Kamis, 08 Desember 2011

Teller Bank

Rida adalah seorang gadis 20
tahunan yang bekerja di sebuah
bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal
di rumah kos bersama seorang
rekan wanitanya, Ita, yang juga
bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang
berbeda. Ia memiliki tubuh yang
kencang. Wajahnya cukup manis
dengan bibir yang penuh, yang
selalu dipoles dengan lipstik
warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank
penampilannya harus selalu
dijaga. Ia selalu tampil manis dan
harum. Suatu hari di sore hari Rida
terkejut melihat kantornya telah
gelap. Berarti pintu telah dikunci
oleh Pak Warto dan Diman, satpam
mereka. Dia tadi pergi ke WC
terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia
sudah pulang. Baru saja ia akan
menggedor pintu, biasanya para
satpam duduk di pintu luar. Ada
kabar para satpam di kantor bank
tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan,
Rida merasa kasihan tapi tak bisa
berbuat apa-apa. Seingatnya ada
kurang lebih 6 orang satpam
disana. Berarti banyak juga
korban PHK kali ini. “Mau kemana Rida ?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari
kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan
Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu.. ”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata. “Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab. Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang- kenangan saja Mbak ”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab
sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan.. ”, Rida menjawab. Tiba-tiba ia merasa gugup dan
cemas. Warto mencekal lengan Rida.
Sebelum Rida tersadar, kedua
tangannya telah dicekal ke
belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak !”. Diman menarik blus warna ungu
milik Rida. Gadis itu terkejut dan
tersentak ketika kancing blusnya
berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur
hidup!”. Warto menyeringai melihat Diman
merobek kaos dalam katun Rida
yang berwarna putih berenda.
Rida berusaha meronta. Namun tak
berdaya, dadanya yang kencang
yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangann! Lepaskann !”, Rida berusaha meronta. Hujan turun dengan derasnya.
Diman sekarang berusaha
menurunkan celana panjang ungu
Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak
lama memperhatikan Rida. Gadis
yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam
mereka sering mengintipnya ketika
ke kamar mandi. Saat ini mereka
sudah tak tahan lagi. Rida
menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini.. ”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller.
Dengan sekali kibas semua
peralatan di meja itu
berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangann !”, Rida mulai menangis ketika ia
ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus
dicekal Warto, Diman sekarang
lebih leluasa menurunkan celana
panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas. Diperlakukan seperti itu, Rida
juga mulai merasa terangsang. Ia
dapat merasakan angin dingin
menerpa kulit pahanya.
Menunjukkan celananya telah
terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua
penyiksanya. Dengan mudah mereka
menanggalkan blus dan celana
panjang ungu Rida. Rida
mengenakan setelan pakaian
dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah
pemerkosaan itu. Pantat Rida yang
kencang mulai ditepuk oleh Warto
bertubi-tubi, “Plak! Plak !”. Tubuh Rida memang kencang
menggairahkan. Payudaranya
besar dan kencang. Seluruh
tubuhnya pejal kenyal. Dalam
keadaan menungging di meja
seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak
rambut Rida sehingga dapat
melihat wajahnya. Bibirnya yang
penuh berlipstik merah menyala
membentuk huruf O. Matanya basah,
air mata mengalir di pipinya. “Sret!”, Rida tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik
robek.
Menyusul branya ditarik dengan
kasar. Rida benar-benar merasa
terhina. Ia dibiarkan hanya
dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya.
Sementara penis Warto yang besar
dan keras mulai melesak di
vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh.. !”, Rida merintih. Seperti anjing, Warto mulai
menyodok nyodok Rida dari
belakang. Sementara tangannya
meremas-remas dadanya yang
kencang. Rida hanya mampu
menangis tak berdaya. Tiba-tiba Diman mengangkat
wajahnya, kemudian menyodorkan
penisnya yang keras panjang.
Memaksa Rida membuka mulutnya.
Rida memegang pinggiran meja
menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman
memperkosa mulutnya. Meja itu
berderit derit mengikuti
sentakan-sentakan tubuh mereka.
Warto mendesak dari belakang,
Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka
lebar-lebar menampung kemaluan
Diman yang terus keluar masuk di
mulutnya. Tiba-tiba Warto
mencabut kemaluannya dan
menarik Rida. “Ampuunn.., hentikan Pak.. ”, Rida menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa tamu.
Kemudian dengan dibantu Diman,
Rida dinaikkan ke pangkuannya,
berhadapan dengan pahanya yang
terbuka. “Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Rida yang sudah
basah.
Rida menggelinjang ngilu,
melenguh dan merintih. Warto
kembali memeluk Rida sambil
memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk
vagina gadis itu. Rida masih
tersengal-sengal melayani
serangan mulut Warto ketika
dirasakannya sesuatu yang keras
dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman
mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmm..! Nghh! Jahannaamm.. !”, Rida berusaha meronta, tapi tak
berdaya. Warto terus melumat mulutnya.
Sementara Diman memperkosa
anusnya. Rida lemas tak berdaya
sementara kedua lubang di
tubuhnya disodok bergantian.
Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang
basah oleh peluh semakin membuat
dirinya tampak erotis dan
merangsang. Juga rintihannya.
Tiba-tiba gerakan kedua
pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti.
Rida ditelentangkan dengan
tergesa kemudian Warto
menyodokkan kemaluannya ke
mulut gadis itu. Rida gelagapan
ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida
dipegang erat dan..
“Crrt! Crrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya,
bertubi-tubi.
Rida merasa akan muntah. Tapi
Warto terus menekan hidung Rida
hingga ia terpaksa menelan cairan
kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Rida
hingga bersih. Rida tersengal
sengal berusaha menelan semua
cairan lengket yang masih tersisa
di langit-langit mulutnya. Mendadak Diman ikut memasukkan
batang kemaluannya ke mulut
Rida. Kembali mulut gadis itu
diperkosa. Rida terlalu lemah
untuk berontak. Ia pasrah hingga
kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke
tenggorokannya. Rida menangis
sesenggukan. Diman memakai celana
dalam Rida untuk membersihkan
sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk.. ”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam
lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian !”, Rida terkejut melihat ke-3 satpam
bertubuh kekar itu.
Ia akan diperkosa bergiliran
semalaman. Celakanya, ia sudah
pamit dengan teman sekamarnya
Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya
hingga tentu tak akan ada yang
mencarinya. Rida ditarik ke tengah lobby bank
itu. Dikelilingi 6 orang lelaki
kekar yang sudah membuka
pakaiannya masing-masing hingga
Rida dapat melihat batang
kemaluan mereka yang telah mengeras.
“Ayo Rida, kulum punyaku !”, Rida yang hanya mengenakan stocking
itu dipaksa mengoral mereka
bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam
keadaan seperti merangkak. Dan
sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh.., mmhh.., mhh..”, Rida menangis tak berdaya.
Sementara mulutnya dijejali
batang kemaluan, anusnya
disodok-sodok dengan kasar.
Pinggulnya yang kencang
dicengkeram. “Akkghh! Isep teruss..!, Ayoo”. Satpam yang tengah menyetubuhi
mulutnya mengerang ketika cairan
spermanya muncrat mengisi mulut
Rida. Gadis itu gelagapan
menelannya hingga habis.
Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain
langsung menyodokkan batang
kemaluannya menggantikan
rekannya. Rida dipaksa menelan
sperma semua satpam itu
bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua
lubang di tubuh Rida bergiliran. Tubuh Rida yang sintal itu basah
berbanjir peluh dan sperma.
Stockingnya telah penuh noda-
noda sperma kering. Akhirnya Rida
ditelentangkan di sofa, kemudian
para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di
wajahnya, sesekali mereka
memasukkannya ke mulut Rida dan
mengocoknya disana, hingga secara
bergiliran sperma mereka muncrat
di seluruh wajah Rida. Ketika telah selesai Rida
telentang dan tersengal-sengal
lemas. Tubuh dan wajahnya
belepotan cairan sperma, keringat
dan air matanya sendiri. Rida
pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.
“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas.. ”. Akhirnya muncul ide mereka yang
lain. Tubuh telanjang Rida diikat erat.
Kemudian mereka membawanya ke
belakang kantornya. Bagian
belakang bank itu memang masih
sepi dan banyak semak belukar.
Rida yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di
sebuah pondok tua tempat para
pemuda berkumpul saat malam.
Hujan telah berhenti tetapi udara
masih begitu dinginnya. Mulut
Rida disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin
larut baru Rida tersadar. Ia
tersentak menyadari tubuhnya
masih dalam keadaan telanjang
bulat dan terikat tak berdaya. Ia
benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih
terpasang. Tiba-tiba saja terdengar suara
beberapa laki-laki. Dan mereka
terkejut ketika masuk.
“Wah! Ada hadiah nih !”, aroma alkohol kental keluar dari mulut
mereka.
Rida berusaha meronta ketika
mereka mulai menggerayangi tubuh
sintal telanjangnya. Tapi ia tak
berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu
listrik yang remang-remang. Tubuh
Rida mulai dijadikan bulan-
bulanan. Rida hanya bisa menangis
pasrah dan merintih tertahan. Ia ditunggingkan di atas lantai
bambu kemudian para lelaki itu
bergiliran memperkosanya. Semua
lubang di tubuhnya secara
bergiliran dan bersamaan
disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Rida bermandi
sperma. Mereka menyemprotkannya
di punggung, di pantat, dada dan
wajahnya. Setiap kali akan
pingsan, seseorang akan menampar
wajahnya hingga ia kembali tersadar.
“Ini kan teller di bank depan ?” Mereka tertawa-tawa sambil terus
memperkosa Rida dengan berbagai
posisi. Rida yang masih terikat
dan terbungkam hanya dapat
pasrah menuruti perlakuan
mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari
lubang pantat dan vaginanya
yang telah memerah akibat
dipaksa menerima begitu banyak
batang penis. Ketika seseorang
sedang sibuk menyodominya, Rida tak tahan lagi dan akhirnya
pingsan. Entah sudah berapa kali
para pemabuk itu menyemprotkan
sperma mereka ke seluruh tubuh
Rida sebelum akhirnya
meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar