Minggu, 20 Mei 2012

Disuruh Bayar Listrik Malah Diminta Pegang Burung

 Ketua RT yang satu ini bukan contoh yang baik bagi warganya. Betapa tidak, disaat warganya ingin melakukan kewajiban membayar rekening listrik, Abdul Rokhim, ketua RT 24/04, Jodokan, Gerabakan, Sidoarjo, malah meminta korban memagang alat kemaluannya.
Headline 
Ironisnya yang menjadi korban kebiadaban, sebut saja Mawar (10), adalah gadis dibawah umur, yang masih duduk di bangku kelas 4 SD.

Suryo, paman korban mengatakan, saat itu Mawar yang disuruh ibunya membayar rekening listrik ke rumah Pak RT. Tiba-tiba, korban diajak ke belakang oleh Abdul Rokhim.

Di dapur rumah Abdul, celana dalam korban dipelorot secara paksa oleh Abdul Rokhim. "Korban disuruh memegang 'burung' Pak RT. Selain itu, pelaku juga sempat memasukkan jarinya ke alat vital korban," terang Suryo.

Curiga anaknya datang terlambat saat disuruh membayar rekening listrik, Ibu korban lantas bertanya, ‘dari mana saja kok lama sekali?'. Mawar kemudian menangis terseduh. Setelah didesak, Mawar akhirnya bercerita secara polos dirinya baru saja diperlakukan tidak senonoh oleh Pak RT.

"Saya tadi diajak ke dapur oleh Pak RT. Setelah itu, celana dalam saya dipelorot sambil disuruh memegang burung Pak RT," ucap Suryo, menirukan pengakuan Mawar, Sabtu (19/5/2012).

Yang membuat kemarah warga, saat dilaporkan ke pihak ke kepolisian Polsek Tulungan, sang ketua RT hanya diberikan sanksi tahanan luar. Warga yang tak terima kemudian mendatangi Polsek Tulangan untuk menanyakan kepastian kasus tersebut.

Pihak keluarga korban dan warga sekitar tidak puas dengan tidak ditahannya tersangka, kemudian mendatangi rumah Abdul Rokhim, dan mintanya segera keluar dan pindah dari rumahnya. Selain itu, warga juga meminta Abdul Rokhim untuk segera dijebloskan ke dalam tahanan.

Kapolsek Tulangan AKP Sutresno melalui Kanitreskrim Aiptu Suhadak menyatakan, pihaknya telah mengamankan pelaku untuk menghindari amuk massa. "Sambil menunggu visum dari pihak rumah sakit, pelaku telah kami amankan. Dan sekarang kami masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan pelaku," ucap Suhadak. [beritajatim.com]

Suami Merantau, Istri Tidur dengan Pria Lain

 Tutik (23), warga Desa Sumberagung Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro, terpaksa dilaporkan suaminya, Sumaji (30), karena selingkuh dengan pria lain.
Headline 
Tutik diduga sedang melakukan hubungan intim dengan tetangganya, Jasmari (36) asal Desa Turigede Kecamatan Kepohbaru Kabupaten Bojonegoro.

"Kedua terlapor sedang kepergok melakukan hubungan perzinaan di dalam rumah Tutik," kata Kapolsek Kepohbaru,AKP Nugroho Basuki dihubungi beritajatim.com, Jumat (18/05/2012).

Setelah digerebek warga, suami terlapor kemudian dihubungi dan selanjutnya melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek Kepohbaru. "Saat itu suami terlapor Tutik sedang merantau sebagai buruh tani di daerah Lamongan," tambahnya.

Keduanya kini diamankan di Mapolsek Kepohbaru, karena dari pihak suami belum terima. Sehingga jika dalam laporannya tidak dicabut maka akan diproses hukum.

Selain mengamankan terlapor, petugas juga mengamankan barang bukti berupa sebuah spray, sebuah sarung bantal, dan sebuah ponsel. [beritajatim.com]

Sembunyikan Gadis Belia, Pemuda Disergap Polisi

Petugas Polres Buleleng, Bali, menyergap seorang pemuda berinisial DPA saat menyembunyikan gadis belia di rumah kosnya di Jalan Kepundung, Singaraja.
Headline 
"Kami menangkap pemuda berusia 19 tahun itu beberapa saat setelah menerima laporan dari orang tua korban," kata Kepala Sub-Bagian Humas Polres Buleleng AKP Nyoman Widastra di Singaraja sebagaimana dikutip ANTARA, Minggu (20/5/2012).

Dia menuturkan bahwa gadis berusia 16 tahun berinisial PDC meninggalkan rumah kosnya di Jalan Srikandi, Singaraja, sejak Jumat (18/5) malam.

Peristiwa itu berawal dari niat orang tua korban, Gede Arsana (39), warga Jalan Pulau Moyo, Denpasar, untuk mengajak korban ke rumah kakeknya di Desa Anturan, Kecamatan Buleleng.

Namun saat dijemput kakeknya, korban sudah tidak ada di rumah kosnya. Dari teman korban, kakek tersebut mendapat informasi bahwa PDC telah pulang ke Desa Anturan.

Hingga tengah malam, korban tak juga pulang ke Desa Anturan. Padahal Gede Arsana sudah sampai di rumah kakeknya itu.

Ayah korban mendapat kabar dari teman korban lainnya bahwa PDC sejak Jumat (18/5) pagi dijemput seorang pria berinisial DPA dari rumah kosnya.

Gede Arsana melaporkan ulah DPA itu ke Mapolres Buleleng. Dalam tempo relatif singkat, petugas menyergap DPA di rumah kosnya di Jalan Kepundung, Singaraja, yang saat itu sedang berduaan dengan korban. [yeh]

Wow, Warung Kopi Sediakan Kamar Mesum dan PSK

Berbagai macam cara dilakukan oleh para wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) dan mucikari untuk mengelabuhi petugas.
Headline 
Salah satunya, para mucikari membuka praktek prostitusi tersebut dengan modus membuat warung kopi. Selain warung, mereka juga menyediakan kamar dan PSK untuk para pria hidung belang.

Walau tergolong rapi, modus tersebut saat ini telah diendus oleh petugas kepolisian dari jajaran Polres Tuban. Akhirnya petugas berhasil melakukan penangkapan terhadap 1 orang mucikari berserta dengan satu PSK yang melakukan praktek prostitusi terselubung di kawasan Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban.

Seorang mucikari yang berhasil dibekuk saat dilakukan pengrebekan oleh petugas lantaran menyediakan kamar untuk tempat berbuat mesum dengan modus membuat warung kopi tersebut adalah Lastur (72), warga Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Petugas juga mengamankan Piana, PSK yang mangkal di warung milik Lastur tersebut.

Penangkapan terhadap Lastur berawal saat petugas kepolisian dari Polsek Soko, Kabupaten Tuban mendapatkan informasi dari warga sekitar Desa Rahayu. Menurut warga, ada kejanggalan yang terjadi di warung kopi milik Lastur. Selain menjual kopi warung, ada disediakan pula wanita untuk laki-laki hidung belang.

"Setelah ada laporan dari warga masyarakat, langsung petugas melakukan penyelidikan, saat terbukti, petugas langsung melakukan pengrebekan dan menangkap pelaku mucikari berserta anak buahnya," terang AKP Nursento, Kasubbah Humas Polres Tuban, Minggu (20/05/2012).

Mucikari lantas diamankan ke Mapolsek setempat untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku mengaku mendapatkan uang Rp 10.000 dari setiap satu kamar yang digunakan untuk berbuat mesum.

Sementara itu di tempat lain, yakni di Desa Temandang, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban petugas kepolisian dari Polsek Merakurak juga berhasil menangkap seseorang yang bernama Kundari (47), warga desa setempat yang juga telah menjadi mucikari.

Ia tertangkap oleh petugas saat melakukan razia lantaran menyediakan kamar dan juga wanita untuk para laki-laki hidung belang.

"Kegiatan pencegahan terhadap tindakan prostitusi di wilayah Tuban akan terus kita lakukan untuk menekan jumlahnya, sehingga sedikit demi sedikit tempat-tempat yang digunakan untuk prostitusi hilang," pungkasnya.[beritajatim.com]

DISKUSI TANPA AKSI


Baca: Roma 10:4-15


Bagaimana orang mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? (Roma 10:14c)


Bacaan Alkitab Setahun:
2 Samuel 22-23; Mazmur 57


Saya kerap mendengar orang kristiani yang berdiskusi tentang nasib orang-orang yang ada di tempat terpencil atau yang belum pernah mendengar karya Kristus. Namun, dari nada dan nuansanya, diskusi itu tidak muncul dari keprihatinan akan nasib mereka yang belum mendengar Injil. Diskusi lebih diwarnai keinginan untuk memuaskan otak dengan memperdebatkan hal-hal yang rumit di seputar topik ini. 

Paulus menuliskan hal yang lebih penting untuk kita ketahui dan lakukan daripada sekadar memperdebatkannya. Ia menekankan bahwa siapa saja yang mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat akan diselamatkan (ayat 9-10). Namun, orang hanya bisa sampai pada pengakuan semacam ini kalau ia pernah mendengar Berita Injil (ayat 14). Ini menunjukkan betapa pentingnya seseorang yang menyampaikan kabar baik itu kepada mereka. Menjadi tugas setiap orang percaya untuk menjadi penyampai Kabar baik tersebut. Para pemberita Injil inilah yang lebih dibutuhkan daripada seorang pemenang debat yang tidak pernah berangkat menginjili. Gereja yang sehat haruslah lebih banyak mengutus pemberita Injil daripada menyelenggarakan seminar penginjilan. 

Sungguhkah kita mencemaskan nasib mereka yang belum pernah mendengar Injil? Adakah kerinduan dalam diri kita, melihat banyak orang menjadi percaya dan mengaku Yesus itu Juru Selamat, serta hidup memuliakan-Nya? Diskusi tanpa aksi dan kecemasan semata bukanlah jalan keluar. Energi yang dipakai untuk berdebat panjang tentang nasib orang di kekekalan akan lebih berguna jika dipakai untuk mendoakan, merancang strategi menyampaikan kabar baik, dan menjalankannya sepenuh hati.—PBS
KALAU KITA MULAI BERGERAK HARI INI,
KEMUNGKINAN ADA ORANG YANG AKAN DISELAMATKAN BESOK PAGI.

Tya Aristya di Pesta Batak


Tya Aristya di Pesta Batak

Artis sekaligus presenter Tya Aristya memakai pakaian adat Batak, Sumatera Utara. Tya, begitu dirinya akrab disapa, terlihat cantik dan mantap mengenakan, pakaian adat Batak dengan balutan kain selempang bernama ulos.
"Aku pake pakaian adat Batak, Batak Toba namanya. Aku pake ulos," kata Tya Aristya saat dijumpai di Pesta Bolon Simbolon 2012, di TMII, Jakarta Timur, Sabtu (19/5).
Bintang film 'Rahasia Bintang' tersebut, mengaku berdarah Batak, yaitu dari ibunya yang memiliki marga Hasibuan. Sedangkan ayah kandungnya orang Melayu yang berasal dari Tanjung Balai, Sumatera Utara.
"Emang tampang aku kaya orang Sunda yah, (hehehe). Mama ku orang Batak, marganya hasibuan, papa orang Melayu, Tanjung Balai, cuma 4 jam dari Medan. Jadi, aku nggak punya marga karna marga itu harus dari papa. Tapi, aku orang Batak juga," ujarnya. (Anc)

MENANGKAP KESEMPATAN


Baca: Kisah Pr. Rasul 8:4-13


Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. (Kisah Pr. Rasul 8:5)


Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 5, 38, 41-42


Semenjak menerima amanat untuk menjadi saksi sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8), para murid terus giat bersaksi. Banyak orang yang menjadi percaya karena kesaksian mereka dan hal tersebut membuat marah para pemuka Yahudi. Mereka dengan keras melakukan pencegahan dan penganiayaan kepada para murid. Beberapa diantaranya dibunuh dan dipenjarakan. 

Akibat adanya penganiayaan di Yerusalem, orang-orang kristiani kian terserak ke daerah-daerah sekitar. Akan tetapi, dicatat bahwa sambil menyingkir, Filipus dan para murid yang lain justru giat bersaksi. Kerinduannya untuk bersaksi mengalahkan ketakutannya akan penganiayaan. Apa yang bagi banyak orang adalah halangan pelayanan, ia tangkap sebagai peluang. Ia dan para murid lainnya dilatih untuk melihat bahwa dengan tersebarnya mereka ke segala tempat, dapat menjadi permulaan dari penggenapan untuk menjadi saksi sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8). Dalam kedaulatan Allah, penganiayaan dan keterserakan bisa dibaca sebagai “penempatan” untuk menjangkau segala bangsa. Yang mereka butuhkan adalah kepekaan terhadap setiap kesempatan yang Allah bukakan. 

Masihkan kita memiliki kerinduan yang dalam agar segala bangsa mendengar Kabar Baik yang menyelamatkan? Apa yang telah atau sedang kita lakukan seiring dengan kerinduan tersebut? Pernahkah kita berpikir bahwa di mana pun kita di tempatkan, dapat diartikan bahwa kita sedang diutus ke sana menjadi berkat? Dengan tetap bersaksi di tempat kita masing-masing, paling tidak sebagian besar suku bangsa sedang diperkenalkan dengan Kabar Baik yang menyelamatkan tersebut.—PBS
MEMENANGKAN SEGALA BANGSA BISA DIMULAI
DARI TEMPAT DI MANA KITA BERADA