Senin, 12 Desember 2011

RS di Indonesia Sudah Bisa Operasi Otak Tanpa Pakai Pisau


img
(dok: detikHealth)
 Bila dulu operasi otak harus dilakukan dengan membuka tulang tengkorak, maka kini pasien tak perlu takut lagi karena rumah sakit di Indonesia sudah mampu melakukan operasi tanpa menggunakan pisau.

Diperkirakan pada awal tahun 2012, Siloam Hospital Lippo Village Tangerang sudah bisa melakukan pengobatan tumor dan kelainan di otak tanpa harus membuka tulang tengkorak. Pasien bahkan tak memerlukan masa perawatan yang lama, karena operasi otak dilakukan dengan teknologi radiasi sinar gamma (Gamma Knife).

Gamma Knife adalah suatu metode terapi sinar gamma (radiosurgery) yang digunakan untuk pengobatan tumor dan kelainan-kelainan lainnya di otak tanpa membuka tulang tengkorak. Radiasi sinar gamma ini digunakan untuk menghancurkan sel-sel yang sakit sementara menjaga sel-sel lainnya yang masih sehat.

"Zaman dulu operasi selalu dibuka, pakai mikroskop dan endoskopi, sekarang operasi bisa dilakukan tanpa pisau, pakai laser atau sinar gamma," jelas Prof Dr dr Eka J. Wahjoepramono, SpBS, Dekan FK Universitas Pelita Harapan dalam acara temu media di kampus UPH, Tangerang, Sabtu (10/12/2011).

Menurut Prof Eka, dalam operasi otak dengan menggunakan sinar gamma, dipancarkan sebanyak 200 sinar radiasi yang difokuskan ke tumor atau target lainnya. Setiap pancaran sinar mempunyai dampak kecil terhadap sel otak yang dilaluinya, namun memiliki dosis radiasi yang cukup besar pada lokasi target dimana semua pancaran-pancaran sinar bertemu.

Keakuratan operasi sinar gamma hampir tidak menyebabkan kerusakan pada sel-sel yang berada di sekitar target penyinaran, dan dalam beberapa kasus hanya menyebabkan sedikit efek samping dibandingkan dengan perawatan radiasi biasa. Meski menggunakan radiasi, operasi ini juga tidak menyebabkan kerontokan rambut.

"Operasi itu yang mahal adalah biaya perawatan ICU setelah operasi. Kalau biaya operasi bisa dipatok 50 atau 75 juta, tapi kalau ICU nggak bisa diperkirakan, bisa 1 hari atau 1 bulan, ongkosnya bisa sampai 15 juta per hari. Sedangkan pakai sinar gamma, pasien nggak perlu perawatan. Minggu malam masuk rumah sakit, Senin pagi operasi, Senin sore sudah bisa pulang. Jadi ongkosnya hampir sama tapi pasien lebih nyaman tanpa harus masuk ICU," lanjut Prof Eka, yang juga Kepala Neurosurgery Center Siloam Hospital.

Prof Eka menuturkan, Gamma Knife yang akan hadir di Siloam Hospital merupakan peralatan radiasi sinar gamma dengan versi terbaru dan tercanggih, yaitu Leksell Gamma Knife Perfexion yang dikembangkan di Swedia. Peralatan versi terbaru ini bahkan merupakan alat pertama yang ada di Asia Tenggara.

Alat ini bisa menangani hingga 25 persen kasus yang ada di otak, antara lain:

  1. Tumor jinak dan ganas (kanker)
  2. Kelainan pembuluh darah
  3. Epilepsi
  4. Penyakit Parkinson
  5. Kelainan gerakan fungsional saraf

"Semua orang bisa, anak juga bisa. Bahkan tanpa dibius, tapi kalau anak kecil biar nggak gerak-gerak perlu dibius," lanjut Prof Eka.

Pasien yang ingin melakukan operasi radiasi sinar gamma bakal dikenai biaya US $ 10-12 ribu. Bila dibandingkan dengan negara lain, sinar gamma dengan versi lebih rendah di Singapura dikenai biaya 1 paket US $ 15 ribu, Amerika US $ 20-25 ribu, Hongkong US $ 30 ribu.

"Itu belum biaya transportasi, akomodasi dan makan, belum lagi buat keluarga. Jadi ngapain jauh-jauh ke luar negeri, Indonesia sudah bisa. Ini model terbaru, tercanggih, lebih efisien, lebih efektif, lebih cost efective," jekas Dr Lutfi Hendriansyah, MD, ahli bedah saraf Siloam Hospital.

Menurut Dr Lutfi, saat ini tim dokter dan staf sudah disiapkan untuk dapat mengoperasikan alat canggih yang diperkirakan akan di Siloam Hospital awal tahun 2012.

"Saat ini sudah ada beberapa pasien yang sudah waiting list," ujar Dr Lutfi.

Sayangnya, karena masih baru dan cukup mahal, alat ini belum bisa ditanggung oleh asuransi.

"Harapan kami, nantinya ini bisa menjadi salah satu pengobatan yang bisa dicovered asuransi, seperti halnya hemodialisis yang dulu juga belum dicover," tutup Dr Lutfi.

(mer/ir
sumber:detikHealth

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar