Kamis, 24 Mei 2012

5 Kebiasaan Buruk dalam Pernikahan & Cara Mengatasinya

img Dalam pernikahan, pertengkaran adalah suatu hal yang wajar. Namun jika terlalu sering akan membuat Anda dan pasangan menjadi lelah dengan keadaan dan akhirnya memutuskan untuk berpisah. Seringkali tanpa Anda sadari masalah tersebut justru datang dari kebiasaan buruk sendiri, baik itu tidak mau kalah dalam berargumen, terlalu posesif dan tidak percaya pada pasangan.
 
Psikiater Rebecca Gladding, MD, penulis buku "You are Not Your Brain: The 4-Step Solution for Changing Bad Habits, Ending Unhealthy Thinking, and Taking Control of Your Life", memberikan Anda beberapa saran untuk mengubah kebiasaan buruk yang sering terjadi dalam pernikahan mulai dari masalah adu argumen, kepercayaan dan lainnya, seperti yang dikutip dari Gal Time.

1. Adu Argumen
Cara Mengatasinya: Stop, nilai dan fokus

Jika Anda dan suami memulai percakapan dengan perbedaan pendapat yang membesar-besarkan masalah lama atau tidak ada yang mau mengalah, Anda perlu menghentikan percakapan tersebut dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Menurut Gladding, daripada harus saling menyalahkan satu sama lain, lebih baik lihat dan pikir kembali apa yang sebenarnya terjadi, ambil nafas, dan kembali fokus pada masalah sebenarnya. Katakan sesuatu yang lebih netral, seperti "Saya pikir kita keluar dari jalur, kita berbicara sebelum kita berpikir" atau "kita sudah keluar jalur, apa yang benar-benar ingin saya bicarakan disini adalah..."

2. Membuat Asumsi
Cara Mengatasinya: Tanyakan langsung

Kita semua mungkin pernah mengalaminya. Apakah pasangan tidak melakukan apa yang Anda inginkan atau dia melakukan/mengatakan sesuatu yang hanya Anda dilihat dari pihak sendiri, padahal maksudnya tidak demikian. "Daripada membuat asumsi negatif mengenai niat, proses atau bahkan perasaannya, lebih baik Anda minta dia untuk membantu memahami darimana semua hal itu berasal," ujar Gladding.

3. Menanyakan Kepastian Tanpa Henti
Cara Mengatasinya: Tanyakan cukup sekali atau dua kali dan beri kepercayaan padanya

Gladding mengatakan, "Meskipun penting untuk menanyakan bagaimana perasaannya atau apa yang dia pikirkan, ada batasan untuk hal ini. Misalnya, jika Anda berulang kali menanyakan pertanyaan yang sama. Mulai dari mendapatkan kepastian atau informasi lebih lanjut tentang peristiwa atau percakapan sebelumnya. Ia mungkin mulai berpikir Anda tidak percaya padanya."

Daripada bertanya tentang topik yang sama beberapa kali, bertanya sekali (atau mungkin dua kali), dapatkan jawaban yang Anda inginkan, katakan apa yang perlu Anda katakan, dan kemudian jalani dan cobalah percaya padanya.

4. Memeriksa semua SMS/BBM/Email
Cara Mengatasinya: Bicara tentang kepercayaan

Bagi sebagian orang, mengetahui hal-hal pribadi pasangan adalah hal yang sangat menggoda. Apakah dia masih dekat dengan mantannya? Apa dia berselingkuh dari Anda? Apapun itu, rasa penasaran hanya akan mengarah kepada hasil yang kurang baik dan sering mengakibatkan ketidakpercayaan.

Sebaiknya Anda memantau dari perilakunya, seperti apakah dia pulang larut malam, atau apakah perhatian dan kasih sayangnya pada Anda berkurang dan lain-lain?

Intinya adalah bahwa jika Anda tidak percaya padanya, mengecek email dan teks tidak akan meningkatkan hubungan. Anda mungkin perlu melakukan percakapan dengan pasangan mengenai keprihatinan atau mempertimbangkan apakah Anda benar-benar percaya padanya untuk berada dalam suatu hubungan.

5. Berbicara mMengenai Hal yang Penting Melalui Media Elektronik
Cara Mengatasinya: Bicara tatap muka

Emoticon bisa membantu beberapa ekspresi ketika Anda saling mengirim pesan. Memiliki percakapan serius melalui email/teks adalah kesalahan besar. Anda tidak dapat memberitahu hal penting seperti nada suara, kontak mata, bahasa tubuh dan informasi penting lainnya.

Sementara telepon atau Skype mungkin menjadi alternatif dalam situasi mendesak, hal ini tidak sama dengan berbicara di ruangan yang sama dengan pasangan. Menurut Gladding, hal ini akan menimbulkan kesalahpahaman, bagaimana seseorang membaca teks dan diasumsikan subteks. Dalam kebanyakan kasus, kesalahpahaman bisa dihindari jika dua orang berbicara secara pribadi, sehingga tidak ada yang salah menafsirkan maksud sebenarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar