Rabu, 25 April 2012

PENYESALAN YANG BENAR

Bacaan : Matius 27:1-10


        Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat bahwa Yesus
     telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia ... lalu pergi dari
     situ dan menggantung diri. (Matius 27:3,5)

Setahun: Mazmur 73, 77-78

 Pernahkah Anda merasa bersalah dan menyesal setengah mati setelah
 melakukan sesuatu? Saya cukup sering mengalaminya. Seringkali rasa
 sesal itu begitu kuat mencengkeram saya sehingga sepanjang hari saya
 tidak bisa melakukan hal lain. Saya malu dan marah pada diri sendiri
 dan biasanya tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Bahkan, pernah
 berpikir ingin lenyap dari dunia ini.


 Saya pikir, itulah yang juga dirasakan Yudas setelah menjual Yesus
 (ayat 3). Menyesal. Akan tetapi, rupanya menyesal (Yunani:
 metamellomai) tidak menjamin adanya pertobatan. Tenggelam dalam
 penyesalannya, Yudas pergi menggantung diri (ayat 5). Mungkin ia
 terlalu malu untuk kembali dan mengakui kesalahannya kepada
 murid-murid yang lain. Ia kehilangan kesempatan menerima pengampunan
 Tuhan. Kontras dengan Petrus yang menangisi dosanya, tetapi kemudian
 kembali mengikut Tuhan (lihat pasal 26:75, Yohanes 21). Dalam bagian
 Alkitab yang lain dukacita Yudas disebut sebagai dukacita dari dunia
 (lihat 2 Korintus 7:10). Pusatnya adalah diri sendiri. Sementara,
 dukacita yang menurut kehendak Allah "menghasilkan pertobatan". Kata
 pertobatan dalam bahasa Yunani adalah metanoia, yang artinya berubah
 pikiran atau berbalik dari dosa.


 Sungguh baik jika kita menyadari kesalahan kita dan menyesal. Namun,
 jangan biarkan penyesalan membuat kita tidak bisa melanjutkan hidup
 seperti Yudas. Datanglah kepada Tuhan da-lam pengakuan yang jujur.
 Carilah rekan yang dewasa rohani untuk mendampingi dalam proses
 tersebut. Metanoia. Tinggalkanlah dosa dan mulailah babak baru
 bersama Tuhan. --ELS

                    MENYESAL SAJA MEMBAWA DUKA.
              MENYESAL DAN BERUBAH MEMBAWA KEMENANGAN.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar