Selasa, 17 April 2012

9 Aturan Jika Harus Bertengkar di Depan Anak

imgTerkadang ada momen di mana tak bisa terelakkan, anak harus menyaksikan atau mendengar orangtuanya bertengkar. Pertengkaran tersebut sebenarnya bisa saja tidak membuat anak Anda ketakutan. Pertengkaran yang disaksikan anak bahkan dapat menjadi bahan pelajaran untuknya mengenai perbedaan pendapat. 
 
Bagaimana seharusnya ketika anak tak sengaja dan 'terpaksa' melihat orangtuanya bertengkar? Bagian pertama dari sembilan aturan yang dirangkum dari Woman’s day berikut akan menjelaskan topik apa yang boleh dan tidak boleh didengar oleh si kecil saat Anda berdua bertengkar:

1. Bertengkar secara adil
Ini artinya tidak saling mengejek, tidak berteriak, dan tidak mengancam. "Fokuslah hanya dengan apa yang diperdebatkan," terang Tina B. Tessina, PhD, Psikoterapis dan pengarang buku 'Money, Sex and Kids: Stop Fighting about the Three Things That Can Ruin Your Marriage'. "Berargumen tanpa kendali memberikan contoh buruk kepada anak mengenai pernikahan yang kemungkinan akan mempengaruhi kemampuan mereka untuk menjaga keawetan suatu hubungan.

Menurut Michael Osit, EdD, seorang psikolog klinis keluarga, akan sangat penting bagi anak Anda untuk tidak melihat kelakuan yang di luar batas. "Mereka harus mengerti kalau orangtua dapat saling bertengkar namun tetap saling mencintai," katanya.

2. Hindari topik dewasa
Beberapa topik tertentu tidak boleh dipertengkarkan di depan anak-anak. Dipaparkan Dr Tessina misalnya saja mengenai kehidupan seks Anda atau kebiasaan terlalu banyak minum alkohol. Sebaiknya masalah-masalah tersebut dibicarakan secara 

"Anak-anak tidak mengerti bagaimana mengartikan masalah orang dewasa, jadi jangan menunjukkan kepada mereka sesuatu yang mereka belum siap untuk mengerti," ujarnya.

Anda juga seharusnya tidak berbicara buruk tentang anggota keluarga lainnya di depan anak-anak. Membicarakan tentang orang tertentu, seperti ibu mertua, akan ditiru oleh anak Anda. Atau anak Anda malah akan mulai bersikap aneh kepada orang yang dibicarakan tersebut.

3. Jangan berdebat tentang anak
Anda dan pasangan mungkin pernah tidak sepaham soal bagaimana mendisiplinkan anak. Usahakan jangan pernah mendiskusikan soal ketidaksepahaman itu di depan anak. "Orangtua yang aturannya tidak memihak pada anak akan membuatnya dipandang sebagai orang jahat. Dan itu akan membuatnya menjadi orangtua yang kurang efektif karena otoritasnya telah diabaikan," jelas Dr. Osit. 

Yang lebih bermasalah lagi adalah ketika anak-anak membeda-bedakan orangtua mereka. Anak akan mulai merasa mendapatkan posisi kuat. "Jika anak Anda bisa terus mendapatkan apa yang mereka inginkan sepanjang waktu, mereka tidak tahu posisi mereka sebagai seorang anak. Mereka akan berpikir bahwa mereka memiliki otoritas lain di keluarga," jelas Dr. Osit.

4. Selesaikan masalah sebelum berkembang
Perbedaan pendapat pasti tak terhindarkan, namun selalu ada cara untuk menghindari pertengkaran, menurut Robert Epstein, PhD, Psikolog penelitian, mantan editor di Pshychology Today dan pendiri MyParentingSkill.com. "Setiap konflik dapat diselesaikan secara damai dan konstruktif," katanya lagi. Contohnya, jika Anda dan pasangan bertengkar tentang siapa yang harus mencuci piring, sebaiknya bicarakan tentang pembagian tugas siapa yang harus mencuci piring dan siapa yang memasak. Jika belum berhasil, pakai teknik lempar koin. "Dengan begitu, anak Anda akan merasa senang bahwa Anda berdua dapat menyelesaikan masalah secara positif," jelasnya.


5. Pastikan anak Anda mendengar penyelesaian konflik
Sebenarnya baik bagi anak-anak untuk mendengar perbedaan pendapat, misalnya mengenai siaran TV yang ingin ditonton atau restoran yang ingin dikunjungi. Ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan bagaimana Anda ingin sang anak berusaha untuk mendapatkan kesepakatan bersama, bukan untuk menang. 

“Mereka dapat belajar untuk bernegosiasi dengan memperhatikan Anda,” kata Tina B. Tessina, PhD, psikoterapis dan pengarang buku 'Money, Sex and Kids: Stop Fighting about the Three Things That Can Ruin Your Marriage'.

Mereka juga akan belajar bagaimana menyelesaikan masalah, mendengarkan pendapat yang berbeda, memperhitungkan keinginan dan kebutuhan orang lain serta melakukan diskusi hingga solusinya ditemukan. Melalui konflik dan resolusi konflik, Anda mengajarkan mereka bagaimana mengatur hidup mereka sendiri dengan teman sekelas saat di sekolah, saudara di rumah bahkan rekan kerja mereka nantinya.

6. Beri penjelasan setelah bertengkar
Jika Anda dan pasangan bertengkar hebat di depan anak-anak, temui mereka setelahnya untuk meyakinkan kalau semuanya baik-baik saja. “Pertama katakan kepada mereka, ‘Ayah/Ibu minta maaf kalau kami bertengkar di depanmu. Seharusnya kami tidak begitu,’” saran Michael Osit, EdD, seorang psikolog klinis keluarga. 

Jangan beri penjelasan berdua dengan suami, tapi sampaikan secaara terpisah. “Itu akan terlalu formal, jadi katakan pada mereka secara terpisah dan secara santai jelaskan kalau masalahnya telah diselesaikan. Ini sangat penting karena anak Anda akan merasa cemas sehingga menyebabkan konflik di luar rumah. Anak-anak cenderung memutar ulang masalah keluarga melalui hubungan lainnya. Mereka dapat mentransfer konflik orangtua ke teman sebaya, saudara atau guru. Mereka dapat bertindak diluar batas atau menjadi depresi,” kata Michael.

7. Jangan membuat anak memihak
Jangan hanya menghindari bertengkar di depan anak-anak, namun Anda juga harus menghindari menyuruh mereka memilih pendapat siapa yang paling benar, bahkan untuk masalah kecil sekalipun. Dr. Linda Nielsen, EdD, Psikolog remaja dan edukasi di Wake Forest University mengatakan bahwa anak-anak dapat melihat dan mengobservasi, tapi yang merusak adalah jika Anda menempatkan anak di tengah pertengkaran. Jika mereka ditempatkan di salah satu pihak orang tua, itu akan memberikan mereka tekanan. Ditambah lagi, mereka akan merasa bersalah karena memilih salah satu orangtua bukan yang lainnya. 

“Hal itu lebih buruk dibanding bertengkar mengenai hal penting didepan mereka.”

8. Hilangkan ketegangan bersama-sama setelah pertengkaran
Marah, menjadi tidak sabar atau tidak rasional kepada seseorang yang Anda cintai merupakan akibat dari stres. “Jika kita hilang kendali, artinya kita stress, dan kita pasti stres untuk beberapa saat setelah bertengkar, begitupula anak-anak,” kata Robert Epstein, PhD, psikolog penelitian dan pendiri MyParentingSkill.com. Dr. Epstein.

Jadi carilah cara untuk Anda dan anak menghilangkan stres. Anda dapat mencoba teknik bernapas dengan menarik napas perlahan melalui hidung, tahan beberapa detik, lalu hembuskan melalui mulut hingga Anda merasa tenang. Anda juga bisa berjalan kaki santai atau berenang atau berbelanja barang bagus dan murah. Cara ini dapat membantu Anda mendinginkan diri pasca bertengkar.

9. Jangan mencoba menjadi sempurna
Jika Anda memberikan kesan kepada anak kalau keluarga Anda bebas konflik, mereka tidak akan mampu mengatasi konflik di dunia luar. Menurut Dr. Linda, budaya di beberapa tempat tidak benar-benar melakukan argumen secara verbal. Namun, anak-anak yang menerapkan budaya berdebat, tidak terlalu tertekan karena mereka tahu itu bukanlah akhir dari dunia. 

“Beberapa keluarga menyakiti sistem imun anak-anak mereka karena terlalu melindungi mereka dari perkelahian atau argumentasi,” kata Dr. Linda. Selama Anda selalu mengikuti aturan, bertengkar dengan pasangan di depan anak dapat memberikan mereka pelajaran untuk menghadapi konflik dengan cara yang sehat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar