Kamis, 19 Januari 2012

Mengurangi Stres dengan Bergosip


shutterstock

 Meski gosip bukanlah kebiasaan yang baik namun tak sedikit yang berpendapat gosip sebagai hal yang mengasyikkan. Malah, dalam studi terbaru disebutkan bergosip bisa mengurangi stres dan mencegah orang lain dipermainkan. 

Itu merupakan kesimpulan para peneliti dari Univesitas California, Berkeley, yang melakukan empat percobaan yang melibatkan ribuan partisipan.

"Gosip memang punya reputasi buruk, tetapi kami menemukan bukti bahwa bergosip berperan penting dalam menjaga fungsi sosial," kata salah satu peneliti, psikolog sosial Robb Willer.

Willer menemukan bergosip bisa menjadi semacam terapeutik. Ketika para partisipan studi melihat orang lain berlaku buruk, denyut jantung mereka meningkat. Tetapi peningkatan itu hanya dalam skala sedang jika mereka menceritakan pada orang lain apa yang mereka lihat.

"Menyebarkan informasi tentang orang lain yang mereka lihat berperilaku buruk ternyata membuat seseorang merasa lebih baik, serta mengurangi rasa frustasi yang mendorong mereka bergosip," kata Willer.

Bukan hanya itu, para peneliti juga menemukan bahwa partisipan studi juga rela mengeluarkan upaya ekstra untuk memberitahu orang lain siapa yang berlaku curang dalam sebuah simulasi permainan ekonomi. Dalam hal ini bergosip berarti mencegah orang lain dirugikan oleh orang yang curang tadi.

"Kita tidak perlu merasa bersalah jika gosip yang kita sampaikan bertujuan untuk mencegah orang lain dipermainkan," kata Matthew Feinerg, ketua peneliti.

Studi tentang kebiasaan bergosip pada tahun 2009 menemukan, sekitar 80 persen isi pembicaraan kita adalah gosip. Dalam studi yang melibatkan 300 orang itu juga ditemukan bahwa sekitar 5 persen gosip bersifat berbahaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar