Minggu, 04 Desember 2011

Seseorang Akan Datang Ke Kota

By Andreas

Oleh: Dr. Marcellino D’Ambrosio
Catholic Online ResourcesAdven adalah sebuah masa penantian sukacita. Karena seseorang yang bahkan lebih besar daripada  Santa Claus akan datang ke kota.
Umat manusia telah menunggu sejak lama untuk kunjungan berikutnya dan terakhir. Sesungguhnya, manusia menunggu waktu yang lama untuk kunjungan yang pertama. Berbagai hal telah terjadi kekeliruan pada awal sejarah umat manusia. Kita pergi dari Firdaus ke penderitaan dalam sekejap mata, tetapi menemukan disana tidak ada lagi jalan kembali kedalam taman. Hanya Allah yang bisa merubah semuanya, tetapi Ia sangat lama datangnya. Harus ada beberapa dasar untuk diletakkan pertama kali – persiapan yang setahap demi setahap dari umat manusia untuk siap demi sejarah pertemuan dengan Juruselamat-nya. Ada beberapa ide tentang Allah dan rencana-Nya yang harus diperoleh seluruh orang. Musa dipercaya dengan pembagian terbesar dari pekerjaan itu. Tapi selain doktrin ini, persiapan intelektual, harus ada persiapan spiritual dan moral juga. Memanggil umat Allah untuk bertobat dan kekudusan adalah keahlian khusus para nabi, dan mengingat besarnya pekerjaan mereka, ada banyak dari mereka.
Jendral George Patton mengatakan kepada tentaranya “setiap orang muda memerlukan tepukan dipunggung yang baik dari waktu ke waktu- kadang tinggi dan kadang rendah.” Israel masih muda dan Allah berbicara kepada mereka, keduanya perkataan keras dan menghibur melalui para nabi. Yesaya 40, contohnya, dimulai dengan kesenangan. Dinyatakan bahwa tahanan sudah terakhir, bahwa Allah datang untuk menyelamatkan, datang dengan kekuatan seperti gembala untuk memberi makan domba-domba-Nya.
Namun ini berlanjut dengan perkataan bahwa jalan di padang pasir harus di persiapkan untuk kedatangan-Nya. Lembah harus diisi. Pegunungan harus diratakan. Jalan yang bengkok diluruskan. Ini adalah usaha besar, untuk mengatakan kebenaran.
Sebenarnya, akan lebih mudah jika semua yang harus kita lakukan, secara  literal mengebom beberapa gunung. Tapi yang terakhir dan yang paling besar dari antara para nabi, Yohanes Pembabtis, membantu kita untuk mengerti arti yang sebenarnya dari perkataan-perkataan Yesaya. Persiapan perlu dilakukan didalam kita, bukan di pasir atau kerikil.
Untuk Mesias, gembala yang baik akan datang, jalan harus diratakan dan diluruskan. Ketinggian yang menghalangi datangnya adalah gunung-gunung kesombongan. Dosa kesombongan memuji-muji dirinya sendiri lebih tinggi daripada Allah, mendirikan rintangan melawan Dia. Hal ini menunjukkan sifat tahu segala-galanya dan kecukupan untuk puas pada diri sendiri. Menara babel adalah contoh yang tepat dari kesombongan yang sia-sia. Tapi bagaimana tentang lembah yang harus diisi? Filsuf dan teolog mendefinisikan kejahatan adalah tiadanya kebaikan, kurangnya sesuatu yang seharusnya ada disana. Kurangnya iman adalah dosa. Kurangnya berdoa adalah dosa. Kurangnya amal adalah dosa. Ini semua adalah dosa-dosa kelalaian, dan lubang yang menganga ini perlu untuk diisi untuk membuat jalan bagi Allah kita.
Didalam trilogi luar angkasa yang luar biasa, C. S Lewis menyebut Setan “si pembengkok”. Karena kodrat dari pendusta adalah untuk menggunakan berkat luar biasa dari Allah dan membengkokkan mereka, mengarahkan ke jurusan yang salah, membuat mereka menjadi kutukan. Dengan sedikit membengkokkan, kelimpahan menjadi keserakahan, cinta yang berhubungan dengan perkawinan menjadi nafsu, dan kesalehan menjadi pembenaran diri yang munafik. Di dalam Adven, jalan-jalan yang bengkok ini harus diluruskan.
Nabi yang terakhir, Yohanes Pembabtis, menghidupi pesannya. Gunung kesombongan telah diratakan didalam dirinya, jalanan dibersihkan. Ia menunjukkan bukan ke dirinya, tapi kepada Dia yang bahkan membuka tali kasutnya pun, kata Yohanes Pembaptis, ia tidak layak. Ia sangat bersemangat sama seperti orang lain tentang kedatangan-Nya. Karena Yohanes tahu apa yang Ia bawa. “Saya membaptis kamu dengan air; Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.” Sang Mesias datang untuk sepenuhnya membenamkan diri kita kedalam kekuatan dan hikmat Allah untuk membuat kita menjadi orang baru, mampu untuk menjadi seperti Allah, mampu untuk melakukan hal yang baru dan besar. Tanpa keraguan lagi, hal ini layak untuk dipersiapkan.
Refleksi atas bacaan Minggu ke 2 Masa Adven, Tahun B/II (Yes 40:1-5,9-11, Mzm 85:9ab-10,11-12,13-14, 2Ptr 3:8-14, Mrk 1:1-8)
 sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar