengan pisau. Siswi itu melawan dan berhasil merebut pisau dari tangan Jefry.
Jefri Marbun foto
Jefri Marbun di Polres Samosir. Foto Hayun Gultom
Jefry Marbun (35) ditahan di Polres Samosir karena tindak pidana percobaan pemerkosaan terhadap pelajar kelas II SMA berusia 17 tahun pada 27 April kemarin sekitar pukul 18.00 di semak-semak dekat perkantoran Pemerintah Kabupaten Samosir di Parbaba, Desa Parbaba Dolok, Pangururan.
Polisi mengatakan kepada wartawan, Jefry Marbun adalah warga Jln. Flamboyan, Helvetia, Medan. Ia berkerja di salah satu rumah makan di Parbaba, Kabupaten Samosir.
Menurut polisi, saat Jefry sedang duduk bersama temannya, ia melihat seorang pelajar SMA sedang berjalan sendiri. Setelah beberapa menit, Jefry memperkirakan si korban sudah berada di lokasi yang sepi, lewat perkantoran Parbaba, Jefry pun mengikuti korban menggunakan sepeda motor.
Jefry Marbun menarik korban ke semak-semak sambil mengancam dengan pisau. Korban meronta dan menjerit, hingga beberapa bagian tubuhnya mengalami luka-luka tersayat pisau pelaku.
Siswi SMA itu berhasil merebut pisau dari tangan Jefry Marbun dan menikam pelaku pada bagian kepala.
Menurut warga di sekitar lokasi kejadian, korban terlebih dahulu memukul pelaku dengan batu.
Jeritan korban ternyata didengar salah seorang warga yang melintas dari jalan itu. Warga tersebut kemudian memberitahukannya kepada warga lainnya serta keluarga si korban. Mereka pun bergegas ke tempat kejadian dan masih sempat melihat pelaku memacu sepeda motornya untuk melarikan diri. Warga mengejar Jefry Marbun. Polisi yang menerima informasi juga ikut mengejar pelaku dan berhasil menangkapnya.
Orangtua korban dan warga membawa siswi SMA itu ke puskesmas di Desa Buhit, Pangururan, untuk mengobati luka sobekan pisau di kakinya.
Menurut orangtua korban, sore itu anaknya baru pulang dari acara Pramuka. Setiap hari anaknya berjalan kaki dari rumah ke sekolah yang berjarak sekitar 6 km.

Jefry Marbun rajin bekerja dan bersikap baik

Menurut pemilik rumah makan di mana “pemerkosa” ini bekerja, Jefry Marbun termasuk berperilaku baik dan rajin bekerja. Awal kedatangan Jefry dari Medan ke Samosir adalah pada saat pembangunan perkantoran di Parbaba. Jefry bekerja sebagai tukang pada proyek Balai Latihan Kerja, bahkan ia sempat menjadi kepercayaan pemborong.
Melihat kebaikan sikap Jefry Marbun, pemilik rumah makan menawarkannya pekerjaan. Sudah satu bulan ini ia bekerja di rumah makan itu, dan ia rajin bekerja.
Namun setelah sekarang Jefry Marbun ditahan Polres Samosir dalam kasus upaya pemerkosaan terhadap siswi SMA, pemilik rumah makan menjadi sangat kesal, emosi, dan malu. Ia sampai menangis menceritakan tentang Jefry di kantor polisi.
sumber:koran tapanuli online

Jumat, 27 April 2012

Kontraktor Happy Silalahi ditahan Polres Samosir

Pangururan, Samosir — Happy Silalahi, S.E., kontraktor proyek pengadaan mobil dinas Pemerintah Kabupaten Samosir, ditahan polisi. Ia memakai dana proyek untuk bermain judi di luar negeri. Sore ini mantan Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Samosir Maringan Simbolon juga diperiksa.
Koran Tapanuli Online melihat Happy Silalahi ditahan dalam satu sel bersama tiga tahanan lainnya, antara lain Amron Sitanggang—suami yang tiga hari lalu membunuh istrinya sendiri, Betty silalahi, karena masalah cemburu.
Happy Silalahi adalah pemborong yang tinggal di Pangururan. Ia pernah jadi peserta pemilu sebagai calon anggota DPRD Kabupaten Samosir.
Happy Silalahi diperiksa 25 April hingga pukul 00.00 dan langsung ditahan di Polres Samosir terkait dugaan korupsi dalam pengadaan empat unit mobil truk Dinas Perhubungan Kabupaten Samosir berbiaya Rp1,2 miliar. Dana proyek ini bersumber dari APBN tahun 2010.
Menurut Polres Samosir, kontraktor Happy Silalahi telah dijadikan sebagai tersangka. Empat unit truk juga telah disita polisi sebagai barang bukti, dan dititipkan di kompleks kantor Bupati Samosir.

Kontraktor beli mobil secara kredit, Pemkab bayar lunas

Pemborong Happy Silalahi dalam pemeriksaan polisi mengakui, dirinya telah menerima dana melalui Pemkab Samosir untuk pengadaan keempat truk tersebut. Tapi uang itu dipakainya untuk bermain judi di luar negeri. Ia menyesali perbuatannya.
Ia hanya membeli empat truk secara kredit dengan mengatasnamakan adiknya. Padahal seharusnya mobil truk itu dibeli dengan lunas.
Pihak perusahaan pemberi kredit mobil kemudian menagih cicilan empat truk tersebut dari Dinas Perhubungan Kabupaten Samosir, karena sudah menunggak lima bulan. Akhirnya ketahuan bahwa mobil itu dibeli secara kredit, dan Dinas Perhubungan pun melaporkan Happy Silalahi kepada Polres Samosir.
Iptu Lalu Musti Ali dari Polres Samosir kepada KoranTapanuli.com tadi sore, 26 April, di ruang kerjanya mengatakan, mantan Kepala Dinas Perhubungan Samosir Maringan Simbolon juga sedang diperiksa terkait dengan kasus empat truk ini. Maringan diperiksa di lantai II Polres sampai selesai pukul 17.25.
Keempat mobil truk itu telah sempat diberikan oleh Bupati Samosir kepada masyarakat untuk digunakan. Rupanya truk tersebut belum menjadi milik sah Pemkab Samosir, karena hanya dibeli secara kredit dan belum dilunasi oleh kontraktornya, Happy Silalahi.

Rabu, 25 April 2012

Polsek Siborongborong rekonstruksi pembunuhan Lina Napitupulu

Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara — Polsek Siborongborong merekonstruksi pembunuhan dan pemerkosaan Lina Napitupulu (40 tahun), janda beranak lima, yang dilakukan oleh SL (60 tahun). Setelah ditikam dengan pisau, Lina diperkosa dalam kondisi tidak bernyawa di kebun kopi di Desa Lumbaninaina, Kecamatan Pagaran, Kabupaten Tapanuli Utara.
KoranTapanuli.com | Kontributor Dewanto Hutasoit
Rekonstruksi dilakukan di halaman belakang markas Polsek Siborongborong tadi siang, 8 Maret 2012, dipimpin oleh Kapolsek Siborongborong AKP Agus Salim Siagian. Seratusan warga menontonnya, termasuk salah seorang anak Lina Napitupulu.
Tersangka pembunuh Lina, SL, adalah juga penduduk Desa Lumbaninaina, Kecamatan Pagaran, dan rumahnya hanya berjarak puluhan meter dari rumah korban. Menurut hubungan marga dalam adat Batak Toba, tersangka SL masih tergolong “ayah mertua” Lina.
Informasi yang diperoleh Koran Tapanuli Dotcom berdasarkan pengakuan SL kepada polisi dan rekonstruksi yang diperagakannya secara langsung, kasus ini bermula dari utang-piutang. Korban Lina Napitupulu, menurut SL, pernah meminjam uang Rp700 ribu darinya. Beberapa kali SL meminta agar uang itu segera dikembalikan, tapi Lina beralasan belum memiliki uang.
Hingga pada 10 Februari 2012, SL mendatangi Lina Napitupulu yang sedang berada di kebun kopinya, di kawasan hutan, agak jauh dari permukiman warga. Ia kembali meminta utang Lina itu, tapi tiba-tiba korban berteriak minta tolong. Tidak diketahui apakah karena ketakutan atau karena disakiti oleh SL. Kemudian SL mencekik leher Lina, dan beberapa kali menusuk pinggangnya dengan pisau.
Setelah tewas, tubuh Lina Napitupulu diseretnya beberapa meter. Lalu SL membuka celana korban dan memerkosanya.
Sesuai rekonstruksi di Polsek Siborongborong, SL menelantangkan tubuh Lina dan mengangkat salah satu kakinya ketika diperkosa. SL mengaku sampai orgasme.
Tersangka SL yang sudah berusia cukup tua itu mengatakan bahwa dia memejamkan matanya selama memerkosa tubuh Lina Napitupulu yang sudah tidak bernyawa.
Sesudah membunuh dan memerkosa, SL mengambil barang-barang milik Lina, seperti ponsel, termos air, dan wadah biji kopi. Selanjutnya baju dan semua pakaian korban dibuka dan dibuang. Tubuh Lina dibiarkan tergeletak di dekat kebun kopi itu. Sementara tersangka pergi menuju sungai untuk membersihkan tubuhnya sendiri.
Hari itu juga SL langsung melarikan diri ke Tangerang, Provinsi Banten. Menurutnya, istrinya tinggal di Tangerang. Satu minggu kemudian, 17 Februari 2012, polisi menangkap SL dan membawanya dari Tangerang ke Siborongborong. Kapolsek Siborongborong AKP Agus Salim Siagian dan anggotanya sendiri yang menjemput SL dari Tangerang.
sumber:koran tapanuli.com

“Maafkan aku, Leli,” kata Agustina setelah ditikam Leli

Tuktuk Siadong, Samosir — Pembunuhan Agustina Tarigan. Korban kerap memaki Leli. Setiap Leli “masuk kamar” dengan lelaki hidung belang, Agustina memotong penghasilan Leli Rp80 ribu.
Agustina Leli Pembunuhan
Leli tikam Agustina Tarigan (diperankan)
Itu terungkap dari rekonstruksi yang dilakukan Polres Samosir pada 24 April 2012 atas kasus pembunuhan Agustina oleh Leli di dalam diskotek Tumba (bukan di teras diskotek seperti diberitakan sebelumnya), Kelurahan Tuktuk Siadong, Kabupaten Samosir, 7 Maret 2012.
Nama lengkap korban adalah Agustina Kiswanti Tarigan (38), bukan Agustina kristiani Tarigan seperti disebutkan polisi dalam berita media pers, termasuk Koran Tapanuli Online, beberapa waktu lalu. Si pembunuh bernama Zahara (26), tapi lebih dikenal sebagai Leli.
Leli baru bekerja di diskotek Tumba, sedangkan Agustina sudah lebih dulu. Leli mengaku sering “dipakai” oleh pengunjung, dan biasanya dipesankan melalui Agustina.
Leli mulai tidak senang setelah Agustina sering berbicara kasar sambil meminta uang darinya. Tidak tahan, Leli pindah kerja ke Cafe Brando yang jaraknya cuma satu kilometer.
Tapi Agustina Kiswanti Tarigan masih sering menelepon Leli, terutama untuk urusan melayani lelaki hidung belang, dan tetap berbicara dengan kasar.
Dendam Leli memuncak saat Agustina Kiswanti Tarigan memaki-makinya dengan kata-kata:
Babi kau! Anjing kau! Lonte! Kubunuh kau nanti!”
Suatu hari di bulan Maret, Leli dan tujuh temannya datang ke diskotek Tumba sekitar pukul 01.00 tengah malam. Saat teman-temannya memesan minuman, Leli keluar dan bertemu dengan Agustina di teras diskotek itu.
“Kenapa kaumaki-maki aku?” kata Leli.
“Aku lagi mabuk,” jawab Agustina.
Seorang karyawati Tumba mendekati Leli dan mengajaknya kembali ke dalam diskotek. Leli dan teman-temannya pun minum. Agustina sendiri menyusul masuk.
Kepada teman-temannya, Leli berkata,
Mau kubunuh si Agustina, dan siapa yang melihat akan kubunuh juga!”
Rupanya kekesalan hati Leli belum reda. Ia kembali mendatangi Agustina Kiswanti Tarigan di meja bartender. “Agustina, kenapa kaumaki-maki aku?” kata Leli, sambil memegang bahu Agustina.
“Nggak tahu. Aku lagi mabuk,” jawab Agustina.
Agustina kemudian naik ke lantai II menuju kamarnya. Leli mengikutinya dari belakang. Saat Agustina membuka pintu kamar, Leli menarik tangannya dan berkata, “Ke sini dulu, aku mau ngomong.”
Sambil merangkul tubuh Agustina, Leli mengambil pisau dari tasnya. Agustina beberapa kali menepiskan tangan Leli. Keduanya bergumul, dan akhirnya mereka terjatuh dari tangga. Leli dan Agustina terkapar di lantai.
Pisau Leli telah tertusuk di perut Agustina. Leli sempat ketakutan melihat darah yang keluar dari perut Agustina. Ia mencoba untuk lari, tapi Agustina memegangnya dan menjerit minta tolong. Agustina masih mampu berdiri.
Kemudian Leli menusukkan pisaunya ke bagian lambung kanan Agustina. Leli semakin beringas. Ia menusuk punggung Agustina tiga kali, selanjutnya kepala dan wajahnya.
Korban, Agustina, terduduk dengan tubuhnya yang penuh darah. Ia tidak melepaskan pisau Leli. Kedua tangannya, meski terluka, terus memegangi pisau itu.
Dua lelaki teman Leli mendekat. “Jangan sentuh aku!” kata Leli. Kedua lelaki itu pun segera pergi.
Ketika Leli hendak menarik pisaunya dari tangan korban, Agustina masih terus berusaha untuk tidak melepaskannya, dan mengucapkan kata maaf kepada orang yang telah menikam dirinya itu:
Maafkan aku, Leli.”
Usai mengucapkan kata maaf, tangan Agustina pun terlepas dari pisau Leli.
Leli pergi ke pantai. Ia mencuci pisaunya dan membuangnya ke semak-semak, lalu kembali ke tempat kerjanya Cafe Brando.
Ditanya Koran Tapanuli Online setelah rekonstruksi, Leli mengatakan, pukul 02.00 hari itu ia mendengar kabar dari temannya bahwa Agustina Kiswanti Tarigan sudah meninggal. Kemudian Leli meninggalkan Brando. Ia mengaku bersembunyi di semak-semak sampai subuh. Pukul 06.00 ia pergi ke Pangururan, selanjutnya menuju Medan. Terakhir Leli bersembunyi di Pematangsiantar hingga ditangkap polisi 22 Maret.
sumber:koran tapanuli online

Selasa, 24 April 2012

Betty Silalahi hamil, dibunuh suaminya karena cemburu

SuamiCemburuAmronSitanggangParbaba, Pangururan — Betty Silalahi tewas dibunuh oleh Amron Sitanggang, suaminya sendiri, karena rasa cemburu, sore hari tadi, 23 April 2012.
Bercak darah masih tampak jelas di kaus putih dan celana jeans yang dipakai Amron Sitanggang (38) ketika ia sedang diperiksa anggota Polres Samosir di Pangururan. Amron membacok istrinya Betty Silalahi (36) yang sedang hamil tujuh bulan.
Istrinya saat itu sedang berada di ladang sekitar pukul 16.00. Ia sedang duduk beristirahat saat Amron membacoknya dengan memakai sebilah golok.
Saat diperiksa di ruang Serse Polres Samosir, Amron Sitanggang memperagakan empat kali dia membacok Betty Silalahi.
Amron, warga Desa Huta Bolon di kawasan Pasir Putih Parbaba, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, kepada polisi mengaku bahwa dirinya membacok istrinya itu karena perasaan cemburu. Namun dia tidak menceritakan cemburu terhadap siapa.
Usai membacok, Amron meninggalkan istrinya begitu saja di ladang. Warga sekitar melihat Betty Silalahi yang telah berlumurah darah, lalu membawanya ke rumah sakit DR. Hadrianus Sinaga di Pangururan. Dokter berupaya untuk menyelamatkan nyawanya, tapi tidak tertolong lagi. Bahkan bayi dalam kandungannya yang berusia tujuh bulan juga meninggal.
Ada warga yang sempat melihat Amron Sitanggang berkata-kata sambil berjalan usai membacok istrinya, 
Boasa dohononmu tallikonhu inantakku.”
Artinya, “Kenapa kamu menyuruhku membacok istriku.” Menurut warga, kalimat itu diucapkan Amron beberapa kali. Tidak jelas kepada siapa dia mengatakannya, tampak seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
Menurut keterangan warga desa, sehari-hari Amron Sitanggang cukup sayang kepada istrinya. Amron dan Betty telah memiliki dua orang anak.
Warga mengatakan, Amron pernah meminum racun pada akhir tahun 2011 lalu. Warga juga mengatakan, sering ada “bisikan” kepada Amron.
Saat diperiksa oleh anggota Reserse Polres Samosir Briptu B.T.M. Sihombing, Amron kadang terlihat agak bingung. Polisi beberapa kali mengulang pertanyaan karena Amron sulit menjawab.
sumber:koran tapanuli oline