Tampilkan postingan dengan label kisah kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah kehidupan. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Mei 2012

Kisah Blogger Rusia yang Selamat dari Sukhoi


 Sergey Dolya sungguh beruntung. Wartawan dan sekaligus blogger asal Rusia itu ikut dalam penerbangan pesawat Sukhoi yang nahas Rabu 9 Mei 2012, pekan lalu. Tapi dia cuma itu dalam joy flight yang pertama. Dia membatalkan niatnya untuk ikut pada penerbangan kedua. Dia kemudian mengisahkan pengalamannya lewat blog Live Journal.
Kisah Sergey Doyla ini ramai di tulis media massa Rusia. Blog ini kemudian sangat populer di Rusia sesudah kecelakaan Sukhoi di Gunung Salak itu.
"Saya banyak bepergian dan memotret," tulis Sergey Dolya dalam blog itu.

Ketika pesawat malang SSJ 100 terbang kali kedua, Dolya memilih tidak ikut. Dia memutuskan untuk tetap  tinggal di Lanud Halim untuk memotret pesawat Rusia itu lepas landas dan mengudara. Dan dia menyebut bahwa itulah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Dolya membagi kisah indah terbang bersama SSJ 100. Perjalanannya bersama Sukhoi melewati tiga negara; Kazakhstan, Pakistan, dan Myanmar. Blogger Rusia ini membagi pula perjalanannya melintasi ekuator. Tawa dan canda terlihat dalam pesawat.

Selama persimpangan khatulistiwa, mereka menggelar perayaan Neptunus. Dolya berjalan dalam pesawat dengan bertelanjang dada, mengenakan jenggot putih palsu, dan memegang trisula. Pada 8 Mei itu Dolya memajang fotonya berkostum Neptunus. Bahkan, pilot pesawat pun tampak tertawa dan memotret tingkah kocak Dolya. Semua berpesta dengan disuguhi sampanye saat itu. 

Dolya memamerkan pertemuannya dengan "selusin pramugari lokal" ketika tiba di Indonesia. Dia merasa bingung ketika dikelilingi orang-orang yang berbincang dengan bahasa Indonesia.

Setelah bersenang-senang dengan Sukhoi, Dolya menerima kabar buruk mengenai SSJ 100 yang hilang kontak. Perkembangan informasi mengenai pesawat itu pun ditulisnya pada akun Twitter @dolyasergey. Dia terus mengabarkan hingga proses evakuasi.

Bantah Isu

Pada blognya, Dolya juga membantah diskusi pada forum Airliners.net mengenai tombol Sistem Perkiraan Peringatan Dini yang mati.

Foto yang dimuat Dolya memperlihatkan tombol peringatan bahaya pada SSJ100 dalam posisi mati (off). Dolya pun memberikan klarifikasi pada 12 Mei 2012.


Tombol yang Diduga Mati pada Penerbangan Kedua

Foto yang dia ambil itu tercatat waktu: 5 jam 45 menit 53 detik hingga 29 detik. Sementara tombol yang tampak mati itu mulai menyala pada 5 jam 45 menit dan 24 detik. Superjet dirancang sedemikian rupa sehingga dalam waktu kisaran 35 detik baru tombol menyala. Sistem ini seperti menyalakan PC yang tidak dapat langsung hidup seketika.

Menurut Dolya, indikator tombol menyala ini persoalan standar untuk 35 detik pertama. Pada foto yang diambil 9 jam 7 menit dan 22 detik sebelum demonstrasi terbang yang kedua, terlihat jelas tombol itu telah diaktifkan.

Kabar 140 karakter senantiasa diperbaruinya dengan terus memantau informasi seputar pesawat malang Sukhoi Superjet 100. Kini waktu Dolya disibukkan untuk menulis status terbaru pada akun Twitter-nya. Bahkan, Dolya menulis dia tidak punya waktu menulis panjang di blog.

"Ini tidak ditulis dalam waktu yang lama. Tidak ada waktu. Semua informasi terbaru tentang saya ada di Twitter," tulisnya pada Sergeydolya.livejournal.com. (umi)
sumber:VIVAnews 

Selasa, 17 April 2012

Dia Algojo Khadafi, Dia Diperkosa

Sebagai anggota pasukan algojo, ia dipaksa membunuh 11 orang. Ia juga diperkosa.


Nisreen, gadis algojo Khadafi (Gambar di-capture dari video CNN)

 Nisreen terus meringkuk di balik selimut. Mata cokelatnya menatap kosong. Bicaranya pun terbata-bata. Raut wajahnya memperlihatkan emosi yang sangat kacau. Gadis 19 tahun itu tak bisa menyembunyikan trauma atas pengalamannya menjadi algojo semasa rezim Muammar Khadafi di Libya.

"Salah satu dari mereka memiliki rambut wajah seperti ini (membuat bentuk jenggot di sekitar mulutnya)," katanya mengingat wajah seorang pria muda yang ia tembak mati.

Sebagai anggota pasukan algolo, Nisreen telah membunuh sedikitnya 11 orang tahanan rezim Khadafi. "Setiap eksekusi, ada seseorang di kedua sisi saya dan satu belakang. Mereka mengatakan jika saya tidak menembak, mereka yang akan menembak saya."

Dalam kondisi terancam, Nisreen merasa tak punya pilihan lain selain mengarahkan pistol ke sasaran dan menarik pelatuk pistol dalam genggamannya. "Setiap kali menembak, aku akan memutar kepalaku menjauh. Tak lama kemudian, aku melihat darah menetes dan terus mengalir membasahi lantai," katanya terbata-bata.

Menjadi pasukan algojo bukan pilihannya. Ia diambil paksa dari rumah ibunya sekitar satu tahun lalu. Ia dibawa ke sebuah tempat terisolasi yang tak memungkinkannya berhubungan dengan dunia luar, termasuk keluarganya. Di penampungan militer perempuan itu, ia dilatih memegang senjata.

Saat pemberontakan anti-Khadafi pecah Februari lalu, ia dipanggil pimpinannya yang juga seorang wanita. Ia diminta menemui seorang komandan brigade. Dan di sana, ia diperkosa. "Aku menjerit, tapi percuma," katanya. "Aku bahkan dipanggil lagi dan diperkosa dua kali oleh komandan lain."

"Ketika aku melihatnya, aku berpikir bahwa dia tampak seperti anak kecil. Wajahnya begitu muda, polos, benar-benar tidak bersalah," kata salah satu dokter di rumah sakit Tripoli, Nadia Benyounis, yang prihatin mendengar kisah hidup Nisreen. "Dia kehilangan hidupnya."

Benyounis mengatakan kehidupan Nisreen telah dirampok. Martabat, harga diri, dan keluarganya lenyap. Ia bahkan dimanipulasi sebagai pembunuh. "Dia diam sepanjang waktu." kata Benyounis. "Saya perhatikan, dia mencoba untuk tidur sepanjang waktu untuk melarikan diri dari kenyataan ini."

Di tengah derita itu, Nisreen mendapat kabar bahwa ibunya yang tengah sakit kanker tengah mendapat pengobatan di Tunisia. Nisreen bahkan sempat bicara melalui sambungan telepon. "Ibuku sangat sedih. Yang saya inginkan saat ini hanya pulang. Aku ingin bertemu ibuku."

Senin, 02 April 2012

Sebuah Kisah Nyata : Salam Maria adalah Doa yang Hebat


Salam Maria dari seorang Protestan sangat hebat! – (Sebuah Kisah Nyata)
Anak laki-laki, protestan, berusia 6 tahun, sering mendengar temannya yang katolik mendoakan Salam Maria. Ia menyukainya sehingga ia menirunya, mengingatnya dan mendoakannya setiap hari. ‘Lihat ibu, ini doa yang indah’, ia berkata kepada ibunya suatu hari. ‘Jangan pernah mengucapkannya’, jawab ibunya. ‘Salam Maria adalah doa tahayul orang katolik yang menyembah berhala dan berpikir bahwa Maria adalah Dewi’. Bagaimanapun, ia adalah wanita seperti yang lain. Ambillah Kitab Suci ini dan bacalah. Kitab Suci mengandung segalanya tentang apa yang harus kita lakukan.
Sejak saat itu anak laki-laki itu tidak melanjutkan Salam Maria-nya setiap hari dan menghabiskan waktunya membacakitab suci. Suatu hari, selagi ia membaca Injil, ia melihat kutipan tentang Kabar Gembira Malaikat kepada Bunda Kita. Dengan penuh suka cita, anak laki-laki itu berlari kepada ibunya dan berkata,”Ibu, aku telah menemukan Salam Maria di kitab suci yang berkata :’Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau diantara wanita’. Mengapa engkau menyebutnya doa tahayul?”.
Pada kesempatan lain ia menemukan pemberian hormat yang indah dari St. Ezlibateh kepada Perawan Maria dan nyanyian pujian yang luar biasa. MAGNIFICAT dimana Maria diramalkan bahwa “para bangsa akan menyebutnya berbahagia”. Ia tidak mengucapkan apapun kepada ibunya namun mulai mendoakan Salam Maria setiap hari seperti sebelumnya. Ia merasakan kesenangan dalam menujukan kata-kata yang memikat itu kepada Ibu Yesus, Penyelamat kita.
Ketika ia berusia 14 tahun, suatu hari ia mendengar diskusi tentang Bunda Kita diantara anggota keluarganya. Setiap orang berkata bahwa Maria sama seperti wanita lainnya. Anak itu, setelah mendengar penalaran mereka yang keliru, tidak dapat bertahan lagi, dan dengan penuh amarah, ia berkata: ‘Maria tidak seperti anak Adam lainnya, ternoda dengan dosa. Tidak! Malaikat menyebutnya PENUH RAHMAT DAN TERBERKATI DIANTARA WANITA. Maria adalah Ibu Yesus Kristus dan konsekuensinya ia adalah Bunda Allah. Tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dimana ciptaan bisa diangkat seperti itu.
Injil berkata bahwa para bangsa akan memproklamasikan ia sebagai yang berbahagia dan kamu mencoba merendahkannya. Semangatmu bukanlah semangat Injil atau Kitab Suci yang kamu katakan adalah fondasi agama Kristen’. Begitu dalam kesan ucapan anak itu sehingga membuat ibunya menangis dengan sedih: ‘Oh Allahku!’ Aku takut putraku ini suatu hari akan bergabung dengan agama katolik, agama para Paus!’ Dan memang, tidak lama setelahnya, setelah melakukan pembelajaran serius tentang protestanisme dan katolisisme, anak laki-lak itu menemukan bahwa Katolik adalah satu-satunya agama yang benar dan menganutnya dan menjadi satu dari rasulnya yang paling bersemangat.
Setelah pertobatannya dari protestan ke katolik, ia bertemu saudara perempuannya yang telah menikah, yang memakinya dan berkata dengan marah :’Kau tidak tahu betapa aku mencintai anak-anakku. Jika salah satu dari mereka ingin menjadi katolik, Aku akan menusuk hatinya dengan pisau dan mengijinkannya untuk menganut agama Paus!’ Kemarahan dan wataknya sehebat kemarahan St. Paulus sebelum pertobatannya. Namun, ia akan mengubah jalannya, seperti yang dilakukan St. Paulus di jalan menuju Damaskus.
Suatu ketika putranya menderita sakit parah dan dokter menyerah untuk menyembuhkannya. Saudara laki-lakinya kemudian mendekatinya dan berbicara kepadanya dengan penuh kasih sayang, berkata :”Saudariku terkasih, kamu berharap anakmu disembuhkan. Baik, maka lakukanlah apa yang kuminta. Ikuti aku, mari kita berdoa satu kali Salam Maria dan berjanjilah pada Allah bahwa, jika putramu sembuh, kamu akan secara serius mempelajar doktrin katolik, dan kesimpulanmu haruslah bahwa katolisisme adalah satu-satunya agama yang benar, kamu akan menganutnya tidak peduli apapun pengorbanannya”
Saudarinya agak enggan pada awalnya tapi ia berharap akan kesembuhan putranya. Ia menerima usul saudaranya dan mendoakan Salam Maria bersama dengannya. Hari berikutnya putranya sembuh total! Ibunya memenuhi janjinya dan mempelajari doktrin katolik. Setelah persiapan panjang ia menerima sakramen baptis bersama keluarganya, berterima kasih pada saudaranya karena telah menjadi rasul baginya.
*Kisah ini diceritakan selama khotbah yang diberikan oleh Rev. Romo Tuckwel. ‘Saudara-saudara, ia berkata,’Anak laki-laki yang menjadi katolik dan mentobatkan saudara perempuannya ke katolisisme mendedikasikan seluruh hidupnya kepada pelayanan Allah. Ia adalah imam yang sedang berbicara kepadamu sekarang!’
Betapa aku berhutang budi kepada Bunda Kita. Kamu juga, saudaraku, dedikasikanlah semuanya kepada Bunda Kita dan jangan pernah membiarkan harimu berlalu tanpa mengucapkan doa yang indah, Salam Maria, dan Rosariomu. Mintalah ia menerangi pikiran para protestan yang terpisah dari Gereja Kristus yang sejati yang didirikan diatas Batu Karang (Petrus) dan ‘alam maut tidak akan menguasainya’
Sumber.

Jumat, 09 Maret 2012

Kisah Nyata di Balik Lagu Sentuh Hatiku

detail_imgMungkin banyak yang dengar lagu Sentuh Hatiku, yang dinyanyikan oleh Maria Shandi. Akan tetapi di balik lagu itu ternyata ada sebuah kisah yang luar biasa. Pencipta lagu ini adalah seorang anak Tuhan. Kisah di dalam lagu itu adalah milik teman sekolahnya. Temannya itu diperkosa oleh ayahnya sendiri dan menjadi gila, sehingga harus dipasung (dirantai) di rumahnya.
Ia suka datang dan mendoakan anak itu sambil sesekali menulis lirik lagu. Waktu pun berlalu. Diapun pindah kota dan mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri. Suatu ketika anak perempuan itu menelepon dia. Tentu saja kaget bukan main, karena anak itu kan gila. Dipasung pula? Kok sekarang bisa lepas, kok bisa telepon?
Akhirnya anak perempuan itu cerita, suatu hari entah karena karat atau bagaimana rantainya lepas. Satu hal yang langsung dia ingat, dia mau bunuh ayahnya. Tetapi saat dia bangun, ia melihat Tuhan Yesus dengan jubah putihnya, berkata, “Kamu harus memaafkan ayah kamu.” Tetapi anak itu tidak bisa dan dia terus menangis, memukul, dan berteriak.
Sampai akhirnya Tuhan memeluk dia dan berkata, “Aku mengasihimu.” Walaupun bergumul akhirnya anak itupun memaafkan ayahnya, mereka sekeluarga menangis dan boleh kembali hidup normal. Dari situlah lagu Sentuh Hatiku ditulis.
Betapa ku mencintai, segala yang telah terjadi
Tak pernah sendiri, selalu menyertai
Betapa kumenyadari, di dalam hidupku ini
Kau selalu memberi, rancangan terbaik oleh karena kasih

Bapa sentuh hatiku,
Ubah hidupku, menjadi yang baru
Bagai emas yang murni
Kau membentuk bejana hatiku

Bapa ajarku mengerti
Sebuah kasih yang selalu memberi
Bagai air mengalir
Yang tiada pernah berhenti
Kasih-Mu ya Tuhan tak pernah berhenti
Sumber : ceritakristen.org/lh3

Selasa, 06 Maret 2012

Evie, Waria Mantan Pengasuh Obama

Headline

huffingtonpost.com
 Dulu, Evie mengasuh anak bule yang biasa dipanggil Barry. Anak itu kini tumbuh jadi salah satu pria terkuat dunia. Sebaliknya, Evie malah hidup serba ketakutan.
Evie terlahir seorang pria, namun meyakini dirinya perempuan. Sepanjang hidupnya, ia ketakutan akibat ejekan dan terkadang pukulan yang diterimanya, karena identitasnya tersebut.
Seorang serdadu pernah menggunduli rambutnya. Tak terhitung jumlah rokok yang disundutkan ke tangan dan lengannya. Ketakutan itu memuncak saat tubuh seorang kawan waria ditemukan di sebuah saluran pembuangan, dua tahun lalu.
Evie mengambil semua pakaian perempuannya dan dimasukkan ke dalam dua kotak besar. Pemulas bibir, bedak dan alat riasan wajah, semua disingkirkan. “Dalam hati, saya tahu saya perempuan. Tapi saya tak mau meninggal seperti itu (kawannya tadi),” ujarnya.
Kepada HuffPost, Evie mengakui menerima kehidupan apa adanya. Sejak pengalaman itu, ia hidup sebagaimana seorang pria. Nama aslinya, sesuai KTP, adalah Turdi. Namun ia memilih nama Evie karena terdengar manis.
Beberapa tetangga di tempat tinggal Obama kecil di Menteng, Jakarta, memastikan bahwa Turdi memang bekerja sebagai pengasuhnya selama dua tahun. Evie ini juga mengurus adik seibu Obama, Maya.
Pria berusia 66 tahun ini kini tinggal di sebuah kamar kecil, di daerah kumuh sekitar Jakarta Timur. Ia mencuci baju-baju orang sebagai sumber pendapatan. Suaranya pelan, sopan dan wajahnya masih menampilkan kerutan kekhawatiran.
Ketika mengenang masa kecilnya, Evie mengaku sering dipukuli sang ayah karena tak tahan melihat tindak tanduknya yang terlalu feminin. “Ia ingin saya berlaku seperti seorang anak laki, meski dalam hati saya tak merasa begitu,” ujarnya.
Akibat terlalu sering digoda, ia putus sekolah saat masih kelas tiga SD dan memutuskan untuk belajar memasak. Ternyata, Evie ahli memasak. Saat remaja, kenangnya sambil tersenyum, ia menjadi koki sejumlah pejabat ternama.
Akhirnya dalam sebuah pesta koktail pada 1969, ia bertemu mendiang ibunda Obama, Ann Dunham. Ann tiba di Indonesia dua tahun sebelumnya setelah menikahi ayah tiri Obama, Lolo Soetoro.
Ann yang mengagumi steak daging dan nasi goreng buatan Evie, menawarkan pekerjaan untuknya di rumah tangga Soetoro. Tak butuh waktu lama, Evie menjadi pengasuh Barry, panggilan Obama kecil.
Evie menemani Barry bermain, mengantar dan menjemputnya dari dan ke sekolah. Para tetangga mengingat, sering melihat Evie keluar masuk rumah Soetoro pada malam hari, berias seperti perempuan.
Evie ragu Obama mengingatnya. “Ia masih kecil. Lagipula, saya tak membiarkannya melihat saya mengenakan pakaian wanita. Tapi ia pernah melihat saya mencoba lipstik ibunya, kadang-kadang. Ia tertawa jika saya melakukannya,” kenang Evie.
Hidupnya berubah saat keluarga Soetoro tak lagi bersamanya pada 1970-an. Evie tinggal bersama kekasihnya dan hubungan mereka berakhir tiga tahun kemudian. Ia terpaksa menjadi seorang pekerja seks.
“Saya mencoba lagi menjadi pembantu rumah tangga. Tapi tak ada yang mau. Saya butuh uang untuk makan dan tempat tinggal,” ujarnya. Sebagai waria, Evie mengalami dikejar-kejar aparat rezim mantan Presiden Soeharto.
Satu razia pada 1985 mengubah segalanya. Ia dan kawan-kawan waria berlarian saat dikejar aparat. Satu gadis cantik, Susi, melompat ke sungai penuh sampah. Mereka mencari Susi sepanjang malam.
“Akhirnya kami menemukannya. Kondisinya amat buruk. Tubuhnya bengkak dan wajahnya hancur,” ujarnya sedih, mengingat wajah tak bernyawa Susi.
Evie kini mengaku tak punya lagi masa depan. Ia hanya beribadah dan menanti ajal menjemput.
Saat 2008 Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS), Evie tak percaya bocah kecil yang ia asuh itu menjadi orang besar. Tak ada yang percaya saat ia berkata pernah mengasuhnya saat Obama masih dipanggil Barry. Evie disangka gila.
“Tapi kini saat orang menyebut saya sampah, saya hanya bisa berkata, saya pernah mengasuh Presiden Amerika Serikat!” [ast]
SUMBER:INILAH.COM

Sabtu, 11 Februari 2012

Kisah Ibu yang Membenci Bayinya

img Selama ini yang orang percaya adalah kedekatan atau perasaan cinta antara ibu dengan bayinya bisa tumbuh dalam sekejap. Petuah yang kerap didapat adalah cinta tersebut akan tumbuh seiring janin berada di rahim ibu. Hingga akhirnya ibu dan anak punya ikatan yang kuat selamanya.
 
Namun bagaimana jika hal itu tidak dialami ibu? Apakah si ibu bersalah atas hal itu? Perasaan bersalah itu dialami Ruth Hagin, seorang ibu asal Inggris yang memiliki bayi bernama Sandra.

Ruth mengaku dia selalu merasa marah dan benci setiap melihat Sandra. "Saat Sandra menangis, aku merasa malu untuk menenangkannya," ujarnya. "Aku sering membayangkan bagaimana menyingkirkannya. Aku sebenarnya enggan mengungkapkan hal ini, tapi aku memang merasa hidupku akan jauh lebih baik kalau dia tidak ada di sini," tuturnya lagi.

Tentu pengakuan Ruth tersebut sangat mengejutkan. Tidak banyak ibu yang dengan berani mengungkapkan kebenciannya pada bayinya yang baru lahir. Kalaupun memang ada, mereka akan langsung mendapat stigma ibu yang jahat.

"Saat teman dan keluargaku mengatakan, betapa cantiknya dia, aku hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Bagaimana mungkin aku mengakui kalau aku sebenarna membenci bayi sempurna ini? Aku merasa seperti monster, ibu terburuk di dunia," kisahnya.

Ruth bercerita lagi soal betapa dia sering menghabiskan malam-malamnya dengan memandangi bayinya yang tengah tidur. Saat itu dia kerap berpikir, betapa hidupnya akan jauh lebih baik kalau putrinya tersebut tidak ada.

"Satu-satunya aku merasa dekat dengannya ketika aku menyusui," ungkap wanita 34 tahun itu.

Lama kelamaan Ruth merasa lelah dan mati rasa. Dia terus menunggu perasaan cinta, yang kata orang pasti akan dirasakannya pada anaknya. "Tapi itu tidak pernah datang," tukasnya.

Ruth bukan satu-satunya yang mengalami hal di atas. Penelitian menunjukkan satu dari lima ibu gagal merasakan ikatan dengan bayi yang baru dilahirkannya. Namun karena malu, hanya sedikit dari mereka yang mau mengakui hal tersebut.

"Ikatan ini memang sangat penting untuk perkembangan emosional dan psikologis bayi. Dan memang ada pandangan umum bahwa kedekatan ibu dengan bayi barunya bisa terjadi secara instan," jelas psikolog anak Dr. Richard Woolfson yang juga menulis buku 'How To Have A Happy Child', seperti dikutip dari Daily Mail.

Dalam banyak kasus, ibu memang bisa merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat bayinya. Tapi untuk sejumlah ibu lainnya, perasaan cinta itu butuh waktu, bisa beberapa hari, minggu, bulan atau bahkan tahun.

Ruth yang bekerja sebagai manajer di sebuah organisasi amal akhirnya bisa merasakan cinta pada putrinya. Ia butuh dua tahun hingga akhirnya merasakan ikatan dengan Sandra.

Ruth sebenarnya bukanlah tipe orang yang membenci anak-anak. Sejak masih remaja, kemudian tunangan dan menikah, dia sangat ingin punya anak.

"Aku ingin menjadi ibu terbaik, tapi aku masih sangat muda dan tidak berpengalaman," ujarnya. "Aku tipe yang perfeksionis, hingga sekarang. Jadi aku mulai merasa marah ketika bayi tersebut menggagu hidupku yang teratur. Aku sedih kehilangan kehidupanku sebelumnya, kebebasanku dan suamiku yang kami nikmati bersama," tuturnya lagi panjang lebar menjelaskan penyebab kenapa dia jadi membenci bayinya saat baru melahirkan.

Setelah Sandra lahir, hubungan Ruth dengan suaminya memang memburuk. Mereka jadi sering bertengkar hingga akhirnya bercerai setelah tiga tahun menikah.

Titik balik Ruth terjadi ketika Sandra hampir berusia dua tahun. Saat itu, Sandra sedang bersama suaminya dan dia pergi berbelanja. Dia kemudian terpikir untuk meninggalkan mereka.

"Pada titik itu, sesuatu muncul di kepalaku. Ini tidak benar. Aku wanita pintar, rasional, jadi kenapa aku ingin meninggalkan anakku," cerita Ruth.

Kasus yang dialami Ruth juga dirasakan aktris Gwyneth Paltrow setelah melahirkan anak keduanya, Moses. Meski tidak sampai membenci anaknya yang kini berusia lima tahun itu, Gwyneth sempat tidak memiliki perasaan apapun pada sang putra.

"Aku sama sekali tidak merasakan apapun, aku tidak merasa adanya ikatan dan saat aku melihat fotonya ketika dia berusia tiga bulan, aku tidak ingat saat itu," kisahnya.

Psikolog Dr Sharon Lewis menjelaskan apa yang dialami Ruth dan Gwyneth itu dapat terjadi pada wanita manapun. 10-15 dari 100 wanita bisa mengalami depresi pasca melahirkan. Mereka semua mungkin saja sampai pada satu titik berharap bayinya tidak dilahirkan.

"Kelahiran anak pertama memang bisa membuat shock. Tidak ada ibu yang menyiapkan diri untuk merawat anak tak kenal waktu. Ditambah lagi ada terlalu banyak ekspektasi tidak realistis tentang menjadi orangtua," jelasnya.

Menurut Dr Sharon lagi, saat menjadi orangtua di usia muda, bisa mempengaruhi emosi ibu. Apalagi ditambah dengan kurang tidur dan berbagai perubahan hormonal serta fisik yang dialami setelah bayi lahir. 

"Semua faktor ini berdampak pada kapasitas ibu untuk mencintai bayinya," tutur psikolog asal California itu.

Ibu juga bisa melampiaskan kemarahan mereka pada suami ke bayinya. Sementara bayi sangat perlu diperhatikan, sehingga emosi pun bisa bertambah.

Namun dalam pandangan Dr Sharon, depresi pasca melahirkan ini bukan satu-satunya faktor yang membuat ibu tidak bisa merasakan ikatan dengan bayinya. Tapi masalah tersebut juga tidak akan selamanya terjadi pada ibu.

"Hubungan dengan anak bisa berkembang seiring berjalannya waktu. Kesulitan bonding dengan anak juga tidak memprediksikan bagaimana hubungan ibu dan anak di masa depan," tandasnya.

Bagaimana caranya mengatasi baby blues atau depresi setelah melahirkan? Tunggu tipsnya di wolipop.

Sabtu, 21 Januari 2012

Surat Bocah yang Sembuh Kanker: Saya Tahu Saya Tidak akan Mati




img
Charlie (dok: dailymail)
, Sebuah penyakit bisa mengubah pemikiran seseorang tentang kehidupan termasuk pada anak-anak. Charlie (12 tahun) menulis sebuah surat yang sangat menyentuh dan emosional mengenai kehidupannya saat melawan penyakit kanker. Ia ingin berbagi pengalamannya melawan kanker dengan orang lain.

Charlie Williams baru berusia 5 tahun ketika ia didiagnosis dengan medulloblastoma, yaitu salah satu tumor otak yang bisa mematikan. Bocah berani dari Boxford, Suffolk Inggris ini telah menjalani operasi selama 7 jam serta mengalami masa kritis yang membuatnya harus berada di ruang intensif hingga waktu yang tak bisa ditentukan.

Charlie terpaksa harus meninggalkan sekolahnya selama 2 tahun karena mengalami kemunduran dan harus menjalani pengobatan, termasuk untuk infeksi meningitis yang dideritanya. Kondisi ini memicunya untuk menulis pengalaman tersebut dalam sebuah surat.

"Nama saya Charlie Williams, saya bisa saja meninggal sekarang, tapi saya baru tahu bahwa saya tidak akan mati," kalimat pertama surat yang ditulis Charlie, seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (21/1/2012).

Ia menulis segala hal mulai dari jarum yang digunakan selama pengobatan kemoterapi sampai ketidakmampuannya untuk makan makanan favoritnya selama ia sakit. Bahkan ia juga menceritakan jika ada anak lain yang membuatnya kesal.

Charlie mengungkapkan banyak orang dengan penyakit kanker tidak suka membicarakannya, tapi beruntungnya ia bisa bebas dari ancaman kanker. Ia berpikir dengan menulis pengalamannya bisa membantu orang-orang yang saat ini tengah berjuang melawan kanker.

Sampai saat ini Charlie masih memerlukan hormon pertumbuhan karena kelenjar pituitari telah rusak saat pengobatan. Namun berita baiknya adalah ia berhasil bebas dari kanker mematikan tersebut.

"Kami sangat bangga padanya dan dia adalah seorang anak yang luar biasa serta sangat bijaksana untuk ukuran anak seusianya. Kadang ia juga suka mengungkapkan bahwa orang lain tidak menyadari apa yang telah ia lalui," ujar sang ibu, Beverley (52 tahun).

Berikut adalah tulisan lengkap surat yang dibuat Charlie:

"Ini adalah sebuah kisah tentang seorang anak bernama Charlie yang didiagnosis kanker saat berusia 5 tahun. Lebih tepatnya pada 5 Mei 2005. Nama aku Charlie Williams, aku bisa saja mati sekarang tapi aku baru saja tahu kalau aku tidak akan mati.

Di rumah sakit Addenbrooke, aku harus melakukan perawatan medis seperti radioterapi yang membuat aku harus pergi ke sebuah terowongan silinder selama setengah jam. Ini cukup menakutkan bagi anak yang baru berusia 6 tahun seperti aku.

Aku juga harus melakukan scan MRI dengan masuk ke terowongan silinder yang diisi segala macam suara ketika kita berada di dalamnya. Lalu kemoterapi yang melalui infus dimasukkan ke dalam tubuh saya di dada bagian atas dan berlangsung setengah jam pada waktu tertentu. Aku juga harus melakukan banyak transfusi darah.

Jarum bukan hal terindah di dunia, tapi aku tahu ibu bisa membantu saya. Anda bisa bayangkan bagaimana rasanya saya ketika semua hal itu dimasukkan ke dalam diri seorang anak. Tapi sekarang saya terbiasa dengan hal itu.

Menjadi sakit dan mengetahui ada kemungkinan aku akan kehilangan berbagai hal, membuat aku lebih menghargainya. Misalnya materi seperti komputer, kalkulator, pensil dan pulpen menjadi barang yang khusus dijaga.

Sebuah pensil mungkin tidak berarti apa-apa bagi anak di sekolah saya, tapi untuk anak katakanlah di sebuah desa miskin di Uganda, maka itu menjadi hal yang berarti. Saya jadi memikirkan hal-hal seperti itu setelah sakit sekian lama.

Di sekolah ada juga anak-anak yang menyerang anak lain dengan melakukan sesuatu yang bodoh, itu sering terjadi dan saya tidak menyukainya. Mungkin orang melakukannya untuk menjadi pusat perhatian atau egois. Tapi memiliki sakit yang serius membuat Anda berpikir banyak hal, seperti mana yang penting dan tidak.

Aku ingin tahu apakah memiliki kanker bisa mengubah anak-anak yang tidak peduli dan egois tersebut?

Untuk semua anak-anak, makanan adalah satu hal yang biasa. Seseorang punya makanan favorit seperti cokelat, cheeseburger, kentang goreng, permen, sosis, kue dan masih banyak lagi. Tapi bayangkan jika tidak bisa mengonsumsi apapun, bahkan setetes air saja.

Ketika Anda harus menjalani begitu banyak operasi dan obat-obatan, maka Anda tidak bisa mengonsumsi atau menyimpan makanan itu. Selama di rumah sakit, saya pergi ke kantin dan melihat orang-orang makan, tapi saya tidak bisa makan seperti itu.

Saya tidak bisa makan banyak karena saya dilengkapi dengan tabung dari hidung. Itu adalah mesin kecil yang dilengkapi dengan botol kaca yang bisa memberikan semua hal yang saya butuhkan untuk makanan.

Semua hal itu membuat saya tidak bisa makan seperti anak normal lainnya, membuat saya rewel tentang makanan. Tapi sekarang saya tahu bahwa yang dilakukan itu untuk membuat saya aman. Dan sekarang saya bisa makan sosis setiap malam.

Orangtua mungkin terlihat seperti tidak adil, tapi mereka akan selalu membantu Anda

Orangtua mungkin terlihat sebagai sosok yang tidak adil karena tidak membiarkan Anda melakukan hal-hal yang Anda inginkan, tapi mereka akan selalu membantu. Mereka memberi Anda makan, pakaian, rumah dan akan membantu Anda ketika terluka.

Ayah dan ibu selalu duduk menemani saya hari demi hari selama di rumah sakit, mereka melihat ketika saya harus kesakitan dan menjalani semua jenis perawatan medis yang membuat saya tidak bisa berdiri. Saya tahu tangan pertama yang akan memegang saat melihat anak sakit adalah tangan orangtua.

Saya yakin ketika saya didiagnosis dengan tumor otak, mereka berpikir saya tidak akan bisa melaluinya. Bisakah Anda bayangkan jika orangtua berpikir bahwa Anda akan mati? Tapi saya bisa melaluinya dan terbebas dari kanker.

Saya adalah anak normal yang telah memiliki perjalanan mengerikan di masa kecilnya. Tapi saya memiliki sesuatu yang positif dan itu semua membuat saya berpikir serius dan bijaksana tentang kehidupan. Kanker telah membuat saya berpikir lebih bijaksana dalam melihat kehidupan apa yang ada dihadapan saya.

Sekarang Anda telah mendengar kehidupan nyata dari seorang penderita kanker, saya harap cerita ini bisa membuat Anda berpikir beberapa hal mengenai kehidupan Anda sendiri."

Kamis, 05 Januari 2012

Kisah Nyata: Bloody Marry, Hantu Yang Bisa Dipanggil




1) Bloody Mary itu legenda Amerika, yaitu seorang wanita, Mary Whirnington yang dikabarkan meninggal di depan cermin. beberapa juga mengatakan kalau meninggal dibunuh dengan kejam oleh kekasihnya atau teman kencannya. beberapa menganggapnya seorang penyihir. Arwah Mary, terperangkap di dalam cermin sehingga ia tidak bisa keluar kecuali ada seseorang yang membuka jalannya dan karena terlalu lama terperangkap di dalam cermin, jiwanya menjadi marah, hampa dan bisa melakukan hal-hal yang di luar batas kemanusiaan.

2) Bloody Mary atau Mary Tudor, Queen of England, anak dari King Henry the 8th and Catherine of Aragon. waktu dia jadi Queen Mary of England. dia membunuh 100 pemimpin protestan, nah makanya dijulukin "Bloody Mary".

3) ada anak kecil namanya mary, dia ketabrak gan. terus kan koma tuh, pas dirumah sakit sama dokternya udah dibilang mati. padahal masi koma. trus di kubur gitu gan idup2. nah tiap malem tuh ada yang teriak dari kuburannya. cuma orang2 pada g percaya. ya akhirnya dia mati disitu gan dan gentayangan. tp ane masi bingung apa hubungannya sama di cermin
cara buat munculinya adalah berdiri di depan kaca dalam kegelapan (biasanya di kamar mandi) dan mengulangi namanya tiga kali. ato gak sambil nyalain lilin gan, kalo udah muncul langsung tiup lilinnya (udah kaya jaga celeng ya) nah ntar pergi tuh.

4) suatu hari, ada cewek nmanya mary tinggal di puri bersama sodara tiri cewe dan sama cowoknya (boyfriendnya). nah mary sama sodara tirinya tuh saling benci. trus si mary nyrui cincin kimpoinya, otomatis kan marah tuh sodara tirinya. nah sodara tirinya ngirim guards gitu gan buat nyari si mary. pas udah ketangkep sama sodara tirinya di bawa ke istana cowoknya si cewe tiri itu.. kan mereka lagi di tempat perapian gitu , si sodara tiri cewe itu ngambil cincin kimpoinya lagi, terus si marynya di dorong ke perapian. mati deh

ini deh caranya:
1) ke kamar mandi
2) matiin lampunya
3) nyalain air gan
4) "ngomong nama "bloody mary" 3 kali
5) trus tutup mata... liat deh ada gak di kaca kamar mandi agan? hehehe
6) kalo gagal sampe cara 5, coba muter2 (lingkaran) 3 kali, dan lihat apa yang terjadi

jangan asal coba dulu gan!!! baca ini dolo! ntar nyesel loh

1) ada cerita yang katanya si Bmary itu nanyain prtanyaan 3 kali, dan kalo agan2 salah jawab 1 dan 2 pertanyaan, katanya sih bisa terluka gitu. kalo udah 3 kali bakalan mati gan. -_-

2) kami mau coba manggil, tp karena takut akhirnya gak jadi. jadi aku dan 3 temanku ke kamar mandi matiin lilinnya. tp pas udah dimatiin di cermin lilinnya masi nyala.

3) ada temen ku namanya cassie sama susan. temen mereka yang namanya sharon nantangin buat manggil si mary itu loh heheh. nah pas mereka nyoba g kejadian apa2. akhirnya mereka pulang. trus si sharon pas lagi mau mandi kan ngisi bak air. pas balik ke kamar mandi lagi airnya air darah. waktu lagi tidur si sharon bangun amlem2 da ngeliat kaya ada yang jalan gitu di tangga sambil abwa pisau. pas besoknya mamanya sharon ngeliat si sharon mati ada luka di mukanya gitu dan ada pisau nancep di perutnya.

4) sekitar 2 minggu lalu, aku mendengar tentang Bmarry. pertama2 aku g percaya, nah aku tertarik buat nyoba ini. martjin dan joey nginep dirumahku. nah aku nantangin mreka untung manggil b-marry dan akhirnya kita ngelakuin itu. gak ada jawabannya dan gak ada apa2. tapi tiba2 pintu terkunci. jadi g bisa masuk ke kamar mandi. nah aku nyoba2 cara biar bisa buka tuh pintu, akhirnya pas udah kebuka g ada apa2. trus nyalain lampu. pas ngeliat di balik korden temen ku udah jatuh berlumuran darah . ada cakaran di mukanya yang sangat dalam

ini adalah kisah nyata tentang meri yang terjadi kepada saya...suatu malam waktu bonyok lagi pergi, kakakku nantangin aku untuk melakukan ritual meri dan mencoba bangkitin meri. aku gak percaya kalo itu adalah nyata..jadi saya lakukan aja, karena dipikir bisa menjadi bahan tertawaan nantinya.. aku ke kamar mandi, matiin lampu, berjalan melingkar 7 kali sambil mangil2 meri meri meri dalam tiap putaran... lalu aku berenti dan menghadap ke kaca. menanti dalam keheningan untuk melihat apa yang terjadi...

pada saat aku mau meninggalkan wc, aku mendengar wanita bernyanyi... perlahan aku memutar badanku menghadap ke kaca dan aku melihatnya. doi memiliki rambut coklat kehitaman yang panjang yang dibalur darah...di lehernya terlihat seperti ada irisan di tenggorokan. aku berteriak. tapi waktu kakakku menggedor pintu dan membuka kunci pintu, meri makin marah. doi tersenyum lalu keluar dari kacanya dengan satu tangannya yang berluluran darah dan menampar serta mencakar wajah ku tepat di sebelah kanan. aku merasakan kukunya waktu mencakar dan aku terjatuh kelantai, kepalaku otomatis membentur sisi bathtub dan pengsan.

waktu aku bangun, aku berada di rs dengan perban yang melintang di sisi kanan wajah saya...kakakku berbisik ke padaku untuk meminta maaf kepadaku, supaya aku bisa memaafkan dia. bonyok ku juga ada disini. saat aku membuka mata, mereka langsgung menepi ke ranjang saya. aku tau bahwa kakakku berbohong dengan bercerita bahwa salah satu ekor kucing peloharaan ku mencakar aku. dan mereka percaya saja

di malam yang sama, ada telpon dari bibi saya. pamanku meninggal di jam yang sama disaat aku diserang meri. aku tau itu bisa menjadi kenyataan yang aneh naun aku percaya bahwa meri yang telah membunu pamanku. dari semua cerita yang aku dengar, meri hanya akan menyerang kita, dan bukan orang yang kita sayangi. ak tak perduli degan cerita yang ada. aku berpikir meri lah yang membunuh paman saya

kejadian nya sudah setahun nyang lalu dan hingga hari ini, saya asih tidak bisa elihat dengan mata kanan saya yang wakt itu diserang meri...dan wajahku rusak permanen...jangan ada yan gpernah mencoba untuk memanggil meri

Demi Anaku aku Kawin dengan Genderuwo

Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan! Pepatah ini kiranya cukup pas untuk menggambarkan betapa kerasnya perjuangan Retno Kumala (46), si pemilik kisah Catatan Hitam kali ini. Demi masa depan kedua anaknya, ia nekad memilih jalan hidup yang mungkin sangat sulit dijelaskan dengan nalar. Ia rela kawin dengan genderuwo. Ini ia lakukan bukan semata-mata karena ia mendambakan hidup bahagia dengan limpahan harta dari suaminya yang berasal dari dunia gaib tersebut. Namun, sekali lagi, ia melakukannya demi masa depan kedua anaknya yang telah lama ditinggal pergi oleh ayahnya.



Tapi, bagaimana kenyataan selanjutnya yang harus ia hadapi? Kepada Pengasuh rubrik kesayangan ini Retno Kumala mengisahkan Catatan Hitam hidupnya itu secara lengkap. Selamat mengikuti…!

Kehidupan rumah tanggaku pada awalnya sangat bahagia. Suamiku, Warijo, seorang pria yang sangat bertanggungjawab. Ia juga ayah yang baik dan sangat menyayangi ketiga anaknya.

Suatu saat kami harus pindah dari Surabaya ke Palembang. Maklum saja, ketika itu Mas Warijo dimutasi ke kantor cabang perusahaan tempatnya bekerja dengan posisi dan jabatan, juga gaji yang tentu saja jauh lebih baik. Semula kami berharap akan mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia lagi di tempat baru ini, namun justeru di Kota Empek Empek inilah kepahitan itu berawal.

Ya, tragedi itu bermula dari vonis kanker otak terhadap anak ketiga kami Bambang Prihandoko, yang ketika itu baru berumur 3,5 tahun. Kenyataan ini sungguh memukul batinku, juga batin suamiku. Sejak si bungsu divonis mengidap kanker otak, kulihat Mas Warijo sering melamun seorang diri. Memang, dibanding kedua anaknya yang lain, Mas Warijo jauh lebih menyayangi si bungsu, sebab sejak bayi merah anak ini memang sering sakit-sakitan sehingga membutuhkan perhatian ekstra dari kami. Mungkin karena itulah tumbuh kasih sayang yang sangat besar dari kami berdua, terutama Mas Warijo yang pernah menyebut Bambang sebagai “anak yang akan memiliki banyak keajaiban,” sebab ketika aku mengandungnya Mas Warijo mengaku sering bermimpi ditemui seorang kakek bersorban putih mirip sosok wali, yang menitipkan anak padanya. Namun, mimpi hanyalah mimpi. Kenyataan tetap berbicara lain.

Meski biaya pengobatan si kecil ditanggung oleh Asuransi Kesehatan (ASKES) dari perusahaan tempat Mas Warijo bekerja, namun karena penyakit yang diderita oleh Bambang relatif langka dan sulit disembuhkan, maka usaha kami membawanya berobat ke berbagai rumah sakit ternama di Kota Palembang sepertinya hanya sia-sia saja. Bila sedang kumat si kecil Bambang sering jatuh pingsan, dan kami tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya membawanya ke rumah sakit untuk sekedar mendapatkan penangangan gawat darurat.

Kami hampir putus asa menghadapi keadaan si bungsu. Puncaknya, pada musim libur hari raya Idul Fitri di tahun 2005 silam, kami sekeluarga memutuskan mudik ke kampung halamanku di Wonogiri, Jawa Timur. Disamping ingin berlebaran bersama keluarga, rencananya kesempatan ini juga akan kami gunakan untuk mencari cara alternatif guna mengobati penyakit Bambang.

Manusia hanya bisa berencana, sedang Tuhan juga yang menentukan. Itulah yang terjadi. Seminggu setelah tinggal di rumah orang tuaku untuk menikmati liburan, dan sebelum sempat kami membawa Bambang berobat secara alternatif, ternyata Tuhan telah memanggilnya lebih dulu. Bambang menghembuskan nafas terakhirnya dalam gendongan ayahnya.

Kepahitan ini terjadi hanya 3 hari setelah hari raya Idul Fitri. Betapa berdukanya kami sekeluarga karena kepergian Bambang jatuh pada hari yang semestinya penuh dengan kabahagiaan. Apalagi malam harinya Bambang masih sehat dan bermain-main dengan kami. Baru menjelang subuh ia pingsan setelah lebih dulu kejang karena menahan sakit pada kepalanya, sampai akhirnya ia tak kuat lagi melawan rasa sakit itu.

Kepergian si bungsu sungguh merupakan kehilangan yang teramat besar bagi kami. Sebagai ibu yang merawatnya sejak masih dalam kandungan, sudah barang tentu sulit bagiku untuk mengikhlaskan kepergiannya. Mas Warijo pun sepertinya merasakan hal yang sama. Namun sebagai lelaki ia sudah pasti jauh lebih kuat jika dibandingkan denganku. Buktinya, walau masih dalam kedukaan, karena masa liburan yang sudah habis, maka itu setelah selamatan tujuh hari kepergian Bambang, Mas Warijo kembali ke Palembang untuk melakukan rutinitasnya sebagai seorang karyawan sebuah perusahaan swasta. Sementara itu aku sendiri lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah orang tuaku. Demikian pula dengan kedua anakku yang ketika itu baru duduk di kelas satu dan dua SMP. Mereka tetap tinggal di Wonogiri, bahkan karena kedekatan dengan kakek dan neneknya kedua anakku ini memilih pindah sekolah.

Sejak kepergian si bungsu, hari-hari yang kulalui terasa sangat hampa. Berat pula bagiku untuk kembali ke Palembang mengingat kedua putra dan putriku juga enggan untuk menyusul ayahnya pulang ke sana. Kerana keadaan ini pada akhirnya aku pun lebih memilih tinggal di Wonogiri. Suamiku cukup mengerti dengan pilihanku ini. Ia tahu pasti kalau kondisi jiwaku masih sangat labil.

Lima bulan berlalu sejak kematian si bungsu, Mas Warijo masih rutin mengirimi kami uang untuk biaya hidup setiap bulannya. Di bulan ke 6 sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya terjadilah. Kiriman uang dari Mas Warijo tak kunjung tiba sesuai jadwal biasanya. Mendapati kenyataan ini, kucoba menghungunginya lewat ponsel miliknya, tapi ternyata mailboks. Ketika kukontak lewat telepon kantor, pihak resepsionis malah mengatakan kalau Mas Warijo sudah mengundurkan diri sejak sebulan lalu.

Berita ini benar-benar membuatku pusing tujuh keliling. Mengapa Mas Warijo mengundurkan diri dari pekerjaan dengan tanpa terlebih dahulu meminta pendapatku, atau setidaknya memberitahuku? Apa yang telah terjadi dengannya? Mengapa ia begitu berani mengambil keputusan yang sedemikian gegabah? Apakah ia sudah mendapatkan pekerjaan lain yang jauh lebih menjanjikan?

Setumpuk pertanyaan itu tak pernah kudapatkan jawabannya, sebab sejak kuterima berita itu Mas Warijo seolah telah menghilang dari jagat raya ini. Tak pernah secuilpun kudengar kabar tentang dirinya. Berulang kali kuhubungi nomor ponselnya, namun yang kudengar hanya suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut tak dapat dihubungi.

Betapa kecewa hatiku, sebab Mas Warijo pun sama sekali tak pernah mengontakku walau hanya sekejap saja.

Kemana perginya Mas Warijo? Tak ada seorang pun yang bisa menjawabnya. Ia telah pergi tanpa pesan. Meninggalkanku dengan dua orang anak yang masih membutuhkan biaya hidup yang sangat besar, terutama untuk pendidikannya.

Di tengah keputusasaan aku bertemu dengan sahabatku semasa SMA dulu. Sebut saja namanya Yulianah. Waktu itu aku sangat surpraise melihat keadaan Yulianah yang sepertinya sudah jadi orang sukses. Ia bisa nyetir sendiri mobilnya yang bagus dan sangat mewah menurutku. Tak hanya itu, ia juga sudah menyandang gelar sebagai seorang Hajjah, dan ia nampak cantik sekali dengan balutan busana muslimah.

Bagaimana ceritanya sampai kehidupan Yulianah bisa berubah dengan sedemikian drastis? Padahal, aku tahu persis bagaimana asal-usul sahabatku ini. Ia lahir dari keluarga petani yang sangat miskin. Bahkan sewaktu sekolah dulu ia sering menunggak SPP, dan kalau jajan di kantin sering kali aku yang mentraktirnya.

Melihat Yulianah yang sudah hidup senang, terus terang saja aku merasa sangat iri padanya. Sahabatku ini seolah-olah bisa membaca perasaanku. Buktinya, seminggu setelah bertemu dengannya, ia mengundangku datang ke rumahnya.

Ketika aku sampai di rumahnya, kekagumanku padanya semakin besar saja. Bagaimana tidak? Kulihat rumah Yulianah yang megah dan cukup mewah menurut ukuranku.

“Kemana suamimu, Yul?” tanyaku ketika itu saat melihat suasana rumah yang sepi.

Yuliana tersenyum sambil menyuguhkan cemilan di hadapanku. “Aku sudah 5 tahun menjanda, Ret!” katanya.

Mendengar jawabannya, aku merasa sedikit tak enak hati. Namun, Yulianah sepertinya tidak merisaukan pertanyaanku barusan. Nyatanya ia segera menyambung penjelasannya.

“Suamiku selingkuh, jadi kupikir mending bercerai saja. Lagi pula, sekarang ini keadaanku sudah cukup mapan. Karena itu meski mantan suamiku sering meminta ingin kembali, tapi dengan tegas selalu kutolak. Apalagi kedua anakku juga sudah besar. Mereka tidak pernah menanyakan Bapaknya. Ya, beginilah kehidupanku, dan aku merasa cukup bahagia meski tanpa suami. Oya, bagaimana keadaanmu rumah tanggamu, Retno?”

Karena ditodong pertanyaan seperti itu, akhirnya tanpa tedeng aling-aling kuceritakan bagaimana porak-porandanya keluargaku. Sebagai sahabat, sepertinya Yulianah sangat tersentuh mendengar ceritaku.

Ia berkata setelah menyimak ceritaku, “Aku ini tetap sahabatmu, Retno. Karena itu aku juga ingin melihat hidupmu bahagia. Masalahnya, apakah kau mau melakukan solusi yang akan kuberikan, dan apakah kau akan mempercayainya?”

“Seperti apa solusi yang kau tawarkan itu, Yul?” aku balik bertanya.

“Kau harus kawin dengan genderuwo!”

Betapa terkejutnya aku mendengar jawaban dari mulut mungil sahabatku ini. Bagaimana mungkin Yulianah yang sudah menyandang titel sebagai seorang Hajjah itu sampai tega hati menawarkan solusi sesat itu padaku?

Seolah bisa membaca keterkejutanku, Yulianah buru-buru menyambung ucapannya sambil tersenyum, “Kau jangan buru-buru berpikiran negatif! Kau pasti menyangka ini semacam pesugihan bukan? Sama sekali tidak, Retno! Menurutku ini halal. Kau akan dinikahkan dengan makhluk itu secara Islam. Selama kau menjadi isterinya, genderuwo itu akan menafkahimu secara lahir dan batin. Bila kau sudah merasa punya cukup modal, kau bisa bercerai dengannya. Dan yang paling penting, ritual ini tidak ada tumbal macam-macam. Asal kau tahu saja, aku bisa seperti ini juga kerana melakukan ritual itu. Setahun lalu aku minta cerai sebab aku sudah merasa punya cukup modal untuk berusaha sendiri. Genderuwo itu bersedia menceraikanku, dan sekarang hidupku tenang sebab aku juga bisa menjalankan ibadah.”

Setelah mendengar penjelasan Yulianah seperti itu, akupun mulai tertarik untuk mengikuti jejaknya. Terlebih lagi kehidupan saat itu memang sangat susah. Bapakku yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga sudah berhenti bekerja\ karena penyakit diabetes yang merongrong tubuhnya. Belum lagi aku juga harus memikirkan biaya sekolah dan masa depan kedua anakku. Walau bagaimana pun mereka harus terus sekolah dan kuliah sampai ke perguruan tinggi.

Dengan kedua alasan tersebut akhirnya aku meminta Yulianah untuk mengantarkanku ke rumah “orang pintar” yang katanya sudah biasa memandu ritual kawin dengan genderuwo itu.

Singkat cerita, Yulianah mempertemukanku dengan Ki Badrowi, sebetulah begitu, paranormal yang biasa mengawinkan manusia dengan genderuwo. Setelah mendengarkan penjelasan tentang keinginanku yang disampaikan oleh Yulianah, Ki Badrowi mengaku bersedia membantu. Namun aku diminta untuk mempersiapkan semua kelengkapannya, seperti Apel Jin dan berbagai sarana lain untuk selamatan ritual perkawinan itu nantinya. Yulianah bersedia membantuku menyaiaokan semua keperluan ini.

Benar juga kata Yulianah. Ritual perkawinan itu memang seperti halnya prosesi perkawinan dalam aturan hukum Islam. Artinya, ada saksi, penghulu, wali, pengantin, dan juga ijab kabul, bahkan juga mas kawin berupa cincin emas seberat 1 gram. Untuk wali langsung diwakilkan kepada Ki Badrowi, sebab ayahku memang tidak mungkin bisa dihadirkan. Jadi, dalam prosesi pernikahan itu Ki Badrowi bertindak sebagai wali sekaligus penghulunya.

Karena mempelai lelaki tak bisa dilihat oleh mataku, maka proses ijab kabul pun sangat janggal menurutku. Sama sekali tidak ada ucapan akad nikah, meski kemudian wali dan saksi langsung mengesahkannya.

Yang juga terasa aneh, setelah prosesi pernikahan selesai, Yulianah berbisik di telingaku, “Suamimu itu tampan sekali, Retno. Kau beruntung mendapatkannya!”

Tampan? Bagaimana mungkin Yulianah mengatakan ini padaku, padahal aku sama sekali tidak melihat keberadaan suamiku itu. Apakah memang Yulianah bisa melihat perwujudannya sehingga ia berkata demikian?

Aku tak tahu pasti. Yang jelas, aku meyakini kalau Yulianah hanya membohongiku. Buktinya, aku mengalami ketakutan yang teramat sangat ketika di malam Jum’at Kliwon itu suamiku gaibku datang dan ingin menjalankan kewajibannya di malam pertama. Memang, sesuai dengan pesan Ki Badrowi, malam pertamaku dengan suamiku yang genderuwo itu akan dimulai persis pada malam Jum’at Kliwon. Dan, menurut paranormal itu, setelah menjalankan kewajibannya di malam pertama, maka suamiku itu akan memberikan nafkah materinya berupa tumpukan uang dalam jumlah yang lebih dari mencukupi.

Persis di malam Jum’at itu kebetulan di kampung tempatku tinggal sedang ada orang hajatan dengan hiburan musik dangdut. Kedua anakku sejak sore sudah minta ditemani nonton. Karena ada niatan khusus, sudah tentu aku menyuruh mereka pergi nonton sendiri-sendiri. Yang tinggal di rumah ayahku yang terbaring sakit dan ibu yang selalu setia menemaninya.

Menjelang pukul 12 malam kedua anakku pulang, dan mereka tidur di kamar depan. Aku sendiri masih menunggu apa yang akan terjadi. Pintu kamar kukunci rapat-rapat, meski udara malam itu terasa sangat panas dan gerah.

Sesuai dengan pesan Ki Badrowi aku sudah berdandan cantik dengan pakaian yang diaromai oleh minyak khusus pemberian dukun itu, yang baunya cukup menyengat. Aku tak ubahnya seperti pengantin perempuan yang sedang menunggu kehadiran sang pengantin pria untuk menikmati bulan madu.

Menjelang pukul satu dinihari masih tetap tidak terjadi apa-apa. Akupun mulai lelah menunggu. Sambil menahan kantuk kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Ketika rasa kantuk sudah mulai menggayuti pelupuk mataku, antara sadar dan tidak aku dikejutkan oleh sesuatu yang terjadi di dalam kamarku.

Aneh sekali, sosok bayangan hitam sepertinya tiba-tiba muncul dari balik dinding. Beberapa saat kemudian bayangan itu semakin mempertegas wujudnya. Ya, seorang lelaki tinggi besar, berbadan hitam dan licin berkilat. Dan yang sungguh aneh, dia sama sekali tidak mengenakan pakaian walau sehelai benang pun.

Siapakah lelaki tinggi besar ini? Apakah dia genderuwo yang telah sah menjadi suamiku? Mengapa sosoknya sedemikian menyeramkan? Padahal, Yulianah bilang suamiku ini sangat tampan. Apakah Yulianah benar-benar sudah membohongiku?

Berbagai pertanyaan itu mendera batinku. Kulihat lelaki bugil itu berdiri sambil memandangi tubuhku. Kemudian pelan-pelan ia menunduk dan tangannya menyentuh pipiku. Aku bergidik dan berusaha berontak, namun anehnya seketika itu tubuhku berubah sangat kaku seperti terpasung oleh suatu kekuatan gaib.

Dengan sangat ketakutan aku hanya bisa pasrah menghadapi sentuhan makhluk itu. Setelah ia menyentuh pipiku, lalu ia mengendus aroma rambutku yang tergerai, lalu hidung dan bibirnya menjelar di permukaan pipi, hidung, bibir dan daguku.

Sejekap kemudian, lelaki menyeramkan itu seperti kalap. Tangannya yang kekar melingkar di sekujur tubuhku, hingga membuat nafasku semakin sesak. Bibirnya melumat bibirku, dan sepasang kakinya yang licin mengkilat itu mengapit kedua belah kakiku dan berusaha mengangkangkannya.

“Tolooong…!!” Aku ingin berteriak sekeras-kerasnya. Namun celakanya mulutku bagai tersumbat. Teriakanku hanya menggema di dalam rongga dadaku.

Tangan pria aneh itu semakin liar menggerayanghi tubuhku, sebelum akhirnya membuka bajuku dan melepaskan kain yang kupakai. Desah nafasnya yang memburu bagaikan sebuah kekuatan hipnotis yang membuatku hampir saja hilang kesadaran.

Tetapi, Tuhan menyayangiku. Dalam keadaan yang sangat kritis itu tiba-tiba saja mulutku berucap dengan lantang, “Astagfirullah…Allahu Akbar…Laa Khaula Walaa Kuwwata Illah Billah…!!”

Ya, sekali ini suara itu benar-benar keluar dari mulutku. Dan yang terjadi di hadapanku sungguh sebuah kenyataan yang sulit dimengerti.

Mendadak saja lelaki telanjang itu terpental dari atas tubuhku, sambil mengerang keras seperti seekor anjing yang terluka. Bersamaan dengan itu tubuhku yang semula kaku dapat digerakkan kembali. Spontan aku melompat dari tempat tidur sambil menjerit-jerit memuji kebesaran Allah.

“Laa Ilaaha Illallah…Allahu Akbar…Subhanallah…!”

Pujian-pujian itu keluar begitu saja dari mulutku, dengan suara yang lantang. Sama seperti kejadian semula, sosok makhluk itu mengubah wujudnya menjadi bayangan hitam lalu hilang seolah masuk ke dalam dinding.

Tak lama kemudian kedua anakku menggedor-gedor pintu sambil memanggil-manggil “mama”. Ketika pintu kubuka mereka langsung berhamburan memelukku dan langsung bertangisan.

“Apa yang terjadi, Ma?” tanya Angga, anak sulungku.

Aku hanya menggeleng-geleng sambil membiarkan air mataku mengalir deras membasahi sekujur wajahku. Sungguh aku tak kuasa menjelaskan semua ini kepada kedua anakku. Aku tak ingin melukai perasaan mereka. Aku tak ingin mereka menudingku telah melakukan kesesatan hanya karena tak tahan menanggung kesusahan hidup….

Siang setelah malamnya mengalami kejadian aneh tersebut, Yulianah datang menemuiku dan mengatakan kalau aku telah gagal dalam melakukan ritual.

“Biarlah kujalani kehidupan seperti ini, Yul! Aku tak ingin lagi melakukan ritual kawin dengan genderuwo itu,” kataku setelah mendengar penjelasan Yulianah.

Meski mengaku kecewa, namun Yulianah cukup mengerti dengan perasaanku. Sebagai sahabat, ia juga meminta agar aku tidak sungkan-sungkan meminta bantuan padanya bila aku memerlukannya. Namun sejujurnya, aku tak pernah berani meminjam uang kepada sahabatku ini walau dalam keadaan sesulit apapun. Ini semata-mata kulakukan karena aku takut sesuatu akan terjadi terhadap diriku.

Ketika kuputuskan mencurahkan kisah ini kepada Bung Prayoga Gemilang, tak terasa sudah hampir setengah tahun peristiwa itu berlalu. Walau begitu, aku masih mengalami perasaan traumatik, sebab bayangan lelaki alam gaib itu masih sering menghantuiku. Ia sering datang dalam mimpiku dan menagih malam pertamanya padaku.

Kenyataan tersebut sejujurnya membuat hidupku sangat tercekam. Karena itulah kumohon kepada Bung Prayoga agar memberikan doa atau amalan untuk menghilangkan keanehan ini. Dan aku juga ingin agar diberi kemudahan dalam mencari rezeki, sebab kini aku menjalankan usaha mengkreditkan barang kebutuhan rumah kepada para konsumen. Aku juga ingin Bung Prayoga menerawang jejak keberadaan suamiku. Semoga Bung Prayoga dapat memberikan solusi yang terbaik bagiku….

Tanggapan:

AMALAN DOA MAHA REZEKI

Pengalaman hidup Mbak merupakan pelajaran yang sangat berarti. Karenanya jangan pernah meningalkan untuk meminta perlindungan kepada Allah agar tidak tergelincir dan terhindar dari bujukan setan.

Ada beberapa kiat yang dapat kita lakukan agar usaha kita selalu lancar, antara lain: Memperbanyak membaca istighfar, rajin bersedekah. Memperbanyak jalinan silaturahmi. Isthiqomah melaksanakan solat dhuha. Tawakal dari segala urusan, dan senantiasa meningkatkan kualitas takwa serta selalu berdoa.

Nah, pada kesempatan yang berbahagia ini saat akan ijazahkan khusus buat Mbak sebuah amalan yang disebut dalam Ilmu Hikmah sebagai Doa Maha Rezeki. Doa ini telah dibuktikan dan diamalkan oleh para auliya dan sholihin terdahulu dalam rangka untuk menarik rezki yang banyak lagi halal (tentunya dibarengi dengan usaha lahiriyah), serta dijauhkan dari segala macam bentuk kemiskinan dan kepapaan.

Cara mengamalkannya:

1. Malam hari setelah shalat Isya’ atau lebih baik lagi pada tengah malam, lakukanlah salat hajat 2 rakaat atau 4 rakaat.

2. Bacalah salawat nabi ini sebanyak 1000x: ASSHOLATU WASSALAMU ‘ALAIKA WA AALIKA YA SAYIDI,
YA ROSULALLAH, AGITSNI SARI’AN BI’IZZATILLAH.
(Artinya: Rahmat serta keselamatan semoga tetap uhtukmu dan keluargamu, wahai junjungan kami, wahai utusan Allah, tolonglah aku segera dengan kemuliaan Allah).

3. Setelah itu bacalah doa ini dengan penuh kekhusukan sebanyak 7 kali atau lebih (Sebaiknya hitungan ganjil, karena Allah menyukai yang ganjil): BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM. ALLAAHUMMA ROBBANAA ANZIL ‘ALAINA MAA IDATAM MINAS SAMAAI TAKUUNA ‘IIDAN LI-AWWLAINAA WA AAKHIRINAA WA AAYATAN MINKA WARZUQNAA WA ANTA KHOIRUR ROOZIQIIN, ALLOOHUMMA IN KAANA
RIZQUNAA FIS SAMAA-I FA ANZILHU WA IN KAANA FIL MAAI WAL BAHRI FA ATHLFHU WA IN KAANA RIZQUNAA BA’IIDAN FAQORRIBHU WA INKAANA RIZQUNAA QOLIILAN FA AKTSIRHU WA IN KAANA RIZQUNAA
‘AASIRON FAYASSIRHU LANAA WALTANQULNAA ILAIHI HAITSU MAA KAANA BIFADHLIKA WUJUUDIKA WA-KAROMIKA BIROHMATIKA YAA ARHAMARROOHIMIIN.
(Artinya: “Ya, Tuhan kami, turunkanlah atas kami makanan dari langit di mana (makanan itu) menjadi hari raya bagi orang-orangyang mendahului dan mengakhiri kami, serta menjadi bukti dari-Mu. Engkau adalah sebaik-baik Dzat yang memberi rezki. Ya, Allah, apabila rezki kami berada di atas langit maka turunkanlah ia untukkami; dan apabila berada diperut bumi maka keluarkanlah ia untuk kami; dan apabila berada di dalam air atau di dasar lautan maka munculkan-lah ia untuk kami; dan apabila rezki kami itu jauh, maka dekatkanlah; apabila rezki kami itu sedikit maka perbanyaklah; dan apabila rezki kami itu sulit, maka mudahkanlah untukkami. Dan hendaknyamemboyongkami kepada rezki tersebut di mana ia berada, dengan kemurahan dan kemuliaan-Mu serta rahmat-Mu w.ahai dzat yang paling penyayang).

Lakukanlah Amalan Doa Maha Rezeki ini setiap hari secara tekun dan rutin sampai Anda benar-benar mendapat pertolongan Allah. Doa ini juga baik diamalkan ketika Anda sudah sukses. Insya Allah Anda tidak akan kembali terpuruk dalam kesulitan ekonomi.

Demikian panduan amalan Doa Maha Rezeki, semoga Mbak senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah. Khusus mengenai suami, saran saya bertawakallah kepada Allah. Sepertinya sulit untuk berharap dia akan kembali. Semoga bermanfaat…!

Sumber: http://kotakhitamdunia.blogspot.com