Kamis, 16 Agustus 2012

5 Alasan Mengapa Harus Merahasiakan Masalah Pernikahan

imgMenceritakan masalah pernikahan kepada sahabat, keluarga atau teman kantor mungkin dapat bantu menenangkan pikiran. Jika Anda mengatakan bahwa suami adalah orang yang sangat menyebalkan, maka tak ada pilihan bagi orang di sekeliling Anda untuk mempercayainya.
 
Ketika seuatu saa, suami meminta maaf dan masalah terselesaikan dengan baik. Imej buruk terhadap suami Anda akan melekat selamanya. Seperti yang dikutip dari Your Tango, berikut lima alasan mengapa sebaiknya Anda selalu merahasiakan masalah pernikahan.

1. Pasangan Anda akan merasa dikhianati keteika mereka mengetahui bahwa Anda membicarakan masalah pribadi di belakangnya. Belum lagi, jika ternyata masalah tersebut berhubungan dengan sifat-sifat buruknya.

2. Menceritakan masalah pernikahan kepada rekan atau atasan kerja dapat memberikan imej bahwa Anda terlihat tidak fokus pada pekerjaan. Mungkin itulah aalasan bahwa Anda belum juga mendapat kenaikan pangkat atau gaji.

3. Teman-teman tidak lagi mengundang Anda berdua sebagai pasangan. Menurut mereka, suami Anda hanya bisa memberikan pengaruh buruk dan mengundangnya hanya membuat mereka tak bisa membicarakan sang suami.

4. Beberapa orang yang Anda ceritakan mengenai masalah pernikahan, akan melihat Anda sebagai orang yang lemah dan tak bisa mengatasi masalah. Padahal sebenarnya, tujuan Anda menceritakan hal problema rumah tangga itu hanya untuk meringankan pikiran.

5. Secara tidak sadar, Anda akan berpikir bahwa kehidupan pernikahan yang dimiliki tidaklah bahagia. Hal itu disebabkan karena Anda lebih sering menceritakan kejadian tak mengenakan, ketimbang momen bahagia kepada orang lain.

Saat menceritakan kelemahan pasangan, Anda tidak hanya dapat membahayakan pernikahan tetapi juga reputasi serta pandangan orang lain terhadap sang suami. Berikut ini beberapa tanda yang biasanya terjadi pada mereka yang gemar menceritakan kehidupan pribadinya kepada orang lain.

1. Saat duduk di meja kerja, hal pertama yang Anda lakukan adalah mengatakan, "semuanya salah dia. Kamu tahu apa yang baru saja suami saya lakukan pagi ini?', dan kemudian Anda pun bercerita mengenai betapa menyebalkan sang suami Anda.

2. Anda menelpon orang tua atau adik dan membagi cerita mengenai hal-hal yang sebanrnya hanya diketahui oleh diri Anda dan suami saja. Misalnya, suami ketahuan menyimpan video porno di laptopnya. Saa keluarga Anda daang berkunjung, jangan heran jika mereka bersikap 'menyerang' suami.

3. Anda memergoki catatan suami yang bertiliskan nomor telepon seorang wanita. Tanpa mengeceknya kepada suami terlebih dulu, Anda pun langsung meberitahukan teman-teman dan mengambil kesimpulan bahwa suami berselingkuh.

Namun setelah bertanya pada suami ternyata nomor telepon tersebut merupakan nomor kliennya. Ketika ingin 'memperbaiki' cerita kepada teman-teman, tak ada satu pun dari mereka yang mempercayai dan mengira Anda hanya menutupi ketidaksetiaan suami.

Melihat kasus yang biasa disebut 'oversharing' di atas, apakah Anda salah satunya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar