Rabu, 15 Februari 2012

Berahi Putih Abu-abu

Cinta pertama itu sangat menantang
Try…
if  u dare…
***
“Ara!!! Cepetan entar telat pergi sekolah lho…” Pekik Mamaku sayang dari luar pintu kamar mandi.
“Iya, Ma…” Jawabku dan hampir saja menelan sikat gigi yang sedang kupakai. “Uh, si Mama…” Omelku sambil melanjutkan sikat gigiku.
Pagi itu adalah pagi yang sangat gempar. Mamaku, Papaku dan adikku, kubuat repot semua karena hari itu adalah hari pertamaku untuk memakai seragam putih abu-abu.
“Papa!!! Kaus kaki polkadotku kemana…” Jeritku dari kamar.
“Tika!!! Jepitan rambutku yang kamu pakek kemana???” Jeritku lagi.
“Mama…!!! Sarapanku mana, nih? Duh, udah telat lagi…” Kataku sambil manyun duduk di meja makan.
Huft… Jam 6.45 AM… Aku pun berjalan meninggalkan rumah dan kemudian memasuki sebuah bajaj dan melambai-lambaikan tanganku dari dalam bajaj pada keluargaku yang berjejer rapih di taman depan rumahku.
“SMA Kasih Ibu, Pak…” Kataku sama si supir bajaj.
“Oke, non. Eh, masuk SMA itu? Wah, keren…” Puji si tukang bajaj.
“Iya, dong… Jawabku bangga…”
***
Tarraaa!!! Sekarang aku SMA dan aku sangat senang sekali. Memakai putih abu-abu menjadi kebanggaan sendiri bagiku. Kutelusuri sekolah baruku yang mewah yang ternyata bisa kutembus karena memang otakku encer. Hei! Ini sekolah favorite banget, tauuu… Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah artikel yang terpampang di mading berjudul, “62 % Pelaku Aborsi adalah Pelajar”
Edannn…” Pekikku sambil menutupi mulutku yang menganga karena terkejut. Huft, baru masuk sekolah langsung disuguhi bacaan seperti itu. Aku segera berlalu lalu mencari kelas baruku yang mana.
Tapi…
Bruuukkk!!! Aku menabrak tubuh seseorang dan aku pun terjatuh ke lantai. Aku meringis kesakitan dan mengangkat wajahku ingin tahu siapa yang menubruk aku. Tapi belum sempat aku memaki-makinya, aku terhenti saat melihat wajah nan tampan sedang tersenyum menatap aku.
“Maaf… Kamu ga kenapa-napa?” Tanyanya lembut.
“Eh, enggak… enggak…” Jawabku bohong. Tangannya yang kekar menolong aku berdiri dengan lembut.
“Nama kamu siapa?” Tanyanya.
“Tiara…” Jawabku. “Panggilannya Ara…”
“Ara… Oh, aku Donie…” Dia menjabat tanganku erat. “Maaf, yah.”
Dan dunia makin begitu indah begitu aku tahu dia menjadi teman satu kelasku. Walau tidak sebangku namun aku duduk di bangku yang setidaknya bisa memandang sudut indahnya dengan jelas. Oh…
***
Hei, kalian tahu cinta pertama itu? Maksudku, aku belum pernah merasakannya. Baik itu saat aku masih memakai rok biru tua yang menyebalkan. Aku belum pernah pacaran dan itu sangat menyiksa, secara aku ini anak yang selalu ingin tahu, lebih dan lebih.
Sudah empat bulan lamanya aku memakai seragam putih abu-abu. Dan akhirnya ada juga yang menyatakan cintanya padaku. Oh, my God! Rasanya seperti cokelat. Manis sekali.
“Ara… Aku suka sama kamu…”
Dia bilang begitu, dan kau tahu? Yang omong seperti itu adalah Donie. Cowok keren yang tubrukan sama aku di hari pertamaku pergi ke sekolah. Dan akhirnya kami berpacaran. Ahay! Baru kali aku merasakan dibonceng sama orang yang kita cintai. Biasanya juga sama bajaj doang. Hiks… Menyedihkan.
“Pokoknya pacaran harus jaga diri…” Omel Mama suatu ketika.
“Maksudnya, Ma? Duduk aja gitu?” Tanyaku bodoh.
“Engga… Jaga diri dari kelakuan maksiat.”
“What!!!” Aku terkejut mendengar perkataan Mama waktu itu.
***
Inilah maka kusebut bahwa cinta pertama itu adalah menantang. Jika kamu hebat maka kamu akan menang dari sesuatu yang terlalu menantang itu. Tetapi ternyata aku kalah. Karena aku adalah orang yang selalu ingin tahu.
“Kalian kompak banget. Udah jadi kayak suami istri aja.” Sindir sahabatku Mira.
“Biarin…” Jawabku dengan penuh emosi.
Cara berpacaranku dengan Donnie memang terlalu intim. Sampai-sampai satu kelas mengejek kami, suami-istri. Kemana-mana selalu sama, pergi ke kantin, pergi ke pesta ulangtahun teman, pergi ke toko buku dan bla bla bla.
Sampai suatu ketika sesuatu yang tak bisa aku sesali lagi terjadi. Habisnya, aku dipaksa tapi aku juga mau…
“Buktikan cinta kamu sama aku! Kalau kamu cinta sama aku maka kamunya itu harusnya rela mengorbankan jiwa raga kamu ke aku…” Katanya menantangku.
“Apa?”
“Apa kamu cinta aku?”
“Iya… Iya…”
Akhirnya terjadilah sesuatu yang belum pantas dilakukan oleh manusia yang manusia berseragam putih abu-abu seperti kami berdua.
***
“Donn… Aku hamil…” Tangisku suatu ketika.
“Apa?” Donni terkejut dan itu aku katakan saat kami berada di kamar kostnya sedang melakukan hubungan suami istri. Dia berdiri lalu memakai lagi seragamnya, sementara aku menangis.
“Gugurin saja…” Kata Donnie.
“Aku takut…” Jawabku pelan.
“Jadi mau bagaimana lagi? Masa biarin lahir gitu aja? Aku masih sekolah, kamu juga. Masa depan kita hancur…” Katanya penuh emosi.
Lama aku menimang-nimang segalanya namun aku masih ragu. Aborsi??? Itu menyakitkan bukan? Akhirnya entah dari mana jalannya Donnie mengantar aku pada seorang bidan yang membuka praktek illegal.
“Rasanya gimana, Bu?” Tanyaku pelan.
“Sakit sekali…”
“Efeknya…”
“Banyak, nak. Kamu harus berfikir ulang melakukannya. Nanti kamu menyesal. Pendarahan, infeksi bahkan kanker payudara. Apa kamu mau? Ibu memang bisa saja melakukan itu sama kamu. Tapi ibu harap kamu fikirkan matang-matang.”
Ngilu sekali saat membayangkan aborsi itu bagaimana. Namun apa mau dikata ini harus kulakukan. Aku tidak boleh membiarkan orangtuaku menangisi masa depanku yang tidak cemerlang.
“Biayanya?”
“Tujuh juta…” Jawab Bu bidan singkat.
“APA???” Aku dan Donnie membelalakkan mata dan mana mungkinlah kami punya uang sebanyak itu. Ternyata biaya aborsi mahal sekali. Hiks…
Kami pun pulang dari tempat praktek illegal itu dengan kegalauan di hati. Jika didiamkan makin lama tentu akan menjadi bumerang bagi kami berdua. Semangat belajar kami turun drastis dan bahkan kami sering bolos sekolah hanya karena sibuk memikirkan bagaimana caranya mengumpulkan uang untuk aborsi.
“Ra, aku udah jual handphone blackberry-ku…” Kata Donnie sambil menunduk dan menunjukkan uang hasil penjualan blackberrynya.
“Maafin aku yah Mas…” Kataku.
“Ga apa-apa… Tapi uang ini belum cukup.”
“Ya, udah… Aku jual netbook-ku, Mas… Nanti kalo ditanya Papa aku bilang aja hilang.”
Ternyata uang hasil penjualan keduanya tidak cukup. Kau tahu jalan terakhirnya apa? Akhirnya aku pergi untuk mencari oom-oom untuk meniduri aku. Pedih rasanya, namun ini harus kulakukan kalau tidak mungkin aku akan melahirkana anak yang nantinya akan menghancurkan masa depanku.
“Mas… Hiks… Aku tidur sama Oom-oom… Aku ga rela sebenarnya, tapi… Hiks…”
“Mau gimana lagi…” Donnie menunduk.
Akhirnya kami kembali lagi ke tempat praktek aborsi illegal itu dan menggugurkan si bayi mungil. Aku menyesal sungguh menyesal. Anak bayi yang ingin hidup aku bunuh seketika. Tuhan, maafkan aku… Tangisku dalam malam yang beku.
***
Cinta pertama bodoh. Setelah aborsi, aku dan Donnie masih melakukannya walau sekarang kami tau cara mencegahnya. Stok pil KB selalu ada di dalam tasku, stok kondom juga selalu ada di dalam tas Donnie. Aku sangat kotor. Dan aku bukan perempuan yang baik.
Jelang tamat SMA, Donnie menghilang begitu saja. SMS dan Teleponku tak digubris, aku menangis sejadinya. Selalu kutanyakan pada teman-temanku dimana keberadaannya tetapi tak ada yang mengetahui. Sama sekali. Bahkan pertemanan di akun-akun jejaring sosialnya, aku dihapus. Dia pergi begitu saja, cinta pertamaku menguap begitu saja. Setelah dia bosan menyedot kemanisan yang ada padaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar