Senin, 26 Maret 2012

“15 Kali Lebih Beracun dari Kobra"

Tomcat amat menyukai cahaya. Dari sawah pindah ke rumah.


Meski bentuknya kecil, konsentrasi racunnya 15 kali lebih tinggi daripada racun kobra (Flickr/ozwildlife)
  Serangan serangga Tomcat membuat gelisah warga. Awalnya, serangga mirip semut tapi berperut panjang dengan kombinasi warna merah, hitam dan oranye ini menyerang Surabaya. Sejumlah warga mendadak kulitnya gatal dan perih. Lalu melepuh.
Ahli hama dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Aunu Rauf, M.Sc pun ikut sibuk. Soalnya, dia rajin ditanya media massa perihal serangan masif serangga ini. “Tomcat tak mematikan, hanya cairan tubuhnya membuat kulit melepuh,” ujarnya kepada VIVAnews, Rabu 21 Maret 2012.
Lalu, mengapa Tomcat menyerang pemukiman manusia? Aunu, ahli entomologi pertanian yang meraih PhD di Universitas Wisconsin, Amerika Serikat pada 1983, menjelaskan ihwal serangga itu. Tomcat sebetulnya adalah sahabat para petani, karena dia predator bagi hama wereng. Berikut petikan obrolan dengan Aunu.
Di Surabaya, ada wabah serangan serangga yang disebut Tomcat. Mengapa disebut Tomcat?Tomcat yang menyerang di daerah Surabaya adalah  sejenis kumbang dengan nama ilmiah Paederus fuscipes, yang termasuk Ordo Orthoptera dan Famili Staphylinidae. Dalam bahasa Inggrisnya disebut “rove beetle” atau kumbang penjelajah atau pengelana, karena selalu aktif berjalan-jalan.

Masyarakat menyebutnya Tomcat, mungkin karena bentuknya sepintas seperti pesawat tempur Tomcat  F-14.  Tubuh kumbang ini ramping, dan pada saat berjalan bagian belakang tubuhnya melengkung ke atas. Kumbang berukuran panjang 7-10  mm dan lebar 0.5-1.0 mm. Kepalanya berwarna hitam, sayap berwarna biru kehitaman dan hanya menutupi bagian depan tubuh. Bagian toraks dan abdomen berwarna orange atau merah.  Warna orange atau merah ini diduga sebagai sinyal bagi musuh-musuhnya (misalnya laba-laba) bahwa kumbang  ini  beracun dan harus dihindari.

Dalam keluarga serangga, Tomcat ini dari jenis apa?
Tomcat adalah jenis Kumbang Paederus fuscipes berkembang biak di dalam tanah di tempat-tempat yang lembab, seperti di galengan sawah, tepi sungai, daerah berawa dan hutan. Telurnya diletakkan di dalam tanah, begitu pula larva dan pupanya hidup dalam tanah.  Setelah dewasa (menjadi kumbang) barulah serangga ini  keluar dari dalam tanah dan hidup pada tajuk tanaman .
Siklus hidup kumbang dari sejak telur diletakkan hingga menjadi kumbang dewasa sekitar 18 hari, dengan perincian stadium telur 4 hari, larva 9 hari, dan pupa 5 hari.  Kumbang dapat hidup hingga 3 bulan.  Seekor kumbang betina dapat meletakkan telur sebanyak 100 butir telur.

Dari mana asalnya?
Kumbang tomcat yang menyerang apartemen di Surabaya itu merupakan binatang berasal dari Indonesia sendiri, kemudian tersebar ke daerah Asia Tenggara, yakni Thailand, Malaysia, China dan Jepang. Sempat dilaporkan karena menyerang siswa di sana.

Kenapa Tomcat menyerang pemukiman penduduk?Sebenarnya binatang kumbang Tomcat ini salah satu penghuni asli, atau tinggal di persawahan, namun pada malam hari kumbang Paederus fuscipes ini aktif terbang dan tertarik pada cahaya lampu.  Inilah yang terjadi di  kompleks apartemen di Surabaya.  Ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan terjadinya ledakan (outbreak) kumbang Tomcat ini.
Pertama, terjadi peningkatan populasi kumbang Tomcat menjelang berakhirnya musim hujan (sebelumnya masih dalam stadia larva dan pupa).
Kedua, pada saat yang bersamaan tejadi kegiatan panen, sehingga kumbang Tomcat pada berterbangan dan bergerak menuju ke tempat datangnya sumber cahaya di pemukiman.
Ketiga, pemukiman dibangun di wilayah tempat perkembangbiakan kumbang Tomcat, misalnya di dekat persawahan atau di pinggiran dekat hutan yang lembab atau tempat berawa.  Pada kondisi ini kumbang pada malam hari akan berdatangan ke perumahan karena tertarik cahaya lampu.

Apakah Tomcat ini berbahaya?Sebenarnya kumbang ini tidak berbahaya, karena tidak menggigit atau menyengat.  Tapi kumbang Tomcat kalau terganggu, atau secara tidak sengaja terpijit, akan mengeluarkan cairan yang bila kena kulit akan menyebabkan gejala memerah dan melepuh seperti terbakar (dermatitis). Oleh karena itu gejala ini populer disebut Paederus dermatitis.
Gejala ini muncul akibat cairan tubuh kumbang tadi mengandung zat yang disebut pederin yang bersifat racun. Ada yang menyebutkan bahwa pederin ini 15 kali lebih beracun daripada bisa kobra. Belakangan ini diketahui bahwa produksi pederin dalam tubuh kumbang tergantung pada keberadaan bakteri Pseudomonas sp. yang bersimbiosis dalam tubuh kumbang betina. Pederin bersirkulasi dalam darah kumbang, sehingga dapat terbawa sampai ke keturunannya (telur, larva, pupa, dan kumbang).  Namun demikian, kumbang betina yang mengandung bakteri akan menghasilkan pederin lebih banyak dibandingkan kumbang yang dalam tubuhnya tidak ada bakteri simbion.

Kumbang Paederus fuscipes tergolong serangga predator yang makan pada serangga lain. Kumbang ini banyak dijumpai di sawah, dan merupakan musuh alami dari hama-hama padi. Pada siang hari kumbang Tomcat aktif berjalan cepat menyusuri  rumpun padi untuk mencari mangsanya yang berupa hama-hama padi, termasuk hama wereng cokelat.  Jadi sebetulnya kumbang tomcat ini atau Paederus fuscipes adalah serangga yang bermanfaat bagi petani karena membantu mengendalikan hama-hama padi.
Kumbang tomcat juga bisa ditemukan di pertanaman kedelai, jagung, kapas, tebu dan sejenisnya.

Jika ada wabah Tomcat, bagaimana mengatasinya? 
Ada sejumlah cara menghindari atau menangani gangguan kumbang Tomcat ini.
Pertama, karena kumbang ini tertarik cahaya lampu, mematikan lampu atau meredupkan lampu akan mengurangi berdatangannya kumbang ini ke rumah kita.
Kedua, pintu dan jendela perlu ditutup rapat-rapat agar kumbang Tomcat tidak masuk ke rumah.
Ketiga, hindari duduk atau ngobrol di bawah lampu yang di atasnya banyak didatangi kumbang Tomcat.
Keempat, kalau ada kumbang Tomcat menempel pada tubuh atau pada pakaian kita, jangan sekali-kali memegangnya atau membunuhnya. Usir kumbang tadi secara hati-hati  dengan cara meniupnya atau mengusirnya dengan potongan kertas.
Kelima, kalau secara tidak sengaja kumbang ini terpijit dan cairannya menempel pada kulit, segera bilas dengan air sabun beberapa kali.  Begitu pula bila cairan kumbang ini menempel pada baju atau seprei, agar segera dicuci.
Keenam, umumnya gejala muncul 24 jam setelah kulit terkena cairan tubuh kumbang. Bila gejalanya parah segera pergi ke dokter untuk berobat.

Bagaimana cara terbaik membasmi kumbang ini?
Hewan kumbang Tomcat ini sangat mudah membasminya, biar tidak mewabah kepada masyarakat lain, seperti di daerah Surabaya. Antara lain, mematikan lampu pada siang hari, karena hewan Tomcat ini lebih suka pada cahaya lampu. Selain itu, jendela agar ditutup rapat biar hewan Tomcat ini tidak masuk ke rumah. Jika Tomcat menempel di tubuh, sebaiknya jangan di pukul. Di tiup saja biar racun yang ada di tubuhnya itu tak masuk ke tubuh kita. Dan jangan sekali-kali di garuk, tapi harus dibersihkan pakai sabun.

Ada cara agar serangan serangga ini tak meluas?
Seperti yang sudah di jelaskan, hewan Tomcat yang tinggal di persawahan tidak menggigit dan menyengat. Tapi, kalau hewan ini merasa terganggu, maka dia akan mengeluarkan cairan mengandung racun. Untuk mencegah meluasnya serangga ini ya dengan cara jangan diganggu keberadaannnya. Apalagi, hewan ini sangat membantu petani. Tomcat termasuk predator yang memakan hama wereng.

Bagaimana mengembalikan hewan ini ke habitatnya?
Salah satu langkah mengembalikan hewan ini ke habitatnya, dengan cara mematikan lampu pada malam hari. Hewan ini sangat suka pada cahaya lampu. Dengan lampu dimatikan, maka Tomcat akan kembali ke habitat.

Selain di Surabaya, apakah pernah terjadi serangan serupa sebelumnya?

Meskipun kumbang ini berasal dari Indonesia, namun wabah kumbang Tomcat seperti di Surabaya, pernah pula dilaporkan terjadi di negara lain, seperti di Okinawa-Jepang (1966), Iran (2001), Sri Lanka (2002), Pulau Pinang- Malaysia (2004 dan 2007), India Selatan (2007), dan Iraq (2008).(np)
•sumber: VIVAnews 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar