Selasa, 03 April 2012

7 Masalah yang Umum Dialami Wanita Saat Bercinta

imgSiapa bilang semakin bertambah umurnya, wanita tidak bisa menikmati bercinta? Melalui buku terbarunya, seorang terapis seks Dr. Marty Klein membagi kiatnya bagaimana agar wanita dapat memperoleh apa yang mereka inginkan saat berhubungan intim dengan pasangan.
 
Tidak sedikit orang beranggapan semakin menurunya hasrat seks merupakan bagian dari pertambahan usia. Namun menurut terapis seks dan pernikahan, Dr Marty Klein, hal tersebut sebenarnya bisa saja tidak terjadi.

Melalui penelitian dan pengalamannya menjadi konsultan, Dr Klein membeberkan rahasia bagaimana agar gairah seks itu tetap ada sepanjang usia. Seperti dikutip dari Daily Mail, rahasia tersebut diungkapkan di buku terbarunya 'Sexual Intelligence-What We Really Want From Sex And How To Get It'.

Dalam bukunya, wanita yang sudah menulis enam buku tentang seks itu mengatakan, jika wanita ingin menikmati seks, seiring berbagai perubahan terjadi dalam diri mereka, wanita harus mengembangkan berbagai model bercinta. Dr Klein menegaskan jika wanita bisa menepis semua mitos yang beredar tentang seksualitas, hubungan seks dengan suami pun bisa tetap sama menyenangkannya seperti masa pengantin baru meskipun usia semakin bertambah.

Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan agar wanita bisa mengatasi berbagai kecemasan saat bercinta dan mendapatkan apa yang diinginkannya:

1. Ketika Tidak Percaya Diri dengan Tubuh
Tidak sedikit wanita merasa tubuhnya tidak ideal. Apakah Anda termasuk? Coba pikirkan lagi, tubuh tersebut satu-satunya yang Anda punya, jadi kenapa harus malu dan tidak membanggakannya. 

Namun memang di tengah gencarnya iklan tubuh ideal, tentu akan mudah sekali timbul perasaan kalau tubuh Anda tidak masuk kategori ideal atau seksi. Dengan perasaan tidak percaya diri itu, wanita jadi sulit mendapatkan kenikmatan atau gairahnya saat bercinta. 

Dr Klein mengatakan rasa tidak percaya diri memang salah satu pembunuh gairah paling umum pada wanita. Jadi kalau Anda tidak mau gairah tersebut hilang, hapus semua perasaan tidak percaya diri itu. Seberapapun tidak nyamannya Anda pada penampilan, Anda harus menyingkirkan pikiran tersebut. Jangan pikirkan soal selulit atau lemak di tubuh. Rileks saja dan biarkan perasaan seksi itu datang. Seksi itu justru dengan menjadi diri sendiri.

2. Ketika Pekerjaan Rumah Menunggu
Saat ingin bercinta, wanita seringkali sudah membayangkan skenario bagaimana agar aktivitas tersebut berlangsung dengan sempurna. Wanita ingin hubungan intim dilakukan saat luang, tidak ada gangguan, tidak ada pekerjaan rumah yang menunggu, dan masih banyak lagi.

Beberapa hal yang diinginkan wanita tersebut memang bisa saja tercapai. Namun di masa sekarang ini, ketika kehidupan semakin menuntut Anda untuk terus sibuk, tentu tak semua skenario seks itu bisa diwujudkan. 

Menurut Dr Klein, jika ingin tetap menikmati seks, pasangan harus siap bercinta, meski kondisinya tidak ideal. Aktivitas tersebut tidak harus dilakukan dalam skenario 'sempurna' yang selama ini sudah dibayangkan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Dr Klein menyarankan, cobalah untuk lebih sering mengatakan 'ya' ketimbang 'tidak'. Misalnya saja ketika Anda ingin bercinta di pagi hari, tapi merasa aktivitas tersebut bisa membuat Anda terlambat. Belum lagi ada begitu banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum berangkat kerja. Tentu saja, ketimbang bercinta, Anda memilih menyelesaikan semua urusan. Namun sesuai saran Dr Klein, cobalah untuk mengatakan 'ya' pada seks meski ada banyak hal yang Anda pikirkan. Dengan mengatakan 'ya', setelahnya Anda bisa merasa lebih bahagia.

3. Rencanakan Bercinta
Sampai saat ini masih banyak orang beranggapan, seks yang ideal adalah spontan atau terjadi secara natural. Anggapan tersebut datang karena di awal pernikahan, hal itulah yang terjadi. Pasangan bisa bercinta kapan saja, tanpa mereka rencanakan.

Seiring pertambahan usia pernikahan, tentu saja kehidupan juga berubah. Anda dan suami jadi lebih memiliki banyak tanggungjawab. Ketika hal ini terjadi, kalau seks hanya dilakukan saat spontan atau secara natural, tentu bisa dihitung dengan jari berapa kali dalam sebulan Anda bercinta.

Ketika usia semakin dewasa dan pernikahan sudah berlangsung bertahun-tahun, Dr Klein mengatakan, sangat perlu untuk membuat rencana bercinta. Apalagi jika Anda dan pasangan telah memiliki anak. 

Jadwal bercinta ini perlu dibuat agar Anda dan pasangan bisa menyiapkan mood untuk melakukan aktivitas intim tersebut. Apakah nantinya jadwal atau rencana bercinta itu harus dijalankan atau tidak, terserah Anda dan suami. Bisa saja Anda dan pasangan pada akhirnya hanya saling berpelukan di sofa. Meski tidak bercinta, setidaknya keintiman dengan pasangan tetap bisa terjalin.

4. Bagaimana Menolak Bercinta
Saat masih menjadi pengantin baru, bercinta rasanya mudah saja. Anda dan pasangan bisa melakukan aktivitas tersebut kapan saja, saat situasi dan kondisi memungkinkan. Rasanya di masa itu, tidak perlu ada pihak yang berinisiatif lebih dulu.

Namun setelah beberapa tahun menikah, kondisi di atas tidak lagi terjadi. Pola yang kemudian terjadi adalah, hanya salah satu pihak yang mengajak atau meminta bercinta. Sehingga membuat pihak yang satu berada dalam situasi harus menolak atau menerima ajakan tersebut. Di sinilah problema menjadi muncul. Ketika memberikan penolakan, tentunya Anda ingin pasangan tidak merasa kecewa. 

Kalimat seperti apa yang sebaiknya dikatakan ketika ingin menolak bercinta? Dr Klein menyarankan jangan langsung mengatakan tidak. Anda bisa menggunakan kalimat yang lebih menyenangkan seperti, 'aku sedikit lelah, bisakah kita menunggu sampai besok' atau 'aku ingin, tapi ada begitu banyak urusan pekerjaan di otakku, aku tidak akan benar-benar 100%, apakah kamu masih menginginkannya'. Kejujuran, ditekankan Dr Klein, sangat penting di sini.
5. Bicara Nakal
Beberapa pasangan percaya, pembicaraan nakal yang berhubungan dengan seks, justru bisa menghilangkan keromantisan momen tersebut. Oleh karena itulah mereka lebih memilih diam agar hubungan seks menjadi lebih menyenangkan.

Kalau hal di atas Anda alami, Dr Klein menyarankan, Anda dan pasangan tidak akan pernah belajar kalau memang tidak mau mencobanya. Meski memang awalnya sulit, Anda dan pasangan perlu lebih terbiasa untuk menggunakan kata-kata yang berhubungan dengan bagian tubuh, aktivitas erotis atau fantasi seks. Perbendaharaan kata soal seks perlu dimiliki untuk membantu pasangan mengeksplorasi Anda. Kalau Anda hanya mengatakan 'itu' ketika ingin bercinta misalnya, tentunya kurang menggairahkan ketimbang Anda memakai kata lainnya yang lebih intim.

6. Definisi Seksi
Seksi tak harus selalu memakai lingerie atau bahkan tampil tanpa busana. Menurut Dr Klein, Anda dan pasangan perlu menciptakan sendiri definisi seksi yang memang pas untuk kalian. 

Seksi bagi setia orang bisa berbeda-beda. Mendadak menemani pasangan mandi, memakaikan kaus kaki jika kakinya kedinginan atau mengingat bagaimana rambutnya jatuh di dahinya, itulah beberapa hal sederhana yang bisa saja Anda dan dia anggap seksi.

Jangan membatasi apa itu seksi atau apa itu seks yang menyenangkan. Melakukan pembatasan tersebut hanya akan menjadi halangan untuk membuat Anda dan suami mencapai kepuasaan saat bercinta.

7. Lupakan Ungkapan 'Puncak Seksualitas'
Peneliti Alfred Kinsey pernah mengatakan pria mencapai puncak seksualitasnya pada usia 18 tahun, sementara wanita 35 tahun. Di usia itu, pria dan wanita begitu memiliki gairah yang menggebu. Apa yang diteliti Kinsey itu tentunya bisa membuat Anda dan pasangan merasa puncak seksualitas sudah lewat ketika usia mulai mencapai kepala empat.

Ketika perasaan itu muncul, ini bisa jadi pembunuh gairah Anda dan pasangan. Padahal puncak seksualitas itu tak harus selalu menjadi kambing hitam.

Dr Klein menganalogikan seorang atlet yang mulai berolahraga sejak usia 14 tahun, ketika tubuh masih muda dan fit. Namun ketika itu si atlet belum banyak mendapat pelajaran soal olahraga atau kompetisi yang diikutinya. Namun ketika usianya mencapai 44 tahun, dia sudah menjadi profesional dan tidak lagi bertanding. Apakah itu juga membuatnya tak lagi menikmati olahraga yang dulu digelutinya? Tentu tidak. Bukan berarti juga si atlet tak bisa lagi berolahraga sepiawai dulu.

Sesuai analogi Dr Klein tersebut, bagi Anda yang tak lagi tertarik untuk bercinta, kecuali ketika punya stamina dan tenaga untuk melakukannya, Anda tentunya sudah termakan ungkapan 'puncak seksualitas'. Cara mengatasinta, cobalah berpikir seperti atlet, jadikan pengalaman dan keahlian di masa muda untuk membuat kehidupan seks menjadi tetap sama menyenangkannya seperti dulu.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar