Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 November 2012

SEBELUM BEREAKSI


Baca: Filipi 4:2-9


... semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4:8)

Bacaan Alkitab Setahun:
Galatia 1-3

Surat dari seorang rekan membuat apa yang sudah saya rencanakan jadi berantakan. Berbagai pemikiran berbaris di kepala saya. Kemarahan atas isi suratnya. Kekhawatiran akan persepsi orang yang dibentuk olehnya. Penilaian jelek saya tentang karakter rekan tersebut. Juga skenario balasan untuk mematahkan argumennya. Sukar memikirkan hal-hal yang baik tentang orang itu maupun cara-cara yang bersahabat untuk menyelesaikan masalah. Pemikiran negatif saya memicu reaksi yang negatif pula.

Paulus tampaknya menyadari kecenderungan reaksi semacam ini. Mungkin itulah sebabnya, di tengah perselisihan antara Euodia dan Sintikhe di jemaat Filipi (ayat 2), ia memberi nasihat untuk mengarahkan fokus pemikiran pada hal-hal yang positif (ayat 8). Bukan berarti mengabaikan masalah, melainkan tidak terus berputar-putar dalam masalah. Memikirkan apa yang Tuhan ingin dilakukan anak-anak-Nya adalah langkah yang seharusnya diambil. Menjunjung kebenaran dan berani mengakui kesalahan. Mengambil putusan yang objektif. Menegur kesalahan dengan kasih, memberi dorongan semangat. Berinisiatif untuk memulihkan hubungan. Fokusnya bukan membenarkan diri sendiri, tetapi melakukan apa yang berkenan di hati Tuhan. Ini adalah kesaksian yang indah bagi orang-orang yang melihatnya.

Apa yang kita biarkan menguasai pikiran kita akan sangat memengaruhi tindakan-tindakan kita. Ketika kemarahan, keluhan, kesedihan, mulai menguasai diri, tahan diri untuk langsung bereaksi. Datanglah pada Tuhan memohon damai sejahtera-Nya melingkupi. Minta pertolongan Tuhan untuk mengarahkan pikiran kita pada hal-hal yang berkenan di hati-Nya.—ELS 
TUHAN, KUASAI PIKIRANKU DENGAN PIKIRAN-MU,
AGAR AKU DAPAT MELAKUKAN HAL-HAL YANG MENYUKAKAN HATI-MU.

Kamis, 22 November 2012

BUDAYA MENIRU


Baca: Keluaran 23:20-33


“Janganlah engkau sujud..., dan janganlah engkau meniru perbuatan mereka...” (Keluaran 23:24)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kisah Para Rasul 15-16

Para pemuda di gereja kami antusias membicarakan teknologi handphone yang maju demikian pesat. Jika salah satunya punya handphone terbaru dengan fitur yang lebih canggih, yang lain akan tertarik dan berkeinginan membelinya juga. Mental menginginkan dan meniru kepemilikan dan perilaku orang lain memang tertanam dalam diri manusia, sejak dulu.

Tuhan melihat kecenderungan manusia dalam meniru hal-hal yang ada dan terjadi di sekitarnya. Dalam perjalanan Bangsa Israel dari tanah perbudakan menuju tanah perjanjian, Tuhan memberikan peraturan-peraturan untuk mereka taati. Di antaranya, peraturan agar mereka tidak meniru perbuatan-perbuatan bangsa-bangsa lain—tidak boleh sujud menyembah dan beribadah kepada allah bangsa-bangsa yang tinggal di sana (ayat 24). Perbuatan mereka—orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus—jelas-jelas tidak berkenan di hati Tuhan dan karena itu mereka akan dilenyapkan (ayat 23). Sangat bodohlah orang yang coba-coba mengikuti jejak mereka. Lalu apa yang berkenan kepada Tuhan? Bangsa Israel diberitahu dengan jelas: mereka harus beribadah kepada Tuhan!

Meniru bisa merupakan sesuatu yang baik, tetapi apa yang ditiru, itu yang mesti diwaspadai. Sebagai pengikut Kristus, kita diminta meniru teladan-Nya (1 Korintus 11:1). Firman Tuhan harus selalu dijadikan patokan (ayat 21-22), guna mengevaluasi apakah perbuatan, kebiasaan, gaya hidup, adat istiadat, dan berbagai hal lain di sekitar kita layak ditiru atau tidak. Pikirkanlah beberapa praktik hidup yang kita adopsi selama ini. Adakah yang harus kita ubah karena tidak sesuai dengan firman Tuhan?—YKP 
HATI-HATI DENGAN APA YANG ANDA TIRU.
UJILAH SEGALA HAL DENGAN FIRMAN TUHAN LEBIH DULU.

Rabu, 21 November 2012

JIWA PENGKRITIK


Baca: Roma 14:1-12


Tetapi engkau, mengapa engkau menghakimi saudara seimanmu? Atau mengapa engkau menghina saudara seimanmu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. (Roma 14:10)

Bacaan Alkitab Setahun:
Yakobus

Jerry Bridges bercerita tentang seorang ayah yang sering sekali mengkritik anak perempuannya seolah-olah ia tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Anak ini tumbuh sebagai anak yang merasa tertolak dan ketika dewasa ia mencari orang-orang yang bisa membuatnya merasa diterima. Ketika ayahnya sadar, anak ini sudah hidup dalam seks bebas dan menjadi pecandu kokain. Kasus ini termasuk ekstrem, tak semua kritik bisa menimbulkan dampak separah itu. Namun, pada dasarnya, semangat mengkritik dan menghakimi memang bersifat menghancurkan.

Keharmonisan jemaat di Roma pernah rusak karena jiwa pengkritik. Dari komentar Paulus, tampaknya ada dua masalah yang membuat mereka saling menghakimi. Yang pertama adalah masalah makanan (ayat 2). Yang kedua adalah masalah hari-hari khusus (ayat 5). Berbeda pendapat boleh-boleh saja, tetapi dalam kasus ini, mereka mulai saling menghakimi dan menghina. Masing-masing kelompok merasa paling benar dan atau memandang rendah kelompok yang berbeda dengan mereka. Paulus pun menegur mereka dengan keras. Seolah ia hendak berseru: Allah-lah Hakimnya! Mengapa kalian bertindak sebagai Allah bagi orang lain?

Hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan jelas perlu ditegur. Namun, berhati-hatilah agar ketika melakukannya kita tidak terjebak dalam sikap merasa diri paling benar dan merendahkan orang yang punya pendapat berbeda. Ungkapkanlah ketidaksetujuan kita dengan cara yang bijak, tidak kasar, apalagi sampai membunuh karakter seseorang. Sadarilah bahwa kita pun masih jatuh bangun dalam dosa dan membutuhkan kasih karunia. —MEL 
TEGURAN DALAM KASIH SANGAT DIPERLUKAN.
NAMUN, JIWA YANG SUKA MENGKRITIK DAPAT MENGHANCURKAN.

Selasa, 20 November 2012

HARUS JADI NOMOR SATU?


Baca: 1 Korintus 9:24-27


Tidak tahukah kamu bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu, larilah sedemikian rupa, sehingga kamu memperolehnya! (1 Korintus 9:24)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kisah Para Rasul 13-14

Seorang pemuda menulis di blog-nya: “Belakangan saya merasa, hidup ini adalah sebuah persaingan. Orang-orang bersaing untuk mendapat kepuasan, kesuksesan, dan berbagai hal lainnya. Mulai dari tukang jualan, tukang ojek, supir angkot, mahasiswa, karyawan, semuanya ingin mendapatkan yang lebih baik daripada orang lain. Dalam kehidupan spiritual pun orang bersaing mendapatkan amal baik sebanyak-banyaknya demi pintu surga-Nya ....” Apakah Anda juga menganggap kehidupan ini adalah sebuah medan persaingan?

Membaca tulisan Paulus dalam ayat 24 ada kesan bahwa orang kristiani harus bisa bersaing dan jadi nomor satu. Namun, jika kita perhatikan lagi, Paulus sebenarnya sedang memberi ilustrasi tentang sikap berusaha sebaik mungkin untuk memperoleh hadiah yang telah disediakan. Dalam perlombaan, hadiah utamanya hanya satu, tetapi dalam kehidupan kristiani, kita semua dapat menerima hadiah yang disediakan Tuhan. Paulus tidak sedang mendesak jemaat untuk saling bersaing. Sebaliknya, ia sedang mendorong mereka untuk melakukan segala sesuatu bagi Tuhan dengan intensitas yang sama seperti seorang pelari dalam lomba.

Kompetisi yang sehat dapat menjadi arena yang baik untuk mendorong orang memberikan apa yang terbaik. Namun, jiwa bersaing yang selalu ingin menang sendiri adalah sikap yang egois, lahan subur bagi iri hati, cemburu, dan perseteruan. Kita kehilangan sukacita ketika orang lain berhasil karena cenderung memandang mereka sebagai lawan. Pertanyaan yang seharusnya diajukan untuk memacu diri bukanlah: “Apakah kita menang?”, melainkan, “Apakah kita telah melakukan yang terbaik?”—ITA 
MEMBERIKAN YANG TERBAIK ADALAH WUJUD PENGHORMATAN KITA KEPADA TUHAN.

Senin, 19 November 2012

ORANG-ORANG KUDUS


Baca: 1 Korintus 1:1-9


... kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, ... (1 Korintus 1:2)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kisah Para Rasul 11-12

Mendengar istilah “orang kudus” mungkin membuat kita memikirkan para tokoh yang digelari Santo dan Santa, atau setidaknya seseorang yang sangat baik dan murah hati sepanjang hidupnya. Tak mungkin kita memberi gelar tersebut pada orang-orang yang keras kepala dan sombong, penuh iri hati dan perselisihan, suka menghakimi, bahkan saling menuntut dalam pengadilan, bukan? Apalagi jika mereka bobrok secara moral dan menyelewengkan praktik-praktik rohani untuk kepentingan sendiri. Namun, itulah kondisi jemaat di Korintus, dan ... mereka disebut Paulus sebagai “orang-orang kudus”.

Apa gerangan yang Paulus maksudkan? Kata Yunani untuk “orang kudus” adalah hagios, yang secara harfiah bisa diartikan sebagai “orang yang dipisahkan atau dikhususkan”. Dipisahkan untuk siapa? Untuk Tuhan. Tiap orang yang telah menerima keselamatan dalam Yesus Kristus, telah dipisahkan sebagai milik kepunyaan-Nya (lihat juga Titus 2:14). Makna kata ini tidak merujuk pada karakter seseorang, tetapi status keberadaannya di hadapan Tuhan. Kekudusan tidak diperoleh oleh perbuatan-perbuatan manusia, melainkan oleh karya Tuhan sendiri. Setelah mengawali suratnya dengan sebutan “orang kudus”, Paulus kemudian mendorong jemaat Korintus untuk bersikap sesuai dengan statusnya itu.

Sebagai orang-orang tebusan Kristus, kita memiliki status yang sama dengan jemaat Korintus. Kita telah dipisahkan untuk Tuhan dan diberi tanggung jawab untuk hidup sesuai status tersebut. Adakah tutur perilaku kita yang perlu diubah agar kehidupan kita sesuai dengan status kita sebagai orang-orang kudus?—ITA 
KETIKA MENERIMA KRISTUS, ANDA MENJADI ORANG KUDUS.
DIA RINDU ANDA HIDUP DENGAN PERILAKU KUDUS.

Minggu, 18 November 2012

YANG LEMAH, YANG BERHASIL


Baca: Zefanya 3:9-20


Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama Tuhan. (Zefanya 3:12)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kisah Para rasul 9-10

Menurut Anda, apakah resep untuk bangkit dari kegagalan? Nasihat yang umum kita dengar adalah berpikir positif, percaya pada kekuatan dalam diri kita untuk meraih keberhasilan. Lalu, mengarahkan diri untuk giat melakukan hal-hal yang akan membawa kita ke sana. Kita harus kuat jika ingin berhasil, tidak boleh lemah dan membiarkan diri dikuasai pikiran pesimis.

Dalam janji Tuhan yang disampaikan Nabi Zefanya, terselip resep bangkit dari kegagalan yang agak ganjil. Yang akan Tuhan pulihkan bukanlah umat yang gagah perkasa dan mengalahkan bangsa-bangsa, atau yang sangat berhikmat dan giat membangun kembali kejayaannya sendiri. Bukan umat yang kuat dan percaya diri, tetapi umat yang “rendah hati dan lemah”. Mengandalkan kekuatan sendiri justru adalah kecongkakan yang akan disingkirkan Tuhan (ayat 11), sebaliknya mereka yang pesimis dengan kekuatan diri dan berbalik mencari Tuhan justru dipelihara-Nya. Atas mereka Tuhan bergirang dan akan bertindak (ayat 16-19), bahkan akan membuat mereka menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa (ayat 20).

Rendah hati dan lemah tidak sama dengan mengasihani diri dan duduk berpangku tangan. Sebaliknya, orang yang demikian justru aktif mencari pertolongan Tuhan. Sadar akan kecenderungannya untuk berdosa, ia memilih untuk hidup sesuai tuntunan firman Tuhan (ayat 13). Ia sabar menanti waktu Tuhan sembari terus hidup dalam ketaatan. Manusia yang terpuruk dalam dosa diselamatkan ketika memilih jalan yang disediakan Tuhan, bukan mengandalkan kebaikan diri sendiri. Ketika terpuruk dalam kegagalan sehari-hari, apakah kita juga memilih mengandalkan-Nya?—ELS 
KELEMAHAN YANG MEMBUAT KITA MENGANDALKAN TUHAN
MENJADI KEKUATAN KITA.

Jumat, 16 November 2012

PENCEMBURU DAN PEMBALAS


Baca: Nahum 1:1-8


Tuhan itu Allah yang cemburu dan pembalas, ... Tuhan itu baik ... Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya, ... Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, .... (Nahum 1:2, 7-8)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kisah Para Rasul 4-6

Mungkinkah orang yang cemburuan dan pemarah, suka mendendam, juga adalah orang yang baik dan berlaku adil? Rasanya mustahil. Orang yang cemburuan dan lekas marah biasanya tidak objektif menilai sesuatu. Hati pendendam baru puas kalau orang lain mengalami apa yang ia alami.

Lalu, mengapa Tuhan memakai kata-kata yang saling bertolak belakang ini untuk menggambarkan diri-Nya? Apa Dia punya kepribadian ganda? Nabi Nahum menjelaskan bahwa semua tindakan Tuhan itu didasarkan pada kemahatahuan-Nya. Tak seperti manusia yang tidak serbatahu dan bisa salah menyimpulkan. Tuhan mengenal siapa yang patut dikasihani dan siapa yang patut dihukum (ayat 3, 7). Penghukuman yang dinubuatkan Nahum kepada penduduk Niniwe ini bukanlah luapan kemarahan yang membabi buta. Tuhan sudah lama memberi belas kasihan bagi mereka, tetapi mereka tidak bertobat (ayat 9, lihat Yunus 4:11).

Mengenal Tuhan sebagai Pribadi yang Mahatahu membuat kita tak cepat menghakimi Tuhan tatkala Dia mengizinkan sesuatu yang buruk terjadi dalam hidup ini. Kita tahu Dia bertindak dalam kebenaran, bukan seperti kita yang sering dikendalikan luapan emosi. Pengenalan ini seharusnya juga mendorong kita untuk hidup dalam takut akan Dia, tahu bahwa kebenaran-Nya tidak akan berkompromi dengan dosa. Tiap kesempatan yang Dia berikan adalah kasih karunia yang harus kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Pengenalan ini dapat menjadi kengerian bagi orang-orang yang menentang Dia, tetapi juga dapat menjadi pengharapan dan jaminan perlindungan bagi orang-orang yang mencari Dia. Termasuk kelompok yang manakah kita?—ELS 
ALLAH YANG MAHATAHU TIDAK PERNAH SALAH BERTINDAK.
KASIH KARUNIA-NYA CUKUP BAGI MEREKA YANG DATANG PADA-NYA.

Kamis, 15 November 2012

ALLAH YANG DISEBUT BAPA


Baca: Matius 7:7-11


Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (Matius 7:11b)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kisah Para Rasul 1-3

Saya agak gemas ketika tawaran saya untuk membelikan sesuatu ditolak oleh anak teman saya. “Tanya papa dulu,” katanya. Belakangan teman saya menjelaskan, “Memang aku ajarin anak-anakku supaya sekali-kali tidak minta sama orang lain. Kalau ada kebutuhan, mereka harus belajar minta sama aku. Memang tidak semua permintaan mereka langsung aku kabulkan, tetapi mereka tahu kalau tidak diberi itu pasti ada alasannya. Papa tahu yang terbaik buat mereka. Mereka harus minta sama papa, bukan orang lain.”

Kisah teman saya dengan anaknya mengingatkan saya pada suatu hal yang luar biasa tentang Allah. Yesus menyebut Allah sebagai Bapa kita di surga (ayat 11). Bapa yang senang mendengarkan permintaan anak-anak-Nya, memberikan apa yang baik bagi mereka. Meski para ayah di dunia terbatas, gambaran ini menolong kita mengenal Pribadi Allah. Berbeda dengan para ayah di dunia, Bapa kita di surga punya segala kemampuan untuk mengabulkan permintaan kita. Dia tahu apa yang terbaik dan kapan waktu terbaik untuk memberikannya. Seorang ayah tentu tidak akan memberikan sesuatu yang belum siap diterima anaknya, atau yang bisa membahayakan dirinya. Dan lebih dari para ayah di dunia, Bapa di surga ingin anak-anak- Nya menunjukkan kepercayaan dan pengharapan mereka dengan meminta kepada-Nya, bukan kepada yang lain.

Berapa sering kita sungguh-sungguh berharap dan bertekun dalam doa? Mungkin lebih sering kita berpikir, “AhTuhan sudah tahu, mengapa harus berdoa?” Kebenaran ini sederhana, tetapi sering terlupakan: Allah adalah Bapa yang senang mendengarkan dan memberikan yang baik bagi anak-anak-Nya.—ELS 
BAPA SENANG KETIKA ANAK-ANAK-NYA BERGANTUNG KEPADA-NYA.
MEMBERIKAN YANG TERBAIK ADALAH KEAHLIAN-NYA.

Rabu, 14 November 2012

ALLAH YANG HIDUP


Baca: Yeremia 10:1-16


Tetapi Tuhan adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal ... 
(Yeremia 10:10)

Bacaan Alkitab Setahun:
Lukas 24; Yohanes 20-21

Pernah melihat anak-anak yang asyik berbicara sendiri saat bermain? Seolah-olah ada seseorang di sampingnya yang mendengar dan menanggapi, seorang teman imajinasi. Menurut para ahli psikologi, fenomena ini wajar dalam pertumbuhan anak. Orangtua tak perlu khawatir, tetapi perlu memantau agar persahabatan imajiner itu tidak mengalihkan anak dari kehidupan nyata.

Meski sama-sama tak terlihat, Allah bukanlah pribadi hasil imajinasi. Alam semesta dan isinya adalah bukti nyata keberadaan-Nya (ayat 12-13). Dalam taraf tertentu, angin, hujan, dan unsur alam lainnya dapat dikendalikan manusia, tetapi Siapa yang membuat semua itu dan berkuasa menghadirkannya dalam musim-musim yang berbeda di berbagai belahan dunia? Siapa gerangan yang meletakkan emas dan perak di perut bumi untuk ditambang manusia dan menumbuhkan pepohonan kayu di hutan-hutan raya? Betapa gemasnya Tuhan karena semua bukti itu tak membuat umat Israel mengakui dan menghormati keberadaan-Nya. Mereka justru datang memohon pada patung-patung dari emas dan perak. Mereka berusaha menyenangkan dewa-dewa dari kayu, takut dimurkai, seolah-olah benda-benda mati itu hidup. Sementara, Allah yang hidup justru mereka abaikan. Betapa bodohnya!

Seberapa sering kita mendengarkan dan berbicara kepada Allah sebagai Pribadi yang hidup? Seberapa kita yakin bahwa Dia dapat mendengarkan dan dapat berbicara? Bagaimana seharusnya kita bersikap bilamana kita yakin bahwa Dia nyata dan sungguh hadir dalam hari-hari kita? Berhati-hatilah agar imajinasi kita tentang dunia yang semu tidak mengalihkan pandangan kita dari Allah yang hidup!—LIT 
ALLAH BUKANLAH HASIL IMAJINASI MANUSIA.
DIA ADALAH SANG PENCIPTA YANG SUNGGUH HIDUP DAN BERKUASA.

Senin, 12 November 2012

BANGGA AKAN TUHAN


Baca : Yeremia 9:23-26


Tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku ... sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman Tuhan.  (Yeremia 9:24)

Bacaan Alkitab Setahun:
Lukas 23; Yohanes 18-19

Seorang pemuda yang saya kenal punya banyak tindikan, dua di masing-masing telinga, satu di dagu, dan dua di lidah. “Dulu lebih banyak lagi,” katanya bangga. Saya bertanya bagaimana awalnya ia punya banyak tindikan, tidakkah itu terasa menyakitkan? Ia mengaku bahwa ia terpancing dengan ucapan seorang gadis bertindik yang meremehkan keberaniannya melakukan hal serupa. Dengan bertindik ia bisa membanggakan diri bahwa dirinya adalah seorang lelaki pemberani.

Anda dan saya mungkin tidak bertindik, tetapi kita tentu sama-sama punya sesuatu yang dibanggakan, atau setidaknya ingin kita banggakan, karena kita tahu itu sesuatu yang istimewa. Namun, ternyata apa yang di mata manusia istimewa, tidaklah berarti di mata Tuhan (ayat 23). Kegiatan rohani pun tidak: tanda sunat yang dimiliki bangsa Israel bukan sesuatu yang layak dimegahkan, demikian pula potongan rambut tertentu dari bangsa-bangsa lain sebagai salah satu tanda ibadah mereka (ayat 25-26). Hukuman justru sudah menanti karena hati mereka tidak tertuju pada Tuhan (ayat 26). Lalu apa yang boleh dibanggakan? Tuhan sendiri! (ayat 24). Sang Pencipta ingin agar umat-Nya bangga karena diberi kehormatan yang istimewa untuk mengenal Dia, dan menghargai kasih karunia itu dengan sungguh-sungguh berusaha memahami isi hati-Nya.

Seberapa istimewa pengenalan akan Tuhan di mata Anda? Seberapa penting itu bagi Anda? Mengenal Tuhan berbicara tentang sebuah relasi yang intim. Dimulai dari sikap hati yang penuh syukur menanggapi kasih karunia-Nya, kemauan untuk memperhatikan firman-Nya, dan ketaatan untuk melakukan apa yang disukai- Nya.—LIT 
TAK KENAL TUHAN, MAKA TAK SAYANG, APALAGI BANGGA.
MAKIN KENAL, MAKIN SAYANG, MAKIN KITA BISA BERBANGGA AKAN DIA.

Sabtu, 10 November 2012

NYANYIAN YANG MENYEMBAH


Baca : Kolose 3:12-17


Hendaklah ajaran-ajaran Kristus yang penuh berkat meresap ke dalam hatimu. Hendaklah kalian saling mengajar dan saling memberi nasihat sebijaksana mungkin. Nyanyikanlah mazmur dan puji-pujian serta lagu-lagu rohani; bernyanyilah untuk Allah dengan perasaan syukur di dalam hatimu. (Kolose 3:16 B.I.S)

Bacaan Alkitab Setahun:
Yohanes 14-17

Agama Kristen adalah agama yang bernyanyi. Julukan ini sangat tepat karena nyanyian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat Allah. Sekitar setengah ibadah diisi oleh musik dan nyanyian pujian. Alkitab pun memuat begitu banyak referensi tentang betapa Allah menyukai nyanyian pujian. Namun, sadarilah bahwa tindakan menyanyikan lagu rohani tidak otomatis menjadikan hal tersebut sebagai penyembahan. Seringkali kita memuji Tuhan secara lahiriah tetapi tidak benar-benar menyembah Dia.

Bilamanakah suatu nyanyian menjadi penyembahan yang menyenangkan Allah? Ada tiga hal yang dapat kita amati dari nas hari ini. Pertama, nyanyian ini harus dipersembahkan oleh orang-orang percaya. Nasihat Paulus disampaikan kepada orang-orang yang telah menerima Kristus dan dibenarkan oleh-Nya (ayat 12). Hanya orang-orang yang demikian yang dapat memuji Allah atas karya keselamatan-Nya. Orang tidak percaya bisa saja menyanyikan lagu rohani dengan baik tetapi ia tidak sedang menanggapi pribadi dan karya Allah. Ia tidak sedang menyembah Allah. Kedua, nyanyian pujian harus selaras dengan Firman. Perkataan Kristus harus melandasi dan menuntun nyanyian kita (ayat 16). Akhirnya, nyanyian pujian harus ditujukan secara sadar kepada Allah (ayat 17). Melalui nyanyian pujian, kita berkomunikasi dengan Allah.

Marilah melantunkan nyanyian pujian bukan karena kita ikut-ikutan orang lain atau hanya menjalankan kewajiban agamawi. Namun, kita bernyanyi dengan didasari oleh Firman dan iman. Niscaya, pujian kita akan memperkenankan hati-Nya.—JIM 
TANPA HATI PENYEMBAHAN, ENGKAU HANYA BERMAIN MUSIK,
BUKAN MENYEMBAH!—BOB KAUFLIN

Jumat, 09 November 2012

PENYEMBAHAN YANG DIKORTING


Baca: Maleakhi 1:6-14


Kamu berkata: “Lihat, alangkah susah payahnya!” dan kamu menyusahkan Aku, firman Tuhan semesta alam. Kamu membawa binatang yang dirampas, binatang yang timpang dan binatang yang sakit, kamu membawanya sebagai persembahan. Akan berkenankah Aku menerimanya dari tanganmu? firman Tuhan. (Maleakhi 1:13)

Bacaan Alkitab Setahun:
Lukas 22; Yohanes 13

Saya pernah ditipu seorang penjual mangga. Ceritanya begini, sewaktu jalan-jalan di pasar, saya tertarik dengan mangga yang dijajakan seorang penjual. Mangga yang ditampilkan begitu ranum. Saya pun membeli beberapa kilo. Sesampainya di rumah, saya kaget karena mangganya belum matang. Ternyata, ia menaruh mangga matang hanya sebagai pajangan. Jika pembelinya tidak jeli seperti saya, ia akan mengambil mangga dari keranjang yang kualitasnya lebih rendah.

Tuhan juga pernah “ditipu” oleh umat-Nya. Mereka berjanji akan memberikan hewan terbaik sebagai kurban persembahan kepada Allah karena mereka memang mampu (ayat 14). Faktanya, mereka malah membawa hewan cacat, sakit, dan hasil rampasan (ayat 8, 13). Betapa ini adalah suatu penghinaan dan kejahatan di mata Allah (ayat 6-8a). Dia tidak berkenan atas persembahan mereka (ayat 10). Kualitas persembahan mereka menunjukkan sikap hati mereka kepada Allah. Jika mereka sungguh mengakui kebesaran dan kemahakuasaan Allah, bukankah sudah sepatutnya mereka menghormati dan memberikan yang terbaik bagi-Nya (ayat 11)?

Kapankah kita menipu Tuhan dalam penyembahan? Ketika kita mengorting apa pun yang sebenarnya kita bisa lakukan dengan optimal. Allah layak menerima keseluruhan hidup kita dalam menyembah-Nya; tak sebatas pada ibadah di dalam tembok gereja, tetapi juga di luar gereja—pekerjaan dan karya kita di tengah dunia. Mari kita belajar memberi yang terbaik kepada-Nya sebagai wujud penyembahan kita.—JIM 
PENYEMBAHAN YANG TERBAIK ADALAH BUKTI
DARI RASA HORMAT DAN KASIH KITA KEPADA ALLAH.

MENANGGAPI SIAPA?


Baca: Mazmur 95:1-11


Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu ... (Mazmur 95:7)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 26; Markus 14

Apa Anda merasa terganggu melihat orang yang memuji Tuhan sambil bergoyang dan menari-nari? Atau sebaliknya, apa Anda merasa terganggu ketika melihat orang menyanyi dengan tenang dan diam di tempat saja? Menurut Anda, bagaimana seharusnya orang memuji dan menyembah Tuhan?

Kata Ibrani untuk berbagai ekspresi penyembahan menariknya memang terkait dengan postur tubuh. Misalnya: mengucap syukur=merentangkan tangan, memuji=berlutut, menyembah=sujud hingga wajah menyentuh tanah. Pengalaman akan Tuhan tak hanya memengaruhi pikiran, tetapi seluruh tubuh untuk berespons kepada-Nya. Dalam Mazmur 95, pemimpin ibadah mengajak umat menyembah Tuhan dengan dua ekspresi yang kontras. Yang pertama gegap gempita, sarat sorak dan pujian, kemungkinan besar dengan musik dan tari-tarian (ayat 1-2). Yang kedua hening teduh, diam di tempat dan bersujud khidmat. Namun, kedua ekspresi itu sama-sama dikaitkan dengan pengalaman dan pemahaman akan pribadi dan karya Tuhan: “Sebab Tuhan adalah Allah yang besar ...Sebab Dialah Allah yang menuntun kita ...” (ayat 3, 7). Ini adalah prinsip yang penting. Penyembahan bukanlah sekadar rangkaian kata atau gerakan tubuh, tetapi tanggapan hati terhadap Tuhan. Tidak ada penyembahan yang lahir dari hati yang keras, yang meragukan Tuhan dan tidak mengakui perbuatan-perbuatan-Nya (ayat 9).

Ketika kita tergoda menilai cara orang lain menyembah Tuhan dalam ibadah bersama, ingatlah untuk menguji hati sendiri. Apakah ekspresi kita lebih dipengaruhi oleh musik yang dimainkan, kebiasaan mayoritas, atau pengenalan kita akan pribadi dan karya Tuhan?—ELS 
MENYEMBAH TUHAN BERARTI MENANGGAPI TUHAN,
BUKAN MENANGGAPI MUSIK ATAU ORANG DI SEKITAR KITA.

Rabu, 07 November 2012

NYALA CINTA KITA


Baca: Kidung Agung 8:5-7


Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. (Kidung Agung 8:7a)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 25

Seorang teman mengenang masa berpacarannya dengan takjub. Ia dulu bekerja di Bandung, dan pacarnya tinggal di Solo. Minimal sekali sebulan ia harus menempuh perjalanan selama delapan jam dengan kereta untuk bisa bertemu. “Waktu itu rasanya tidak berat sama sekali, justru saya sangat bersemangat,” kisahnya. “Lucunya, setelah menikah, saya merasa berat kalau harus pergi ke Solo,” lanjutnya sambil tertawa.

Cinta membuat apa yang kita lakukan terasa berbeda. Hal-hal yang berat terasa ringan. Kesusahan rasanya hanya sebentar, tak sebanding dengan kesukaan bersama yang dicinta. Tak heran Salomo melukiskan cinta yang bergairah itu seperti maut yang tak dapat dihalang-halangi. Seperti nyala api yang tak bisa dihentikan, bahkan seperti nyala api Tuhan! Api yang kecil bisa dipadamkan dengan siraman air, tetapi bukan itu yang ia bicarakan. Ingat kisah Elia yang menyiram korban persembahannya dengan banyak air (lihat 1 Raja-raja 18)? Nyala api Tuhan bukan saja membakar habis persembahan itu, tetapi juga parit-parit penuh air di sekitarnya. Cinta membuat semangat tetap bergelora sekalipun kenyamanan dan kemewahan tiada (ayat 7).

Ketika dampak dahsyat cinta tak lagi terlihat, kita mulai bertanya, apa yang berubah? Apakah cinta mula-mula itu masih ada? Pernahkah pertanyaan serupa kita ajukan dalam hubungan dengan Tuhan? Ketika diajukan kepada Tuhan, jawaban-Nya mantap: tak ada kuasa, bahkan maut sekalipun, yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya (Roma 8:37-39). Kasih-Nya tak terbantahkan dengan kematian-Nya di kayu salib. Ketika diajukan pada kita, apa gerangan jawab kita? Apakah cinta mula-mula itu masih ada?—HAN 
KETIKA KITA MENGASIHI TUHAN,
KESUSAHAN TERASA RINGAN DIBANDING KESUKAAN BERSAMA-NYA.

RUBAH CINTA KITA


Baca: Kidung Agung 2:8-17


Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga. (Kidung Agung 2:15)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 24

Entah apa yang istimewa dengan rubah sehingga Salomo menyebutkan hewan ini dalam syairnya (ayat 15). Mungkin ia memang benar-benar melihat sekawanan rubah ketika ia sedang menelusuri kebun anggur bersama kekasihnya! Rubah adalah hewan omnivora, tetapi makanan favoritnya memang adalah buah-buahan.

Beberapa penafsir menganggap rubah-rubah ini melukiskan hal-hal kecil yang bisa merusak hubungan dalam pernikahan. Karena kecilnya, seringkali luput dari perhatian. Posturnya mirip anjing peliharaan, tampaknya tidak berbahaya. Namun, orang yang tahu sifat rubah yang merusak tidak akan membiarkannya. Rubah tak hanya akan sekadar dihalau karena ia bisa kembali lagi, tetapi ditangkap untuk dihabisi. Hal-hal perusak pernikahan juga harus serius ditangani hingga tuntas. Rubah-rubah itu tidak membatalkan pernikahan, tetapi bisa merusaknya.

Hubungan pernikahan dipakai Alkitab untuk menggambarkan hubungan Kristus dengan umat-Nya. Seperti hubungan pernikahan, hubungan kita dengan Tuhan juga sering dirusak oleh hal-hal yang tampaknya sepele. Dosa-dosa yang tidak diakui, kesibukan yang mengambil alih persekutuan pribadi dengan Tuhan, kemalasan untuk belajar firman, kecintaan pada keluarga atau harta benda yang melebihi kecintaan pada Tuhan. Anda dapat meneruskan daftarnya. Kelihatan tidak berbahaya, kita masih ke gereja dan aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani. Status kita sebagai anak Tuhan tidak berubah. Namun, kita tak lagi menikmati hubungan yang intim dan indah dengan Tuhan. Kebun anggur kita tak lagi semerbak, habis dilalap rubah. Rubah-rubah kecil apa yang harus kita tangkap dan bereskan di hadapan-Nya hari ini?—HAN 
KETIKA KITA MENGASIHI TUHAN, KITA AKAN MEMBERESKAN
SEMUA YANG MERUSAK HUBUNGAN DENGAN-NYA.

Jumat, 02 November 2012

LEBIH DARI SEKEDAR RASA


Bacaan : Matius 26:1-13


Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. (Matius 26:10)

Bacaan Alkitab Setahun:
Lukas 19

Meski berat, momen perpisahan sering merupakan saat-saat menikmati hujan kasih. Saya masih menyimpan sejumlah kenang-kenangan yang diberikan ketika saya selesai kuliah dan akan pulang ke kota asal. Tidak semuanya berguna, tetapi tiap benda mengingatkan saya pada mereka yang meluangkan waktu, uang, dan tenaga demi menunjukkan kasih kepada saya.

Saya pikir orang yang mengurapi Yesus menjelang penyaliban pastilah sangat mengasihi Yesus. Sebab itu, Yesus sangat menghargai tindakannya (ayat 10). Menuangkan minyak wangi menunjukkan penghormatan yang besar dalam budaya zaman itu, apalagi minyak yang mahal harganya. Menurut catatan Injil Yohanes, ia adalah Maria, saudara Lazarus yang pernah dibangkitkan Yesus. Mungkin sekali Maria telah mendengar bahwa Yesus akan disalibkan dan ia tak tahan menunjukkan kasih dan penghormatannya kepada Sang Mesias selagi masih punya kesempatan. Menurut catatan Matius, Yesus telah empat kali memberitahukan tentang kematian-Nya kepada para murid. Namun, mereka tidak memercayai-Nya (lihat pasal 16:22), bahkan gusar melihat tindakan Maria yang mereka anggap berlebihan (ayat 8).

Tindakan Maria mengingatkan kita bahwa kasih adalah sesuatu yang “aktif”, bukan sekadar perasaan yang kita harap bisa meluap sewaktu-waktu. Perintah pertama dan utama yang diberikan Yesus adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, ....” Kasihilah, sebuah kata kerja. Ketika kita mengasihi Allah, kita memercayai dan menaati-Nya (lihat Yohanes 14:15). Tak mengapa jika tidak dihargai orang. Kita melakukannya semata-mata karena hendak menunjukkan kasih dan penghormatan tertinggi bagi-Nya.—MEL 
MENGASIHI ALLAH BERARTI KITA MEMERCAYAI-NYA
DAN MENGAMBIL LANGKAH NYATA UNTUK MENANGGAPI-NYA

Rabu, 31 Oktober 2012

MEMBERI KESEMPATAN


Baca: Kisah Pr. Rasul 15:35-41


Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. (Kisah pr. Rasul 15:37-38)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 20-21


Banyak orang mengagumi suara emas pemenang Indonesian Idol 2012, Regina Ivanova. Menariknya, ia pernah gagal dalam enam audisi sebelumnya. Selain kegigihannya, pastilah Regina bersyukur atas peraturan kompetisi yang mengizinkan mereka yang pernah gagal untuk mencoba lagi. Pada kesempatan ketujuh, ia tampil fantastis dan menjadi pemenang. Seandainya peraturannya berbunyi lain, mungkin nama Regina tak akan pernah kita kenal.

Kesempatan untuk mencoba lagi juga pernah dialami Yohanes Markus. Ia tercatat “gagal” dalam pelayanan perdananya bersama Barnabas dan Paulus ke pulau Siprus (Kisah Para Rasul 13:5,13). Namun, ketika akan melayani lagi ke tempat yang sama, Barnabas justru ingin mengajak Markus. Barnabas tentu memiliki alasan kuat. Mungkin ia melihat Markus sudah berubah. Atau paling tidak ia ingin memberikan bimbingan dan kesempatan lagi kepada Markus. Kegagalan sebelumnya tidak membuatnya menyerah atas hidup Markus, dan untuk itu ia bahkan mengambil risiko berpisah dengan rekan kerja yang “lebih andal” (ayat 39). Alkitab mencatat bahwa kepercayaan yang diberikan Barnabas kepada Markus tidaklah sia-sia. Bahkan Paulus akhirnya sangat memerlukan pelayanan Markus (lihat 2 Timotius 4:11).

Jika diberi kesempatan menolong hidup seseorang, bagaimana sikap kita terhadap kegagalannya? Ketika ia gagal, kita memilih meninggalkan atau memberinya kesempatan? Perhatikan, banyak orang yang hidupnya berubah dan dipakai Allah justru ketika mereka mengalami anugerah berupa kesempatan untuk belajar dari kesalahan. Kita bisa menjadi alat bagi anugerah Allah tersebut.— PBS 
PENGAMPUNAN DAN KESEMPATAN MENCOBA LAGI
KERAP KALI MENJADI JALAN MENUJU PERUBAHAN YANG BERARTI.

AMANAT AGUNG


Baca: Matius 28:16-20


Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. (Matius 28:19-20a)

Bacaan Alkitab Setahun:
Matius 19; Markus 10


Ucapan Yesus di akhir pelayanan-Nya di bumi tentulah sangat penting. Dia bisa memilih mengatakan hal lain, tetapi kalimat-kalimat inilah isi hati dan fokus-Nya. Ini bukan sekadar curhat, melainkan sebuah amanat dari Pribadi yang berkuasa atas alam semesta. Seberapa sering kita yang mengaku pengikut Yesus telah merenungkan dan melakukannya?

Mari memikirkan amanat ini bersama. Pertama-tama, Yesus menghendaki para murid-Nya untuk pergi, melakukan sesuatu, tidak tinggal diam di zona nyaman. Mereka harus mengambil inisiatif, berusaha sedemikian rupa, agar orang lain juga dapat menjadi murid Yesus seperti mereka. Caranya? Dengan membaptis danmengajar. Dengan dibaptis, seseorang memutuskan untuk meninggalkan cara hidup yang lama dan menggantungkan diri sepenuhnya pada anugerah Allah. Dengan diajar, ia belajar untuk mencerminkan pengajaran dan kehidupan Kristus, yang kini menjadi Tuhan dan Juru Selamatnya. Orang dengan kualitas murid ini harus dihasilkan di semua bangsa, atau lebih tepatnya, semua suku bangsa. Ketika diajar melakukan segala perintah Kristus, artinya para murid baru ini juga harus mengulangi proses yang sama: pergi, menjadikan murid dengan membaptis dan mengajarkan semua perintah Kristus.

Amanat Yesus menegaskan apa yang Dia kehendaki dari para murid-Nya. Kita tidak dipanggil untuk sekadar menjadi jemaat yang aktif dalam persekutuan dan kegiatan sosial. Kita diperintahkan untuk menghasilkan murid dari segala suku bangsa! Mari periksa lagi semua kesibukan kita sebagai seorang kristiani. Adakah kita sedang menaati amanat Yesus?—PBS 
AMANAT TERAKHIR-NYA SEHARUSNYA
MENJADI PERHATIAN KITA YANG TERUTAMA.

Senin, 29 Oktober 2012

DASAR BERTINDAK


Baca: Galatia 1:11-23


Karena aku tidak menerimanya dari manusia dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya melalui penyataan Yesus Kristus. (Galatia 1:12)

Bacaan Alkitab Setahun:
Lukas 18


Pada tahun 1973, Loren Cunningham memimpin tim Youth With A Mission (YWAM) untuk membeli sebuah kapal besar bagi penginjilan dunia dan menjadi sorotan publik. Segala kelancaran membuat fokus mereka beralih dari Tuhan kepada kapal. Tuhan menegur melalui firman-Nya dan menyatakan bahwa mimpi tentang kapal itu harus “mati”. Sedih, hancur, malu, mungkin menggambarkan suasana hati Loren dan tim ketika harus membatalkan pembelian dan kehilangan uang muka. Namun, ia menulis: Tuhan memberi kami kesempatan untuk memberi penghormatan yang lebih besar bagi-Nya dengan membiarkan mimpi kami mati, sehingga Dia dapat membangkitkan-Nya kembali. Sembilan tahun kemudian, kapal penginjilan YWAM yang pertama dinamakan Anastasis yang artinya “kebangkitan”.

Kesaksian ini mengingatkan saya pada awal pelayanan rasul Paulus. Bayangkanlah perasaannya saat menjadi “sorotan publik”: ini dia si penganiaya jahat, syukurlah sekarang ia bertobat. Ia harus kehilangan karir dan reputasinya di antara para pemuka agama Yahudi, meninggalkan Yerusalem untuk pergi ke Arab, bersaksi di tengah bangsa non Yahudi. Rasul terpelajar ini juga harus belajar bekerjasama dengan para rasul lain dari latar belakang nelayan dan tukang kayu (ayat 18-19). Namun yang menjadi dasar Paulus melangkah adalah pernyataan Tuhan, bukan manusia, jadi ia tidak mundur (ayat 11-12). Hasilnya? Tuhan dimuliakan (ayat 23)!

Apa yang akan Anda lakukan jika Tuhan berkata bahwa mimpi-mimpi Anda harus mati agar Dia mendapat penghormatan yang lebih besar? Apa yang akan Anda jadikan dasar untuk bertindak? Pendapat manusia, atau kebenaran firman Tuhan?—ELS 
TUHAN, TOLONG AKU PEKA DAN TAAT ARAHAN-MU
KARENA RENCANA-MU JAUH LEBIH BAIK DARI RENCANAKU.

Minggu, 28 Oktober 2012

DEKLARASI 268


Baca: Yesaya 26:1-21


Ya Tuhan, kami juga menanti-nantikan saatnya Engkau menjalankan penghakiman; kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau. (Yesaya 26:8)

Bacaan Alkitab Setahun:
Yohanes 11


Sejak 1928, tiap tahun orang-orang muda dari berbagai penjuru Indonesia mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Indonesia masih dijajah ketika tekad ini pertama kali diserukan. Namun, para pemuda sepenuh hati mengerahkan segenap daya dan pikiran terbaik mereka untuk membangun persatuan dan meraih kemerdekaan.

Sejak 1997, tiap tahun puluhan ribu pemuda kristiani dari berbagai penjuru dunia juga mendeklarasikan tekad yang disebut Deklarasi 268 karena dilandaskan pada Yesaya 26:8. Pernyataan awalnya berbunyi: “Karena saya diciptakan oleh Allah dan untuk kemuliaan-Nya, saya akan membesarkan Dia dengan meresponi kasih-Nya yang besar. Kerinduan saya adalah menjadikan pengenalan dan kehangatan relasi dengan Allah sebagai pencarian terbesar dalam hidup saya.” Pembaruan yang dirindukan Yesaya dan umat Tuhan kini menjadi cita-cita mereka juga. Bayangkanlah sebuah generasi yang hari-harinya digelorakan, bukan oleh tren baju atau alat elektronik terbaru, tetapi oleh nilai-nilai Allah yang benar dan adil dalam segala bidang.

Bayangkanlah jutaan orang muda yang kesukaan terbesarnya bukanlah memperbarui status facebook atau mencari cara tercepat menjadi kaya, tetapi merenungkan dan membicarakan tentang Pribadi dan karya Tuhan yang agung, dan bagaimana kegiatan mereka hari itu dapat menghormati serta menyukakan hati-Nya. Di tengah berbagai gejolak yang dialami bangsa ini, bagaimana jika kita ikut mendeklarasikan hal yang sama dan mulai mengerahkan segenap daya dan pikiran terbaik kita untuk cita-cita tersebut?—MEL 
PEMBARUAN SEJATI TERJADI
KETIKA TUHAN MENJADI HARTA TERBESAR KITA DI BUMI.