Selasa, 06 Maret 2012

Tolong, Saya Mau Bangkit


Tolong, Saya Mau Bangkit
Jantung penonton berdegup kencang melihat Dre Parker (Jaden Smith) terhempas di arena turnamen bela diri. Kakinya cedera. Dre diangkut ke klinik, ditemani Mr. Han (Jackie Chan), pelatihnya. Lalu menjelang klimaks The Karate Kid, terjadilah percakapan ini.
“Saya mau kembali ke arena. Saya mau melanjutkan pertandingan,” kata bocah berusia 12 tahun ini. Mr. Han menggeleng, “Saya tidak mau melihat kamu terluka lagi.” Mereka beradu argumen. “Katakan padaku, kenapa kamu masih mau melanjutkan pertandingan?” Mr. Han menantang.
Penonton menahan napas menunggu jawaban Dre. Bertarung untuk balas dendam pada Cheng, teman sekolah yang selalu mengganggunya yang kini menjadi lawan tandingnya. Atau, ada alasan lain?
“Karena saya masih merasa takut,” Dre menjawab lirih. Dre memang selalu merasa ketakutan kalau pergi ke sekolah. Teror Cheng tiada henti untuknya. “Saya mau mengalahkan ketakutan itu.” Mr. Han terdiam, tertegun mendengar jawaban Dre.
“Hidup sedang mengalahkan saya. Sekarang saya mau bangkit. Tapi kenapa kamu tidak mau membantu saya?” Dre berteriak dengan parau, nyaris frustasi melihat Mr. Han yang mencegahnya kembali ke arena. Airmatanya menitik. Mr. Han terdiam. Lidahnya terasa kelu.
Penonton menunggu dengan hati berdebar. Maukah Mr. Han membantunya? Akankah Dre kembali ke arena tanding? Mungkinkan dia mengalahkan Cheng?
Hidup seringkali tidak menyenangkan. Kalau di dalam cerita film, tokoh utamanya selalu mempunyai pahlawan penolong dalam hidupnya. Dre punya Mr. Han ketika dia dihajar habis-habisan oleh kelompok gang Cheng. Cinderella punya peri yang memberinya sepatu kaca dan kereta kencana untuk ke istana. Tuhan memang menghadirkan orang-orang dalam perjalanan hidup kita. Saudara, teman kantor, tetangga, teman lama, kolega. Tapi, tak jarang, kita seperti dalam keadaan “ditinggalkan sendirian”.
Saya pernah mengalami saat-saat seperti itu ... Saya merasa begitu kecewa, kesal sekali rasanya, ketika kamu ingin sembuh, tapi tak ada orang yang berada di sampingmu untuk membantu.
Saya pernah mengalami saat-saat seperti itu. Beberapa tahun lalu saya kecelakaan, luka di bagian tumit. Saya tak bisa jalan. Padahal saya sedang merantau, tinggal jauh dari orangtua. Saya merasa begitu kecewa, orang-orang yang kepadanya saya berharap, justru tidak ada di samping saya di saat saya membutuhkan mereka. Saya harus keluar ke jalan membeli makan sendiri dengan kaki pincang, tertatih-tatih menuruni loteng. Kesal sekali rasanya, ketika kamu ingin sembuh, tapi tak ada orang yang berada di sampingmu untuk membantu.
Mungkin kamu pernah mengalaminya. Kamu mau bangkit mengalahkan ketakutanmu. Berjuang meraih impianmu. Tapi orang-orang di sekitarmu justru bersikap tidak mendukung. Bahkan mencegahmu dengan alasan supaya kamu tidak perlu sakit dan terluka ketika berjuang, atau justru mencemooh segala usahamu. Apapun itu.
Di saat-saat seperti itu, seseorang berkata kepada saya: manusia bisa tidak setia, tapi Tuhan selalu setia. Teman tidak bisa hadir kapan saja, tapi Tuhan selalu di samping saya. Saya mesti lebih mengandalkan Tuhan ketimbang manusia. Ketika saya mengandalkan Tuhan, saya sekaligus menjaga hati saya dari kekecewaan.
 “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.”
- Mazmur 121: 2-3
Ini menjadi kekuatan saya dalam hal apapun. Kita bisa berteriak kepada-Nya, “Saya mau mengalahkan ketakutan saya. Saya mau kejar mimpi saya. Saya mau bangkit dari keterpurukan saya. Maukah Engkau menolong saya?”
Seperti sebuah film, ketika kita mau bangkit, orang-orang di sekitar kita menjadi penontonnya. Mungkin keluargamu, teman dekatmu, orangtuamu, kolegamu. Jantung mereka berdebar-debar menyaksikan kisah hidupmu. Dan mereka menunggu, akankah kamu mau bangkit saat terpuruk? Kisah hidupmu akan menjadi inspirasi buat mereka.
Written by: NI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar