Selasa, 06 Maret 2012

Untung, Tuhan Tidak Kapitalis


Untung, Tuhan Tidak Kapitalis
Begini. Terus terang, dahi saya berkerut kala saya menonton film layar lebar 2012. Bukan karena spesial efek yang mengagumkan. Bukan karena adegan-adegan tak masuk akalnya atau cerita yang seru. Juga bukan karena saya merasa takut kiamat.
Saya yakin sebagian besar orang sudah menonton film besutan Roland Emmerich itu. Ya, itu tuh, tentang ramalan suku Maya bahwa sistem kalender berakhir pada Desember 2012. Lantas apa yang terjadi setelah itu? Spekulasi kiamat pun muncul. Mencari selamat, mereka membuat sebuah bahtera raksasa seperti zaman Nabi Nuh. Nah, ini yang membuat dahi saya berkerut.
Mau selamat dari kiamat? Anda bisa membeli tempat di bahtera ala Nabi Nuh.
Boleh saya ulangi kalimat ini?
Mau selamat dari kiamat? Anda bisa MEMBELI TEMPAT di bahtera ala Nabi Nuh.
Keselamatan menjadi komoditas perdagangan menjelang kiamat. Saya tak heran, dalam film itu, orang-orang yang bisa membeli tempat hanya orang-orang yang berduit. Konglomerat. Pejabat. Mungkin uang itu diperoleh dari hasil manipulasi dan korupsi, atau judi. Entah. Yang jelas mereka sangat berduit.
Lalu ada adegan, beberapa otoritas memilih rakyat jelata yang akan diselamatkan. Otoritas ini memeriksa setiap orang. Mereka menetapkan syarat orang untuk bisa selamat: sehat jasmani dan rohani, intelektual, punya kemampuan tertentu.
Dasar film Hollywood. Dasar kapitalis. Saya pikir, begitulah jika orang membuat film keselamatan dengan versi manusia. Keselamatan menjadi sesuatu yang bisa diperjual-belikan. Keselamatan tergantung kamu punya uang atau tidak. Ah, tapi bukankah begitu pertemanan di bumi selama ini? Orang mengukur orang lain dengan uang, jabatan, kepentingan, kepandaian, kecantikan.
Yang jelas, dalam 2012, saya melihat: begitulah yang terjadi jika manusia yang menentukan ukuran keselamatan. Saya yakin dunia nyata tak jauh berbeda. Lihat saja realita. Tengok surat kabar, televisi, dunia elektronik maya.
Lalu saya bersyukur, bukan manusia yang menentukan keselamatan.
Tuhan menggunakan ukuran berbeda, yang kita sendiri tak akan pernah sanggup memahami pola pikir-Nya. Ukurannya bukan uang, bukan materi, bukan kepandaian, bukan kecantikan. Malah, orang-orang yang hancur hidupnya, yang remuk redam hatinya, yang mengelana jauh dari-Nya.
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri.
- Efesus 2:8-9
Jika Tuhan adalah seorang gembala domba, Dia akan meninggalkan 99 ekor untuk mencari satu yang hilang. Jika Tuhan adalah seorang pedagang, Dia tak akan rela jika satu sen pun menghilang. Dia akan mencari pelita, berjongkok-jongkok dan mencarinya sampai ketemu.
Begitu besar kasih Tuhan pada manusia, hingga Dia mengirim putra-Nya yang tunggal, untuk mati di kayu salib. Seorang putra mahkota kerajaan sorga, menanggalkan jubah kerajaan-Nya dan menjadi rakyat jelata, sama seperti kita. Seorang anak laki-laki yang lahir, dengan tujuan mati di kayu salib. Darah yang tercurah di kayu salib itulah yang mengubah kehidupan kita.
Tuhan tak pernah meminta kita MEMBELI KESELAMATAN. Tuhanlah yang MEMBAYAR KESELAMATAN buat kita. Tuhan telah MENYEDIAKAN TEMPAT untuk kita. Melupakan kesalahan-kesalahan di kehidupan lama. Memberi kita kehidupan yang baru.
Dia menunggu di lorong depan kamarmu ketika kamu menutup pintu hatimu. Dia duduk di sebelahmu, ketika kamu menangis. Dia melihat hatimu yang hancur, jemari-Nya ingin meraihmu untuk menyatukan kepingan hati itu. Dia melihatmu tertawa dan bercanda dengan teman-temanmu, ingin ikut bergabung denganmu. Ketika kamu tertekan dan tak ada yang bisa diajak curhat, Dia di sampingmu. Menyendengkan telinga-Nya untuk mendengar tiap perkataanmu. Ingin memelukmu.
Dia rindu untuk bercakap-cakap dengan-Mu. “Maukah kamu membuka pintu hatimu?” bisik-Nya lembut. Dia mau kamu bertemu secara pribadi dengan-Nya.
Setelah kita mengalami pertemuan pribadi dengan-Nya pun, ketika kita melakukan kesalahan, kasih karunia-Nya selalu tersedia. Sebuah kasih yang tak terukur, yang membuat kita sanggup mengasihi-Nya. Memberi kekuatan untuk mengarungi perjalanan bersama-Nya.
Ah, untung Tuhan tidak kapitalis!
Written by NI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar