Selasa, 28 Februari 2012

Seks yang Dijadwalkan, Benarkah Bisa Kembalikan Keintiman?

img Ada banyak cara untuk mengembalikan gairah pasangan setelah menikah bertahun-tahun lamanya. Salah satunya adalah dengan seks yang dijadwalkan. Tapi benarkah cara ini efektif?
 
Beberapa orang menganggap seks yang dijadwalkan jadi sebuah beban. Wanita merasa kegiatan tersebut sebagai suatu keharusan untuk dilakukan. Sementara pria bisa jadi merasa senang dengan cara tersebut karena artinya mereka akan mendapatkan hal yang mungkin selama ini sudah tak sering dilakukan.

Setelah menikah bertahun-tahun dan punya anak, beberapa pasangan memang tak lagi menjadikan seks sebagai prioritas. Kelelahan lah yang biasanya jadi penyebab paling utama suami-istri memilih tidur ketimbang bercinta.

Survei yang dilakukan pada para penduduk Inggris membuktikan hal tersebut. Dalam Sexual Wellbeing Survey terungkap, rata-rata pasangan menikah di Inggris bercinta 98 kali setahun atau 2 kali seminggu. 

Penelitian lain juga membuktikan semakin bertambah umur seseorang, makin jarang dia bercinta. Penelitian yang dilakukan Kinsey Sex Institute itu mengunkapkan, orang yang berusia 18-29 tahun bercinta 142 kali setahun, 30-39 tahun bercinta 86 kali setahun, 40-49 tahun bercinta 69 kali setahun dan di atas 50 tahun bercinta 52 kali setahun.
Seks yang Dijadwalkan, Benarkah Bisa Kembalikan Keintiman? 
Berkaca pada hasil survei di atas, tidak sedikit seksolog dan psikolog yang menyarankan pasangan untuk menjadwalkan agenda bercinta mereka. Cara tersebut bisa jadi jalan keluar untuk kembali menghangatkan kehidupan seks Anda.

Laurie Gerber, pendiri 'Handel Group Life Coaching (HGLC) asal New York, salah satu ahli yang setuju dengan hal di atas. Menurutnya jangan selalu bercinta menunggu mood datang. Dengan membuat jadwal, Anda bisa mengantisipasi, melakukan persiapan dan mungkin saja merencanakan hal-hal yang selama ini belum pernah dicoba.

Pasangan asal Jakarta, Siska (29 tahun) dan Ari (33 tahun), sudah mencoba cara seks yang dijadwalkan ini. Menurut keduanya, dengan cara tersebut, mereka memang jadi berkomitmen untuk membuat jadwal tersebut terwujud. Setelah dicoba, pasangan tersebut pun puas dan berjanji untuk melakukannya lebih sering. Meskipun awalnya bagi mereka terasa berat, namun pada akhirnya keduanya menyukai hasilnya. 

Dengan seks yang dijadwalkan, Siska dan Ari bisa mengantisipasi. Misalnya dengan memberikan foreplay jauh sebelum agenda bercinta dimulai. Cara ini membuat Anda berdua menjadi benar-benar mood untuk seks ketika waktu yang dijadwalkan itu akhirnya tiba.

Namun tentu saja tidak semua orang beranggapan seks yang dijadwalkan itu baik. Beberapa pakar menganggap cara tersebut bisa mematikan spontanitas pasangan. Benarkah demikian?

Profesor bidang Human Sexuality di University of Minnesota Medical School, Amerika, Dr Eli Coleman, Anda tidak harus selalu mengikuti jadwal yang sudah dibuat. Kalau memang ternyata ketika hari yang dijadwalkan itu berbagai hal terjadi sehingga mood bercinta hilang, katakan saja dengan jujur pada pasangan.

"Ketika hati dan pikiran tidak ada di sana, Anda tidak akan merasa cukup erotis untuk bercinta," ujar Coleman, seperti dikutip Daily Mail.

Sesuai dengan pengalaman Siska dan Ari, ketika mengalami apa yang dikatakan Coleman, mereka pun membicarakannya secara terbuka. Ketika berkomunikasi itu, justru mood malah pada akhirnya datang dan agenda bercinta yang memang sudah dijadwalkan pun akhirnya terwujud. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar