Sabtu, 04 Februari 2012

Aku Gak Perawan, Emang Salah Banget???

Cerita ini bukan hanya tentang keperawanan semata,
 melainkan tentang persahabatan yang tak berkesudahan… :)
Aku Vika anak SMA yang masih sangat labil bisa juga
 dibilang badung. Anak yang murung berada di
sampingku ini adalah sahabat baikku. Namanya Audrey.
 Di balik kemurungannya dia itu sebenarnya sangat cantik.
Tetapi kisah hidupnya yang memilukanlah membuatnya
 berlaku
 seperti itu. Kami berdua sudah bersahabat sejak 
TK hingga
 SMA, kami selalu duduk di bangku yang sama.
Jika jaman sekarang banyak orang yang gagal dalam
bersahabatan
tidak demikian dengan aku. Aku sangat menjaga
 persahabatanku
 dengannya, sekali pun kenyataannya banyak yang mencaci
Audrey.
 Aku sangat menyayangi Audrey seperti aku menyayangi
 Mama dan
 kedua kakakku. Audrey pun begitu, meski tanpa ekspresi
namun dia
 sangat menyayangiku.
“Sahabat selamanya?” Begitulah dia bertutur bila
melihat aku
sedang jengkel dengannya. Rasa jengkelku pun hilang
dan aku
memeluknya dengan hangat.
Hidup Audrey tidak seenak diriku. Hidup Audrey penuh
 dengan
 konflik, hingga sekarang konflik itu tidak ada lagi namun
 meninggalkan akibat bekas konflik yang tak dapat
disesali lagi.
 Audrey itu adalah anak tunggal, Audrey lahir di saat
Mamanya
sudah menginjak usia 45 tahun. Tua sekali bukan?
Audrey-lah
 anak yang sangat dirindukan oleh Mamanya. Tetapi
tidak begitu
 dengan Papanya. Papanya hampir membunuh
Mamanya
karena melahirkan anak perempuan. Papanya
berharap akan
 mendapatkan anak laki-laki ternyata tidak. Selama
 tujuh tahun
Audrey disiksa oleh Papanya. Sampai akhirnya
Mamanya
memilih untuk bercerai dari Papanya karena tidak
tahan.
Akhirnya Mamanya menikah lagi dengan pria yang
ternyata
tidak tulus mencintai Mamanya, Papa tirinya itu hanyalah
melihat harta saja. Bukan cinta, awalnya aku mengira
 Audrey
 tidak mengapa-apa karena Papa tirinya itu juga tidaklah
 jahat
atau suka main pukul.
“Papa tiri kamu itu baik khan?” Tanyaku suatu ketika.
“Lumayanlah. Walaupun orangnya boros yang 
penting tidak melakukan kekerasan.”Jawabnya.
Tetapi semua itu berubah ketika aku dan Audrey pergi
ke salah
satu supermarket. Kami sering berbelanja bersama sekali
sebulan.
Membeli bedak, lotion bahkan pembalut. Pokoknya
 kebutuhan ceweklah.
Yang aku herankan saat Audrey tidak lagi membeli
pembalut.
“Kenapa?”
“Masih banyak sisa di rumah…”
Sesungguhnya aku heran. Karena jika Audrey lagi
datang bulan
dia membutuhkan pembalut sampai 5 bungkus. Kenapa
sekarang bisa-bisanya dia mengatakan masih banyak
di rumah?
Keaneh-anehan mulai terjadi, tetapi aku masih meredam
keingintahuanku. Hingga suatu saat…
“Aaarrggghhh!!!” Pekik Audrey di dalam toilet. AKu
yang sedang
buang air kecil di toilet yang berada di sampingnya pun
 segera
 berlari dan menemuinya.
“Kenapa???” Tanyaku kebingungan namun dia tak
menjawab
 wajahnya pucat sekali. Di tangannya ada benda kecil
 berwarna putih dan dia segera memasukkannya ke dalam
kantung roknya. Namun sebelum itu terjadi aku segera
 merampasnya.
“Ini apa?” Tanyaku.
Dia diam membisu, wajahnya pucat sekali dan dia
menangis
 sejadi-jadinya sambil memeluk aku. Dia belum juga
menjelaskan padaku. Aku marah lalu mendorongnya
 ke dinding toilet.
“Kamuuu… Kamu hamiilll….” Pekikku.
“I… Iya…” Dia tertunduk.
Awalnya aku ingin membenci dia. Karena aku kecewa
dia
melakukan hal yang tak seharusnya. Aku pikir dia gadis
 baik-baik.
Ah, aku kecewa sekali… Tetapi aku merasa orang
 paling jahat
 di dunia setelah dia memberi penjelasan. Ternyata…
Ternyata Papa tirinyalah yang memperkosanya. Dia
diperkosa
saat keadaan rumah sangat sepi dan Mamanya sedang
tidak berada di rumah. Oh, menyedihkan sekali nasib
sahabatku
 ini… Aku minta maaf padanya dan menyemangatinya
tidak lupa
aku menyarankan agar dia tidak menggugurkan
 kandungannya.
Karena biar bagaimana pun itu adalah perbuatan dosa.
“Tapi aku sekolah…”
“Kalau kamu gugurin aku marah besarrr… Plis jangan
 gugurin.”
 Aku memberi perigatan padanya sambil membesarkan kedua
 bola mataku.

Semenjak saat itu seluruh sekolah mengetahui kabar
 kehamilan
 Audrey dan semua mengolok-oloknya. Akulah selalu
berdiri di
 barisan depan jika ada orang yang menjelek-jelekkannya.
Aku bahkan akan main tangan pada mereka jika sudah
keterlalu
sampai membuat Audrey menangis. Aku tak peduli
dikatakan
perempuan yang jahat. Terserah! Walau memenag pedih
 kita
aku dan Audrey diejek lagi menjadi sepasang lesbi.
“Kabarnya kamu hamil. Orang hamil mana bisa sekolah.
 Dikeluarkan lho.” Ejek Cindy pada Audrey yang terpojok
di sudut kelas.
“Kalo ga ada bukti jangan nyolott…” Makiku sambil menepis
tangan Cindy yang hampir meraih kerah baju Audrey.
“Ga ada sih. Cuman denger2 aja. Siap-siap aja dikeluarin 
dari sekolah ini.” Kata Cindy.“Dasar perempuan kotor…!!!”
 Makinya.
Audrey diam tak melawan. Semenjak saat itu teman-teman
sekelas memusuhi aku dan Audrey, mereka semua
menganggap diri mereka suci. Memangnya kesucian dinilai
 dari keperawanan? Terus, apa TUHAN pilih-pilih mengakui
 anakNya. Tuhan ga bakalan pernah bilang, “Vika… Kamu 
perawan ato enggak? Kalo engga noh pergi jaooohhh…”
 Tuhan ga bakalan pernah bilang begitu. Jadi perawan
aja musti sebangga itu terus jelek-jelekin sahabat aku?
Aku sering menginap di rumah Audrey setidaknya
 menemaninya
 dalam kesunyian. Kasihan Mamanya sudah terkena stoke
 semenjak perceraiannya dengan Papa tirinya. Aku selalu
 menyemangati Audrey sahabatku, walau sebenarnya aku tak
memungkiri ada kebosanan dalam hatiku masakkan aku harus
 menemaninya dicaci terus? Tetapi aku berusaha untuk tegar
bersahabat dengannya.
“Sekali-kali kamu lawan Cindy dong. Jangan mau diejek melulu…”
“Aku gak berani…” Katanya sambil tertunduk. “Vik… 
Sebenarnya aku…”
Katanya terbata-bata.
“Aku apa???” Tanyaku penasaran.
“Uumm… Tapi kamu jangan marah yah?” Audrey kelihatan
 takut sekali
menatapku.
“Iya…. Tapi apa dulu?” Aku tak sabaran menunggu kata
 yang akan
 dikeluarkan Audrey.
“Aku… Maaf… Aku gugurin bayinya….”
BLAAARRR!!! Bagai petir di siang bolong. Aku tidak
menyangka
temanku melakukan itu padahal sudah aku peringatkan.
Audrey
 terlihat ketakutan dan menunduk. Aku yang kecewa dengan
Audrey
 akhirnya berbalik badan dan berlalu sambil berkata…
“Aku kecewa…” Kataku dengan nada bergetar.
“Jangan pergiiii… Pliisss….” Audrey menangis sambil
menahan tanganku.
Tiba-tiba hujan mengguyur dan kami pun basah di
tengah lapangan
basket sekolah itu. Tak ada niatku untuk berlari karena
 hujan.
 Airmata dan hujan bercampur menjadi satu.
“Kamu mau bilang apa lagi? Aku kecewa. Aku cuman ga
mau kalo 
kamu itu berdosa. Itu aja…” Kata sambil menunjuk-nunjuk
kearah mukanya.
“Maaf… Kamu tau khan kalo Mama aku stoke hanya karna 
mikirin aku. 
Aku sayang kamu tapi aku juga sayang Mama. 
Tapi kalian berdua
 itu bukan pilihan. Aku ga bisa milihhhh… Tapi sewaktu
 aku liat Mama
 nangis-nangis karena aku gak mau menggugurkannya
 hatiku 
pedih banget… Plisss… Ngerti dong…”
“Tapi….” Perkataanku segera dipotong.
“Kamu tau? Di dunia ini aku hanya punya dua orang yang 
sangat aku cintai. 
Mamaku… Dan kamu…” Audrey menangis sambil memeluk
aku.
 “Kalo kamu pergi dan berubah sikap kayak Cindy…
 Lebih baik aku matiiii…” 
Tangisnya. “Maaf… Maaf kalo aku gugurin. Tapi ini hanya
 karena
 Mamaku pengen masa depanku baik-baik aja… 
Plis jangan tinggalin aku…”
Hatiku terenyuh mendengar penjelasannya, aku yang
 ingin kabur dan
 meninggalkannya dengan sangat egois kini berbalik
 memeluknya erat.
 Audrey sahabatku, aku gak mau bersahabat hanya karena
 persahabatan dalam keadaan baik-baik aja. Aku mau
bersahabat
 tetapi tetap setia walaupun dalam keadaan buruk s
ekalipun.
Aku mau jadi sahabat yang tau diri. Itu aja… Aku sayang
Audrey.
“Aku ga tau seberapa banyak dosaku…” Tangis Audrey
menyesal
 karena dihimpit pilihan yang menyakitkan.
“Udahlah…” Aku menepuk-nepuk pundaknya.
Waktu berlalu begitu cepat. Dan tetap saja teman-teman
 sekolah
 mengejek-ejek Audrey kali ini dengan sebutan yang
menyakitkan
‘Cewek bekas’ yang lebih mengejutkan lagi teman-teman
sudah
tahu kalau Audrey ternyata diperkosa Papanya.
“Rumah tangga broken home… Makanya lu diperkosa… 
Wkwkwkwkwk” Tawa Cindy. Aku sangat terkejut mendengar
ejekan Cindy pada Audrey dalam hitungan detik.
PLAK! Aku menampar Cindy dan mendorongnya ke dinding.
“Omongan kamu itu kok kasar banget, sich?” Bentakku.
“Biarin…” Jeritnya sambil memegangi pipinya yang merah.
Tiba-tiba Audrey mendatangi Cindy dan menamparnya juga.
Di terlihat lebih tegar dari biasanya yang selalu pucat pasi.
“Itu untuk penghinaan kamu selama ini…” Pekiknya di
 depan muka Cindy. “Kamu pikir seberapa hebat kamu 
karena perawan? Kelakuan kamu lebih hina dari akuuuu!!!”
Pekiknya membuat Cindy harus menutupi telinganya.
“AKU MEMANG GAK PERAWAN LAGI!!! TERUS KENAPA??? 
SALAH BANGET YAH!!!” Jeritnya sampai seluruh kelas
mendengarnya.
“Kamu tau? Aku ini diperkosa!!! Bukan keinginan aku. 
Ini udah cukup sakit. JANGAN KAMU TAMBAHIN LAGI!!!” 
Pekiknya meluapkan kekesalan beberapa bulan ini.
Aku terkejut mendengar penuturan Audrey yang
blak-blakan.
Semenjak saat itu tak ada yang suka-suka bicara
pada pada
 Audrey. Justru semuanya malu pada diri sendiri.
 Bingung
 juga! Memangnya perempuan dinilai dari
 keperawanannya?
Jadi kalau sudah tidak perawan lantas dihina-hina?
 Dimaki-maki?
Semua layaknya Tuhan. Aku benci sekali mereka
menghina
 sahabat baikku ini.
Sampai kami duduk di bangku kuliah, Audrey
memiliki kekasih
saat kekasihnya tahu Audrey tidak perawan lagi.
Kekasihnya
 memutuskan Audrey. Sudah berkali-kali Audrey
begitu
Sebenarnya dia sangat sedih namun dia berusaha
menutupi
 kesedihannya dari aku.
“Tenanglah sobat… Suatu saat kamu dapat laki-laki 
yang benar 
menyayangi kamu. Tanpa memandang kekuranganmu.
Dan benar saja akhirnya dia mendapatkannya.
Dan saat aku
melihatnya di pelaminan aku hanya bisa tersenyum.
Sekarang
 orang yang dicintainya bertambah satu, pikirku.
Mamanya, Aku dan
 suaminya…
Sekarang kami sudah berumah tangga. Dan aku
bahagia bisa
bersahabat dengannya tanpa memandang
kekurangnnya.
Aku ingin lebih dekat lagi dengannya. Namun
semua itu tak mungkin,
karena kami telah memiliki kehidupan masing-masing.
 Dia lah
sahabatku… Sahabat yang tegar… :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar