Selasa, 15 Mei 2012

Komunikasi ATC-Pilot Kunci Petaka Sukhoi

foto Komunikasi antara petugas di menara pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) dan pilot diduga kuat menjadi kunci penyebab jatuhnya Sukhoi Superjet 100 RA-36801 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat. Penasihat Federasi Pilot Indonesia, Manotar Napitupulu, menduga Sukhoi menabrak tebing gunung akibat menurunkan ketinggian di luar daerah aman. "Kuncinya adalah komunikasi antara pilot dan petugas di ATC Soekarno-Hatta," kata dia kemarin.

Pilot Sukhoi asal Rusia bernama Alexandr Yablontsev, pada menit ke-21 setelah lepas landas pada pukul 14.12 Rabu lalu, dalam kontak terakhir, meminta izin untuk turun dari ketinggian 10 ribu kaki ke 6.000 kaki. Menara pemandu lalu lintas udara (ATC) Bandara Soekarno-Hatta mengizinkan pilot menurunkan ketinggian karena pesawat sedang berada di atas kawasan Pangkalan Udara Atang Sanjaya, Bogor. Kawasan tersebut memang aman hingga radius 25 mil. “Ada radius maksimal yang harus ditaati,” kata Manotar.

Problem komunikasi ini juga menjadi perhatian Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Hery Bakti. Ia menyatakan tak mau berspekulasi tentang penyebab jatuhnya Sukhoi, dan menyerahkannya kepada hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Penyebab baru bisa diketahui setelah kotak hitam ditemukan. Namun ia menyatakan faktor bahasa punya andil. “Mungkin soal bahasa karena bahasanya Rusia," kata dia.

Manotar curiga ada selisih waktu antara permintaan dari pesawat dan pemberian izin dari petugas ATC. Bisa jadi, kata dia, pilot turun mendahului konfirmasi yang diberikan petugas ATC. Atau sebaliknya, izin turun diberikan setelah Sukhoi keluar dari wilayah aman. Jika pesawat turun di luar area aman, kecelakaan bisa terjadi. Itu sebabnya, kata dia, komunikasi ATC-pilot harus aktif. "Pilot tidak bisa begitu saja mengandalkan ATC, begitu juga sebaliknya," kata dia.

Artinya, kata dia, jika pilot meminta turun, seharusnya ATC menanyakan bagaimana pandangan visual dari pilot. Menurut Manotar, jika pilot melihat kejanggalan, seharusnya dia memberi tahu ATC agar dipandu mencari tempat aman. Sebelumnya, Ketua KNKT Tatang Kurniadi menyatakan telah memegang dokumen percakapan antara pilot dan ATC. Namun ia belum bisa menjelaskan isinya. "Nantilah.”

Sukhoi Superjet 100 RA 36801 berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma untuk terbang demo pada pukul 14.12, Rabu, 9 Mei 2012 lalu. Pesawat mengalami hilang kontak sekitar pukul 14.33. Saat hilang, pesawat ada di titik koordinat 06.43 menit 08 detik lintang selatan dan 106.43 menit 15 detik bujur timur di daerah Gunung Salak, perbatasan Kabupaten Bogor dan Sukabumi, Jawa Barat. Pesawat mengangkut 37 penumpang dan 8 kru Sukhoi warga negara Rusia. Dari 37 penumpang, 35 adalah warga negara Indonesia, satu orang Prancis, dan seorang lagi dari Amerika Serikat.

SYAILENDRA | ANGGA SUKMA WIJAYA | SUNUDYANTORO

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar