Senin, 18 Juni 2012

JERITAN JIWA SEORANG PENDOSA: "AKU INGIN PULANG."



Teringat sebait syair lagu: "Kujalani hidupku ini tiada yang abadi." Ya, memang aku dicipta oleh Sang Abadi dan ditempatkan dalam dunia yang tidak abadi dengan harapan aku berarak menuju ke-Abadian, kepada Dia, yang dari-Nya aku datang.

Kehidupan yang aku jalani dengan bebas membuatku memilih untuk berbuat baik atau jahat. Ketika aku berbuat baik maka aku menjaga citra Dia yang menciptakanku ketika Ia berkata; "baiklah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita,"(Kej.1:26). Sebaliknya, ketika kejahatan dan dosa menjadi makanan jiwaku setiap saat maka aku sesungguhnya terbuai dalam rayuan, "dosa berbisik di lubuk hati pendosa: "Tak perlu takut akan Allah."(Mzm 36). Dosa dan dosa pun kulakukan setiap saat dan sungguh aku menikmatinya. Memang dosa itu sungguh mengenakkan.

Malam ini ketika terdengar bisikan di relung hatiku; "Putra-Ku, Aku merindukan saat engkau kembali kepada-Ku," aku menjawab-Nya; "Bagaimana aku harus kembali kepada-Mu, Bapa? Dosaku telah menghimpitku; Dosaku telah memperlemah tulang-tulangku untuk melangkah ke hadirat-Mu, Bapa." Tapi, Ia merangkulku dan berkata; "Putra-Ku, sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."(Yes.1:18). Kututupi wajahku, kututupi hati dan jiwaku karena aku tak berani menatap-Nya lagi untuk merasakan kerahiman dan pengampunan-Nya. Menyadari bahwa aku bergumul dengan jiwaku Ia berkata; "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."(Mat.11:28) Untuk sesaat lamanya kubiarkan Suara-Nya membahana merasuk jiwaku. Kurasakan getaran-getaran cinta yang bersemi antara Dia Sang Pencipta dan aku si pendosa.

Aku mengangkat muka dan menatap-Nya, lalu berkata; "Tapi bagaimana Aku bisa mengakui segala dosaku dihadapan-Mu?" Engkau tidak kelihatan dan aku pun tidak pernah mendengarkan suara-Mu?" Ia diam sejenak lalu mengingatkanku akan Sabda-Nya kepada Petrus; "Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."(Mat.16:19) Untuk membenarkan jiwaku aku menjawab-Nya; "Tapi, Tuhan...mereka yang mendengarkan pengakuan dosa-dosaku pun adalah manusia berdosa seperti aku. Lalu, bagaimana aku harus pergi kepada mereka?" Dan, Ia pun menjawab; "Engkau adalah manusia yang lemah dan rapuh, maka Aku pun harus menunjukkan belas kasih dan pengampunan-Ku dengan cara manusiawi." Sesungguhnya, bukan mereka yang mengampunimu tapi Aku sendirilah yang bersabda kepadamu; "Anak-Ku, pergilah! Dosamu telah diampuni," maka teringatlah aku akan Sabda-Nya kepada perempuan yang kedapatan berzinah itu, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang."(Yoh.8:11)

Malam ini, kudatangi jiwamu sebagai sesama pendosa, dan mengajakmu sebagai saudaraku untuk membuat niat di hati, berani melangkah menghampiri Kerahiman Ilahi-Nya dan berkata; "Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa."(Luk.15:18)

Sahabat jiwa, sesungguhnya sebagai putra-putri Gereja Katolik, engkau dan aku tahu jalan ke sana, tapi hanya kadang kita enggan untuk melangkah menghampiri Kerahimanan-Nya. Jika engkau ragu maka ingatlah bahwa aku ingin berjalan bersamamu malam ini kepada Sang Pengampun sambil berkata; "Bapa, aku ingin pulang kepada-Mu." Terdengarlah nyanian rindu penuh penyesalan; "Hanya debulah aku di alas kaki-Mu, Tuhan." Dendangan lagu ini membuatku tertidur dalam belaian kasih-Nya dengan harapan semoga esok, engkau dan aku bertemu di dalam Hati-Nya yang Maha Pengampun."

Goresan hati seorang pendosa yang ingin kembali kepada Sang Pengampun, Allahnya.

***Duc in Altum***

Teringat sebait syair lagu: "Kujalani hidupku ini tiada yang abadi." Ya, memang aku dicipta oleh Sang Abadi dan ditempatkan dalam dunia yang tidak abadi dengan harapan aku berarak menuju ke-Abadian, kepada Dia, yang dari-Nya aku datang.

Kehidupan yang aku jalani dengan bebas membuatku memilih untuk berbuat baik atau jahat. Ketika aku berbuat baik maka aku menjaga citra Dia yang menciptakanku ketika Ia berkata; "baiklah Kita menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Kita,"(Kej.1:26). Sebaliknya, ketika kejahatan dan dosa menjadi makanan jiwaku setiap saat maka aku sesungguhnya terbuai dalam rayuan, "dosa berbisik di lubuk hati pendosa: "Tak perlu takut akan Allah."(Mzm 36). Dosa dan dosa pun kulakukan setiap saat dan sungguh aku menikmatinya. Memang dosa itu sungguh mengenakkan.

Malam ini ketika terdengar bisikan di relung hatiku; "Putra-Ku, Aku merindukan saat engkau kembali kepada-Ku," aku menjawab-Nya; "Bagaimana aku harus kembali kepada-Mu, Bapa? Dosaku telah menghimpitku; Dosaku telah memperlemah tulang-tulangku untuk melangkah ke hadirat-Mu, Bapa." Tapi, Ia merangkulku dan berkata; "Putra-Ku, sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."(Yes.1:18). Kututupi wajahku, kututupi hati dan jiwaku karena aku tak berani menatap-Nya lagi untuk merasakan kerahiman dan pengampunan-Nya. Menyadari bahwa aku bergumul dengan jiwaku Ia berkata; "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."(Mat.11:28) Untuk sesaat lamanya kubiarkan Suara-Nya membahana merasuk jiwaku. Kurasakan getaran-getaran cinta yang bersemi antara Dia Sang Pencipta dan aku si pendosa.

Aku mengangkat muka dan menatap-Nya, lalu berkata; "Tapi bagaimana Aku bisa mengakui segala dosaku dihadapan-Mu?" Engkau tidak kelihatan dan aku pun tidak pernah mendengarkan suara-Mu?" Ia diam sejenak lalu mengingatkanku akan Sabda-Nya kepada Petrus; "Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."(Mat.16:19) Untuk membenarkan jiwaku aku menjawab-Nya; "Tapi, Tuhan...mereka yang mendengarkan pengakuan dosa-dosaku pun adalah manusia berdosa seperti aku. Lalu, bagaimana aku harus pergi kepada mereka?" Dan, Ia pun menjawab; "Engkau adalah manusia yang lemah dan rapuh, maka Aku pun harus menunjukkan belas kasih dan pengampunan-Ku dengan cara manusiawi." Sesungguhnya, bukan mereka yang mengampunimu tapi Aku sendirilah yang bersabda kepadamu; "Anak-Ku, pergilah! Dosamu telah diampuni," maka teringatlah aku akan Sabda-Nya kepada perempuan yang kedapatan berzinah itu, "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang."(Yoh.8:11)

Malam ini, kudatangi jiwamu sebagai sesama pendosa, dan mengajakmu sebagai saudaraku untuk membuat niat di hati, berani melangkah menghampiri Kerahiman Ilahi-Nya dan berkata; "Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa."(Luk.15:18)

Sahabat jiwa, sesungguhnya sebagai putra-putri Gereja Katolik, engkau dan aku tahu jalan ke sana, tapi hanya kadang kita enggan untuk melangkah menghampiri Kerahimanan-Nya. Jika engkau ragu maka ingatlah bahwa aku ingin berjalan bersamamu malam ini kepada Sang Pengampun sambil berkata; "Bapa, aku ingin pulang kepada-Mu." Terdengarlah nyanian rindu penuh penyesalan; "Hanya debulah aku di alas kaki-Mu, Tuhan." Dendangan lagu ini membuatku tertidur dalam belaian kasih-Nya dengan harapan semoga esok, engkau dan aku bertemu di dalam Hati-Nya yang Maha Pengampun."

Goresan hati seorang pendosa yang ingin kembali kepada Sang Pengampun, Allahnya.

***Duc in Altum***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar