Kamis, 01 Maret 2012

Ibu yang Terpaksa Berhenti Menyusui Bisa Depresi

imgPara ibu disarankan untuk menyusui secara eksklusif sampai bayinya berusia enam bulan dan diteruskan sampai si kecil berusia dua tahun. Ketika anak hampir atau sudah berusia dua tahun, ibu mulai bisa mencoba proses menyapih.
 
Menyapih atau berhenti menyusui anak ini ternyata bisa berdampak pada psikologis ibu. Seorang blogger yang juga penulis buku 'Double Time', Jane Roper mengatakan pada Huffington Post, kalau dia mengalami depresi setelah menyapih putri kembarnya.

"(Setelah melahirkan) aku lega tidak mengalami depresi, tapi kelegaan itu berubah sampai ketika aku menyapih putriku," ujar wanita 37 tahun itu yang stop menyusui ketika anak kembarnya berusia 13 bulan.

Depresi pasca menyapih anak ini memang jarang terungkap. Dokter dan peneliti selama ini lebih sering membahas soal depresi pasca melahirkan. Oleh karena itu, perlu penelitian lebih jauh untuk meneliti soal depresi setelah menyapih ini.

Pada November 2011 lalu, seorang peneliti asal University of North Carolina, Meltzer-Brody, pernah mengungkapkan apa yang dialami Roper di atas. Namun penelitian yang dipublikasikan di Journal of Women's Health itu lebih membahas hubungan antara ibu yang kesulitan menyusui dengan depresi pasca melahirkan.

Ibu yang kesulitan menyusui tersebut pada akhirnya terpaksa berhenti memberi bayi mereka ASI. Para ibu yang terpaksa berhenti menyusui inilah yang kemudian merasakan depresi pasca melahirkan. Risiko depresi ini tidak terjadi pada ibu yang stop menyusui ketika mereka memang telah siap melakukannya.

Peneliti menduga ketika seorang ibu yang terpaksa berhenti menyusui kemudian depresi karena dia tidak lagi mendapatkan hormon oksitosin. Menyusui memang bisa menstimulasi hormon yang dikenal sebagai hormon cinta dan bahagia tersebut. Sehingga mungkin saja, ketika ibu berhenti memberi ASI moodnya jadi berpengaruh karena hormon bahagia itu pun menurun jumlahnya.

Hanya saja sampai saat ini, belum ada penelitian yang membandingkan soal kadar hormon oksitosin ketika ibu menyusui dan setelah menyapih. "Tapi tentu sangat mungkin ketika hormon itu hilang, secara psikologisikut berpengaruh, ibu merasa sedih," ujar Dr Alison Stuebe dari University of North Carolina, School of Medicine.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar