Senin, 05 Desember 2011

MAHASISWI KEKASIHKU

Namaku D, aku dipaksa kawin demi
kelancaran bisnis orang tuaku. Istriku
dari keluarga kaya, menghabiskan uang
bapaknya terus, dan tidak pernah
menghargaiku. Setelah 3 tahun kawin
tanpa anak, aku pilih cerai dan pergi dari kota asalku B. Aku sebagai
insinyur arsitek kemudian bekerja di
kota J sebagai pemborong kecil-kecilan.
Aku juga bekerja sebagai asisten di
Universitas T. Dalam umur 31 tahun ini,
barulah aku merasakan hidup bebas, meskipun tidaklah kaya secara materi.
Saat itulah aku bertemu dengan M,
mahasiswi tahun ke-2, umur 21, anak
kost asal S. Tinggi badan 167 cm, dada &
pantat berisi. Kulit putih bersih tipikal orang Cina.
Mata sipit tapi cantik dengan bibir
merekah dan rambut sebahu. Meskipun
tertarik, aku tidak banyak harap, kami
berbeda suku, agama, dan tingkat
ekonomi. Situasi berubah ketika dia menyatakan berminat bekerja sebagai
desainer untuk proyek pribadiku.
Pikirku, anak orang kaya kok mau kerja,
tidak seperti ex-istriku. Harus kuakui,
dia punya bakat seni gambar desain
yang bagus. Aku langsung setuju. Aku cari proyek, aku dan dia menggabungkan
ide untuk gambar desain ruang. Kami
membicarakan proyek di kampus setelah
orang lain pulang. Sebagai laki-laki
yang lama tidak merasakan nafkah
batin, hal ini benar-benar menggodaku. Apalagi setelah itu kami sering bekerja
berdua di rumah kontrakanku. Aku juga
punya 2 pekerja lain, namun mereka
biasanya kerja di lapangan dan jarang
di rumah. Aku suka melihat belahan
dadanya yang putih ketika dia menggambar sambil membungkuk. Ingin
rasanya kuremas dan kuhisap puting
susunya. Aku sering berjalan di
belakangnya. Ingin kuremas pantatnya
yang lagi nungging dan kuselipkan
penisku di antaranya. Namun aku tidak ingin menyakiti perasaannya. Hari itu
dia sudah hampir pulang naik bis kota.
Aku terima telepon, aku mendapatkan
proyek besar. Ini berasal dari client
lama karena puas dengan kerja kami.
Aku bilang, ini karena jasamu, kita memang tim yang kompak. Apa kamu mau
jadi partner bisnisku seterusnya. Dia
cuma tersenyum. Kalau lebih dari itu,
tanyaku nekad. Dia diam saja. Aku terus
peluk tubuhnya dan kucium bibirnya
yang merekah. Dia tidak menolak. “Apa kamu tahu latar belakang hidupku ”, tanyaku. Dia jawab “Ya, S (pegawaiku yang lain) cerita banyak ”. “S memang banyak ngomong”, kataku. “Kamu terus bagaimana ”, lanjutku. Dia bilang, aku tidak peduli, aku suka orang yang kerja
keras. Keluargaku kaya tapi pada
manja, itu sebabnya aku kuliah di luar
kota. Ternyata kami berdua memang
benar-benar cocok “Apa kamu pernah pacaran ”, tanyaku. “Belum”, jawabnya. “Mau saya ajari ”, tantangku. Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung
hisap bibirnya dan kugelitik lidahnya.
Aku terus remas pantatnya, nikmat dan
padat. Kurapatkan dadaku ke dadanya
yang kenyal. Juga kuganjalkan penisku
yang sudah tegang ke selangkangannya. Dia jadi gelagapan dan bingung.
Tangannya meremas-remas dari
rambutku sampai punggung dan
pantatku. “Mau terus ”, tanyaku. Dia bilang, “Jangan …” Aku terus mundur, karena aku menghormatinya. Pada suatu
hari, aku tidak mampu menahan nafsuku
lagi. Waktu itu malam minggu jam 8-an.
Kami membicarakan desain gambar di
rumahku. Entah bagaimana kita jadi
berciuman sambil berdiri dan saling meremas. Dia pakai rok terusan.
Tanganku merogoh ke balik roknya. Dia
menolak kaget, ini pertama kali aku
menjamah tubuhnya secara langsung.
Aku sudah nekad, dengan pengalamanku
yang segudang aku taklukkan dia. Kedua tanganku merogohi dan meremasi
pahanya sampai ke atas, perut, dan
dada. Kuangkat roknya tinggi-tinggi.
Badannya benar-benar putih dan mulus.
Aku belum pernah melihat pemandangan
seperti ini. Aku berlutut menciumi paha dan perutnya. Dia benar-benar tidak
berdaya. Kulepas zipper di
punggungnya, dengan sekali angkat,
lepas rok itu dari tubuhnya. Kulepas
BH-nya, kujilati susunya yang montok
putih. Kuhisap puting susunya yang masih perawan, warnanya coklat muda.
Tanganku meremas susu satunya dan
menggerayangi tubuhnya yang halus.
Kutarik CD-nya sampai ke bawah kaki.
Dia kaget dan bilang jangan. Namun
sebelum sempat mengelak, aku cepat- cepat berlutut. Kujilati vaginanya dan
kugelitik clitorisnya. Rambut
vaginanya halus, vaginanya merah muda
dan harum baunya. Kujejal-jejalkan
dan kukorek-korek lidahku di dalam
vaginanya. Cairannya banyak, aku lahap semua. Sementara itu tanganku
meremas-remas pantatnya yang putih
padat. Dengan sekali angkat dia sudah
berada di atas meja gambarku. Kedua
pahanya mengangkang, sementara
tubuhku berdiri di antaranya. Cepat- cepat kubuka baju, celana, dan CD-ku.
Kita sekarang sama-sama telanjang.
Kakinya terus kuatur melingkar di
pinggangku. penisku aku arahkan ke
vaginanya. Dia tak mampu menolak lagi.
Dengan mata was-was, dia memandang penisku yang mendekati vaginanya. Aku
masukkan kepalanya dulu dan kuayun
pelan-pelan. Dia merinding dan tambah
ngos-ngosan. Kusodokkan lebih dalam
lagi, dan kurasakan selaput daranya
robek. Dia menjerit sambil mempererat pegangan tangan dan kakinya. Aku
berhenti dulu untuk memberi dia
kesempata bernapas. Kemudian kuayun
pelan-pelan sambil terus kumasukkan
penisku sampai mentok. Dia melihat
selangkangannya dengan takjub, baru menyadari kalau penisku sudah
terbenam di perutnya. Selangkanganku
yang hitam menempel erat dengan
miliknya yang putih. Kuayunkan
penisku pelan-pelan. Matanya yang
sipit tambah sipit karena merem keenakkan. Aku ayun penisku lebih
cepat, mulutku menghisap susu dan
bibirnya bergantian, tanganku meremas
erat pinggul dan pantatnya.
Dihadapanku adalah tubuh putih mulus
menggeliat-geliat menahan desakan tubuhku yang hitam. Inilah impianku
sejak dulu. Mungkin karena sudah lama
tidak berhubungan, aku merasakan
akan keluar. Aku tahan dengan cara
rileks, aku tunggu dia sampai puncak.
Beberapa saat kemudian aku melihat wajahnya berubah menahan ngilu yang
amat besar. “Aduh, aduh ”, katanya. Aku percepat ayunan penisku sampai meja
gambarku berderit-derit. Kemudian aku
merasakan lahar panas keluar di dalam
liang vaginanya, tepat di mulut
rahimnya. Dia menjerit sambil mencakar
pundakku. Badanku kejang, “aduh M ”, kataku, aku keluar. Kurasakan juga
cairan hangat dari dalam vaginanya
membasahi penisku dan selangkangan
kami berdua. Nikmat sekali, jauh lebih
nikmat daripada ex-istriku dulu yang
berkulit hitam sepertiku. Setelah itu kami berpelukan lama di atas meja
gambar. Dia nangis. “Apa kamu marah ”, tanyaku. “Tidak”, katanya. Pandangan kami berdua tertumpu pada banyak
cairan bercampur darah di atas meja
gambarku. “Sexnya orang arsitek ”, kataku. Kami berdua terus ketawa
bersama sambil berpelukan. Hari-hari
selanjutnya kami isi dengan acara seks
yang lebih panas. Aku ajarkan dia cara
KB. Aku ajari dia beberapa posisi baru.
Kami melakukannya di atas kasur tidur, sofa, dan di kamar mandi. Meja gambar
sudah tidak pernah kami pakai lagi,
kecuali untuk menggambar tentunya. Oh,
ya aku juga mengajarinya felatio. Aku
suka lihat bibirnya yang merekah dan
pipinya yang putih menghisap penis hitamku. Dua tahun yang lalu dia lulus,
dan kami terus menikah. orang tua kami
tidak setuju, tapi kami tidak peduli.
Dalam hal agama, dia setuju mengalah.
Dalam masa krismon ini, kami jarang
sekali mendapatkan proyek. Tapi kami tidak takut, karena kami sudah biasa
hidup sederhana dan kerja keras. Lagi
pula, kami sudah punya banyak
tabungan. Suatu hari nanti kondisi
pasti membaik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar