Kamis, 05 Januari 2012

Tergiur Rupiah, 6 ABG Jadi Korban Trafficking

Korban dijanjikan pekerjaan sebagai babysitter dengan gaji besar dan fasilitas lainnya.


Ita Lismawati F. Malau
Dua wanita korban trafficking (Antara/ Jessica Wuysang)

 Enam ABG asal Kota Sukabumi jadi korban perdagangan manusia atau trafficking. Di antara mereka bahkan ada yang masih tercatat sebagai siswi sekolah menengah pertama.

Keenam gadis muda itu adalah YS (15), DS (16), MT (16), WW (17), IR (17) dan SN (16). Mereka berasal dari satu wilayah yaitu kampung Cimahai, Kecamatan Cisaat, Sukabumi. Para korban tergiur rayuan para pelaku ST (21) dan SS (25) yang menjanjikan uang dan kemewahan.

Para pelaku kemudian menjual para ABG ini ke Sorong, Papua Barat dan dipekerjakan di tempat hiburan. Bagaimana modus para pelaku?

Para pelaku merayu korban dan orangtua. Modus pertama, SS merayu YS, MT dan DS dengan iming-iming pekerjaan sebagai babysitterdi Bogor dengan gaji Rp3 juta. Selain itu, pelaku menawarkan fasilitas berupa telepon genggam.

Akibat bujuk rayunya, tiga remaja putri ini nekat kabur dari rumah dengan berbagai alasan. Seperti dikatakan Noneng ibunda YS yang masih berstatus pelajar kelas 2 SMP di Sukabumi. Sang anak mengaku menginap di rumah salah satu kerabat. "Setelah tiga hari, saya hubungi, ternyata dia tidak pernah ke rumah uwaknya. Saya panik dan cari ke sana sini. Anak perawan saya hilang,” kata Noneng kepada VIVAnews.com, Kamis 5 Januari 2012.

Modus kedua, tersangka SS melakukan pendekatan kepada orangtua WW, IR, dan SN. SS menawarkan pekerjaan dengan gaji besar sebagai pegawai restoran dan babysitter di kawasan Jakarta dan Bogor.

Seperti diungkapkan Dedi (40) orang tua SN. Tersangka SS datang ke kediamannya untuk menawarkan pekerjaan bagi anaknya. “Dia katanya mau ngasih kerja anak saya jadibabysitter di Bogor dengan gaji gede. Tahunya anak saya di jual ke tempat hiburan di Papua. Saya tidak terima."

Keenam gadis ini berhasil melarikan diri atas bantuan seseorang yang datang ke tempat hiburan di Sorong, Papua. Orang itu membelikan tiket pada WW. Dengan bekal tiket itu WW bisa melarikan diri hingga bisa pulang. Dari kabar WW inilah kepolisian menelusuri dan berhasil memulangkan lima rekan WW lainnya.

Trafficking memang kasus yang perlu mendapatkan perlakuan khusus. Kami sedang berkoordinasi dengan Polda Jabar untuk meneruskan ke Polda Papua. Kasus ini lintas wilayah sehingga kita tidak bisa menangani langsung,” tegas AKBP Witnu Urip Laksana.

Polresta Sukabumi fokus mengembangkan pengusutan jaringan perdagangan manusia di wilayah Sukabumi. Diperkirakan kedua tersangka SS dan ST yang kini buron masih berada di kawasan Sukabumi.

Laporan: Eka Permadhi | Sukabumi, eh
• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar