Jumat, 27 Januari 2012

KDRT Pada Suami: Dipukuli Istri Karena Salah Potong Rambut

img Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tidak hanya terjadi pada istri. Para suami pun rupanya mengalami hal serupa. Pria ini misalnya mengaku dipukuli karena sang istri tidak suka potongan rambutnya.
 
Paul, sebut saja namanya demikian, mengisahkan KDRT yang dialaminya itu dalam tulisannya di Daily Mail. Ia mengaku kerap mengalami KDRT selama menikah dengan istrinya Lisa.

Paul menceritakan KDRT pertama kali dialaminya setelah ia memotong rambutnya. Ketika itu, Lisa marah karena menurutnya potong rambut suaminya tidak bagus.

"Dia menyeretku sepanjang lorong (rumah) dengan menarik rambutku, dan memukuli belakang leherku. Tidak lama kemudian, dia terus memukuli kepalaku dengan mesin penjawab telepon karena tidak suka dengan perkataanku pada ibuku," kisah Paul.

Cerita KDRT yang cukup absurd dialami Paul saat dia menjemur celana dalamnya tanpa memegangnya dengan benar. Gara-gara itu, istrinya memukulnya dengan stik golf mainan anak-anak yang terbuat dari plastik.

Selama mengalami KDRT tersebut, Paul mengaku tidak melakukan tindakan apapun. Sama seperti korban KDRT pada umumnya, dia terlalu malu untuk menceritakan apa yang dialaminya tersebut. Dia pun selalu berusaha meyakinkan diri sendiri bisa menjadi suami yang lebih baik dan kekerasan tersebut akan berakhir.

Paul menikah dengan Lisa, enam bulan setelah mereka berkenalan. Saat itu dia masih berusia 21 tahun dan baru saja lulus kuliah. Pria itu juga baru putus cinta setelah tiga tahun pacaran.

Makanya ketika Lisa juga mengatakan cinta padanya, Paul sangat senang dan langsung melamar. Namun kebahagiaan itu berlangsung tidak lama. Butuh waktu sebentar saja hingga Lisa menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Ia pertamakali melihat istrinya menjadi sangat pemarah saat mereka berada di sebuah kapal dalam perjalanan dari Hong Kong ke Shanghai. Lisa marah hanya karena dia merasa Paul pindah posisi dari tempat mereka semula janjian. Lisa berteriak-teriak dan tidak mau mendengarkan penjelasan Paul. Ketika itu Paul berusaha berpikir positif dan tidak terlalu menjadikan kejadian tersebut sebagai suatu masalah.

KDRT terus dialaminya hingga ketika Lisa hamil. Kekerasan tersebut malah semakin parah. Namun Paul menganggap kemarahan istrinya itu karena efek kehamilan. Dia juga tak sanggup meninggalkan Lisa yang tengah hamil.

Kalau sudah tidak marah, Lisa juga bisa berubah menjadi istri yang sangat baik dan penyayang. Dia kerap memberi harapan kalau pernikahan mereka bisa berjalan baik nantinya setelah sang anak lahir. Rupanya sifat baik tersebut memang tipikal dari para pelaku KDRT.

"Biasanya korban dalam posisi putus asa dan si pelaku akan memberikan mereka cinta dan kasih sayang," jelas Psikolog dari University of Central Lancashire, Nicola Grahama-Kevan. "Korban akan merasa mereka patut disalahkan dan berusaha memperbaiki keadaan jadi lebih baik, itulah yang membuat kekerasan terjadi lagi," ucapnya lagi.

Paul bukanlah satu-satunya pria yang mengalami KDRT dalam pernikahan. Berdasarkan data dari British Crime Survey, 1/3 korban KDRT adalah pria. Setidaknya 400 ribu pria mendapat KDRT setiap tahunnya.

"Semua bukti yang ada lebih banyak lagi ketimbang data tersebut," ujar John Mays, dari organisasi hak asasi manusia, Parity. "1 dari 3 dan 40% kasus KDRT pelakunya adalah wanita dan korbannya pria. Menyedihkannya fakta ini tidak diketahui banyak orang," tambahnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar