Selasa, 24 April 2012

ADAT BATAK MARBONGOT JABU

pusukbuhit - Dalam Kehidupan sosial masyarakat Batak Toba, pesta Marbongot jabu merupakan proses adat. Hajatan ini di hadiri keluarga dan handai tolan dari pihak suami maupun isteri. Disamping dongan tubu, tentu saja yang sangat diharapkan kehadiran parrajaon (tulang,bona tulang, bona niari,hula-hula dan tulang rorobot) yang berperan dalam peresmian, serta pargellengon  ( boru, bere/ibebere) yang akan bekerja melayani para tamu. Namun, permasalahan sering timbul dalam proses adat ini. Mungkin ini terjadi disebabkan ketidak mengertian kita atau keragu-raguan terhadap letak tudu-tudu ni sipanganon kepada siapa.
Pihak hula-hula dominan mengklaim dirinya yang layak na niambangan pada acara marbongot jabu. Itu dapat diterima, mengingat ibotona adalah tuan rumah yang sudah pasti turut berperan menentukan keberhasilan itu. Kemudian pihak tulang memprotes dan bersikukuh bahwa itu adalah haknya. Di sinilah kadang-kadang terjadi perbedaan yang tidak dapat dituntaskan. Apabila tidak ada persesuaian akan timbul kemelut dan mungkin bias berkepanjangan.
Suhut sebagai tuan rumah selayaknya mengerti dan bisa menjelaskan mana yang paling berkompeten dalam menghadapi tudu-tudu ni sipanganon. Pada dasarnya tulangatau hula-hula saling mempunyai hak. Tergantung pada daerah atau kebiasaan. Bukan berarti dapat seketika menyimpulkan yang lebih dominan pada saat prosesi. Kita harus mampu menarik benang-benang merah agar kedua belah pihak mklum, artinya, adat itu tidak terjadi begitu saja. Ada logika yang sifatnya kronologis.
Untuk menentukan siapa naniambangan ( layak menerima) kita harus kembali lagi ke masa lalu dimana proses adat manopot tulang ( permisi ke tulang) dilakukan suami tuan rumah ketika masih bujangan/belum berumah tangga. Sebenarnya proses adat itu dimulai dari ketika kita masih dalam kandungan. Sebelum lahir sampai dengan setelah meninggal. Seandainya kita belum dapat melaksanakan, orang tualah yang akan melakukan kewajiban adat anaknya. Namun, bila kita sudah  tidak mampu ( meninggal), si anak atau keturunan kita yang akan mewujudkannya. Bahkan saudara sepupu pun boleh merealisasikan. Proses inilah yang akan menentukan siapa yang lebih dominan.
Kebiasaan Batak Toba, bila  anak laki-laki terutama putra sulung akan merantau atau hendak menikah, lazimnya datang ke rumah  tulang meminta doa restu.  Orang tua beserta keluarga yang turut serta berkunjung akan membawa buah tangan berupa tudu-tudu ni sipanganon yang akan disajikan kepada tulang sesuai tradisi. Tulang merespons dengan menyediakan dekke na mokmok, berupa ikan batak atau ikan mas kehadapan bere dan keluarga. Kemudian memberikan doa restu. Namun prosesinya bisa berbeda. Ingat, lain lubuk lain ikannya, lain wilayah tentu lain kebiasaannya.
Kitq dapat melihat ada 2 macam prosesi :
1. Manopot tulang
Kedatangan bere adalah kebahagiaan yang membawa keberuntungan bagi tulang dari segi adat. Biasanya acara manopot tulang dilakukan pada saat selesai panen. Rencana serta persiapan yang matang telah dil;akukan jauh sebelumnya mengingat kondisi ekonomi masyarakat saat itu kurang mendukung. Dibutuhkan waktu yang agak lama untuk menghimpun dana yang relative tidak sedikit. Tujuannya hanya memuaskan serta menyenangkan tulang beserta keluarga. Dapat diketahui, kondisi demikian sering dilakukan orang yang hendak merantau atau rencana menikahi gadis yang bukan pariban. Oleh-oleh tudu-tudu ni sipanganon tadi disertai dengan uang batu ni demban menurut nilai nominalnya harus angka genap., seperti contoh, 4 lembar uang pecahan seratus ribuan. Setelah keduanya diterima melalui proses, akan dilanjutkan dengan makan bersama. Selesai acara, bere atau keluarga juga membagikan uang sebagai pa situak na tonggi kepada keluarga dan tetangga yang diundang hadir satu persatu pada saat itu.
2. Parmisi tu tulang
Di sisi lain, kehadiran bere membawa keprihatinan pada tulang beserta keluarga. Walau pengaruh ekonomi tidak menghambat kewajiban adat, ikatan bathin akan mempengaruhi hati nurani. Kemiskinan yang dialami bere dapat mengugah perasaan tulang. Ini menjadi kebiasaan yang dapat kita jumpai di wilayah yang kondisi sumber daya alam (SDA) daerahnya sangat minim. i Keperluan modal merantau atau kebutuhan dana perkawinan yang sangat terbatas mengharuskan seluruh keluarga saling mendukung. Tidak terkecuali tulang, maka istilah yang mengatakan amak do rere, anak do bere, bukan sekedar isapan jempol.
Seperti biasa, kedatangan bere minta doa restu pada tulang membawa tudu-tudu ni sipanganon. Setelah selesai makan bersama, uang batu ni demban yang telah diterima tulang tadi akan dikembalikan kepada berenya setelah ditambah sang isteri (nantulang) sebagai uang bantuan pada bere. Biasanya tulang berkata: “ Bere, inilah bona ni unjutmu, biarpun sedikit, bersykurlah pada Tuhan,” ( bila rencana nikah), atau, “bere, inilah mula ni modal, biar sedikit, manfaatkanlah dengan baik. Ingat selalu pada Tuhan dan jangan lupa akan tulang (bila hendak merantau). Begitulah pengorbanan tulang merestui berenya. Kesulitan bere adalah kesulitan tulang dan keberhasilan  bere adalah merupakan keberhasilan tulang.
3.Penutup,
Dalam uraian di atas, maka kita dapat menentukan siapa na niambangan pada saat marbongot jabu. Apabila kondisinya seperti butir satu, maka hula-hula yang lebih dominan, sebab tulang telah menerima adat dari berenya. Namun, bila keadaanya mengenai butir  dua, mutlak menjadi hak tulang. Disamping belum menerima batu ni demban dan pasituak na tonggi, keberhasilan bere adalah bagian dari modal yang diberikan tulang. Di saat beginila tulang menikmat hasil jerih payahnya.( Lamsaut Panggabean)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar