Selasa, 31 Januari 2012

Tips Kurangi Kebiasaan Ngomel yang Tak Disukai Suami

img Penelitian membuktikan, mengomel bisa jadi salah satu pemicu yang membuat pernikahan retak. Sayangnya kebiasaan mengomel ini sulit dihindari. Tapi bukan berarti tidak bisa dicoba untuk dikurangi. Bagaimana caranya?
 
Penelitian membuktikan, mengomel bisa jadi salah satu pemicu yang membuat pernikahan retak. Penelitian tersebut dilakukan oleh Horward Markman, profesor psikologi dari Universitas Denver yang juga berkerja sebagai direktur di Center for Marital and Family Studies.

Dalam penelitiannya Dr. Markman yang dipublikasikan di Journal of Family Pschology pada 2010 terlihat, pasangan yang jadi tidak bahagia setelah lima tahun menikah, mengalami 20% peningkatan pola komunikasi negatif, seperti terus-menerus mengomel.

"Mengomel adalah musuh dari cinta jika memang terus dibiarkan," ujar Dr. Markman, seperti dikutip dari Wall Street Journal.

Selama 30 tahun, Dr. Markman sudah meneliti soal konlik dan komunikasi dalam sebuah hubungan. Dia melihat, pasangan yang mencoba mengurangi mengomel ini, kemungkinan pernikahan mereka langgeng menjadi lebih besar. Sementara pasangan yang tidak mencoba mengurangi kebiasaan tersebut berisiko pernikahannya retak dan berakhir cerai.

Apakah Anda dan suami termasuk yang punya kebiasaan mengomel? Berikut ini cara untuk mengurangi kebiasaan yang bisa membuat pernikahan retak itu:

1. Tenangkan diri. Pelajari dan kenali kapan saja Anda mengomel. Cobalah untuk membicarakan masalah yang jadi bahan omelan tersebut dengan memposisikan diri sebagai tim. Usaha untuk mengurangi kebiasan mengomel ini harus dilakukan oleh Anda dan suami.

2. Coba lihat dari perspektif orang lain. Saat Anda mengomel pasangan merasa Anda tidak menghargai apa yang sudah dilakukannya. Jadi sebelum mengeluarkan rentetan omelan, coba posisikan dulu diri Anda di posisi suami.

3. Saat mengomel, sebaiknya jangan pakai kata 'kamu', tapi 'aku'. Misalnya, lebih baik Anda mengatakan "Aku ngerasa kamu selalu terlambat bayar tagihan KPR" ketimbang "Kamu itu selalu terlambat bayar tagihan".

4. Jelaskan kenapa masalah yang Anda bahas (dan biasanya berujung jadi omelan) penting untuk Anda. Misalnya, "Aku khawatir kalau kamu selalu telat bayar tagihan KPR, kita nanti tidak bisa bayar dendanya".

5. Ekpektasi yang realistis. Kalau Anda memiliki masalah dan ingin mengomel, pastikan masalah yang Anda bahas itu memang realistis dan pantas untuk didiskusikan. Misalnya saja, saat suami baru pulang kantor dan dia menaruh sepatunya sembarangan, apakah memang Anda perlu langsung mengomel atas sikapnya tersebut. Apakah memang sepatunya harus ditaruh segera pada tempatnya.

6. Buat batas waktu. Tanya pada pasangan kapan dia bisa menyelesaikan tugasnya. Misalnya, apakah dia bisa mencabut rumput di halaman akhir pekan ini. Sebaiknya, biarkan pasangan sendiri yang menentukan kapan waktu terbaik dia dapat menyelesaikan tugasnya tersebut.

7. Kalau Anda adalah pihak yang kena omelan, langsung beri jawaban yang jelas soal omelan tersebut. Katakan dengan jujur kalau Anda bisa melakukan permintaannya itu dan kapan waktunya. Pastikan Anda melakukan hal yang memang sudah Anda ucapkan.

8. Cari jalan keluar lain. Kalau memang apa yang jadi bahan omelan pasangan tidak bisa dikerjakan suami, carilah solusi lain. Misalnya menyewa tukang pekerja bangunan untuk membetulkan atap rumah yang bocor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar