Jumat, 02 Desember 2011

Ini Perilaku Seks yang Bisa Merusak Lingkungan

img
Dok. Thinkstock
  Pernahkah Anda atau pasangan berpikir, bahwa aktivitas seks bisa memengaruhi keseimbangan lingkungan? Stefanie Iris Weiss dalam bukunya 'Eco-Sex: Go Green Between the Sheets and Make your Love Life Sustainable' menjawab, "ya".

Dilansir dari Lemon Drop, Stefanie mengatakan bahwa momen romantis yang kerap kita lakukan bersama suami bisa saja membawa dampak buruk bagi bumi. Mengapa bisa begitu?

Sebenarnya bukan aktivitas bercinta yang langsung berefek pada lingkungan, melainkan perilaku para pelaku seks. Seks itu sendiri merupakan sesuatu yang sangat natural dalam kehidupan manusia. Hanya saja, benda-benda yang digunakan untuk menunjang performa seks yang bisa berdampak buruk bagi bumi yang kita pijak ini.

Perilaku seks seperti apa yang bisa merusak lingkungan?

Pemakaian Lubrikasi Sintetis

Cairan lubrikan sering dijadikan solusi bagi wanita yang mengalami kekeringan pada Miss V, atau pasangan yang menginginkan kenikmatan lebih saat bercinta. Namun, kebanyakan lubrikan yang ada di pasaran saat ini menggunakan petroleum --terbuat dari minyak-- sebagai bahan utamanya.

Seperti diketahui, manusia bisa dibilang sangat tergantung dengan keberadaan minyak, dan ketersediaan minyak bumi di dunia ini semakin menipis. Menggunakan cairan lubrikan berbahan dasar minyak, berarti juga menambah eksploitasi minyak bumi.

Tak hanya itu, produk-produk lubrikan juga tidak baik bagi tubuh (terutama alat reproduksi) jika digunakan secara rutin dan terus-menerus. Di dalamnya terkandung carcinogen dan bahan pengawet seperti paraben yang bisa merusak kelenjar endokrin. Ketimbang minyak, gunakan lubrikan berbahan dasar air yang lebih ramah lingkungan. Namun sebaiknya tidak digunakan terlalu sering karena bagaimanapun juga benda-benda sintetis mengandung bahan kimia.

Penggunaan Alat Kontrasepsi

Banyak pasangan menikah yang ingin menunda punya anak, dan memilih menggunakan alat kontrasepsi seperti spiral, kondom atau pil. Alat kontrasepsi berbentuk pil, ditulis Stefanie paling berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan dibandingkan alat yang lainnya. Hal ini karena penggunanya akan mengeluarkan hormon yang bisa masuk ke dalam ekosistem lingkungan saat mereka buang air kecil atau besar. Sisa hormon yang dikeluarkan itulah yang bisa merusak lingkungan, terutama kehidupan di laut.

Dibandingkan pil kontrasepsi, lebih disarankan untuk menggunakan kondom. Namun pastikan kondom tersebut terbuat dari latex, bukan polyurethane. Setelah menggunakannya, bungkus kondom dengan kertas tisue dan buang ke tempat sampah. Jangan pernah membuang kondom dalam kloset karena bisa menyumbat sistem aliran air dan menjerat ikan-ikan, serta tidak bisa terurai.


(hst/hst)
sumber:wolipop.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar