Minggu, 18 Desember 2011

Ini Fakta Baru Video "Pembantaian Mesuji"



KOMPAS/LUCKY PRANSISKAKeluarga korban kekerasan dan perwakilan warga Kabupaten Mesuji, Lampung, Kamis (16/12/2011), mengadu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jakarta.

 Fakta baru terungkap, salah satu adegan sadis pemenggalan kepala warga yang ditampilkan dalam video "Pembantaian Mesuji" ternyata juga diambil dari konflik di Thailand selatan. Hal itu dilansir kantor berita CBSNews yang ditulis 16 Desember 2011.
Benar atau tidak benar akan jadi bagian yang akan diverifikasi. Kami belum sampai pada kesimpulan.
-- Denny Indrayana

Menanggapi hal tersebut, Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta Kasus Mesuji Denny Indrayana menyatakan, timnya akan menelusuri kebenaran video tersebut. Dia mengatakan, tim bentukan pemerintah tersebut tak bisa langsung menyimpulkan kebenaran sejumlah gambar dalam video itu.
"Benar atau tidak benar akan jadi bagian yang akan diverifikasi. Kami belum sampai pada kesimpulan karena kami memang sama-sama membaca katanya ada beberapa bagian yang diambil dari video di Thailand. Kami akan lihat. Saya tidak bisa mengatakan itu benar atau salah. Akan kami verifikasi," ujar Denny saat akan menghadiri pertemuan TGPF di Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta, Sabtu (17/12/2011).
Seperti diberitakan, di dalam berita yang menganalisis isi video pembantaian Mesuji yang tersebar luas di dunia maya ini terungkap bahwa salah satu adegan video ini diambil di Thailand selatan. Para pelaku pembantaian yang terlihat memakai celana loreng, bersenjata laras panjang, dan mengenakan penutup muka ini ternyata adalah para anggota separatis Pattani yang terkenal terlibat konflik SARA di negeri itu.
Dalam adegan video yang digabungkan pula dengan pembunuhan sadis di Sodong, Ogan Komering Ilir, ini, CBS meyakini bahwa itu terjadi di Thailand berdasarkan bahasa dan dialek yang digunakan, yaitu Melayu Pattani. Dalam video itu, para pelaku sengaja menunjukkan aksi membunuh sambil meneriakkan "Islamiyah Fathoni Darussalam", lalu muncul kata-kata "Merdeka". Sejauh ini belum ada konfirmasi dari pihak terkait di Indonesia mengenai hal ini.
sumber:kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar